
Kebersamaan dan Kepedulian Lingkungan: Kisah Komunitas Wau dan Weyaf Membangun Kandang Relokasi Penyu
Penulis
Michael Tuhuteru
Tanggal
03 Juni 2024
Di Kampung Wau dan Weyaf, komunitas Gereja Katolik penuh semangat dan kebersamaan, berupaya mengumpulkan dana untuk kegiatan Natal di Gereja Katolik St. Agustinus Wau. Mereka mengajukan kepada Program Sains untuk Konservasi LPPM UNIPA terutama untuk kru monitoring penyu di Pantai Jeen Syuab untuk membangun kandang relokasi penyu di lokasi tersebut. Mereka berharap dapat dana yang terkumpul dari pembuatan kandang relokasi tersebut dapat menjadi pemasukan untuk kegiatan Natal di gereja mereka.
Pantai Jeen Syuab dengan pasir hitam yang panjang merupakan tempat ideal bagi penyu untuk bertelur. Namun pantai ini tidak lepas dari berbagai ancaman seperti invasi akar Ipomoea sp., suhu pasir tinggi, predasi, abrasi pantai, dan genangan air pasang. Pemindahan sarang ke kandang relokasi merupakan strategi yang diterapkan tim LPPM UNIPA untuk melindungi dari ancaman tersebut. Menyadari hal ini, masyarakat Katolik di Wau dan Weyaf berinisiatif untuk membantu mendirikan kandang relokasi sebagai bagian dari usaha konservasi yang juga bisa memberikan pemasukan untuk kas gereja mereka.
Pekerjaan pembangunan kandang dimulai dengan semangat yang membara. Hari yang dijadwalkan pun tiba, warga dari berbagai kalangan usia berkumpul di pantai, total kurang lebih ada sekitar belasan orang. Mereka membawa bahan-bahan yang diperlukan, seperti bambu, daun kelapa, alat-alat pertukangan dan bahan makanan. Setiap orang memiliki peran masing-masing: kaum pria dan pemuda bertugas menggali lubang dan memasang tiang-tiang kayu, sementara para wanita menyiapkan makanan dan minuman untuk para pekerja.
Pengiriman bahan pembuatan kandang menggunakan perahu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)
Pembuatan tenda untuk masyarakat yang tinggal di pantai peneluran Wermon
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)
Pada hari pertama, suasana penuh dengan semangat gotong royong. Masyarakat bahu membahu untuk membersihkan lokasi kandang relokasi; disitu banyak sekali tanaman patatas pantai (Ipomoea sp.) yang tumbuh sebagai hama. Masyarakat memotong, membabat dan mencangkul area sekitar itu agar bersih dari tanaman tersebut. Setelah itu dilakukan penggalian pasir di area tersebut agar tanah tersebut betul-betul bersih dari akar tanaman patatas pantai yang masih merayap ke dalam pasir. Cuaca yang sangat panas dan terik tidak membuat surut semangat masyarakat yang bekerja.
Hari kedua, konstruksi mulai menunjukkan hasil yang signifikan. Area kandang yang sudah bersih dari tanaman hama akan dipasang kayu sebagai tiang bangunan. Masyarakat membagi tugas, ada yang pergi ambil kayu di hutan untuk dijadikan tiang penyangga kandang relokasi, ada juga yang mengukur dan mematok untuk menancapkan tiang tersebut.
Pembersihan petatas pantai untuk nantinya dibangun kandang relokasi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)
Pemasangan patok untuk nantinya ditancapkan tiang kandang relokasi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)
Setelah tiang berdiri, mereka membuat atap dan menggunakan jaring paranet, daun kelapa dan pakis agar suhu pasir di kandang menjadi lebih teduh untuk menaruh telur-telur penyu. Seluruh proses dilakukan dengan penuh kehati-hatian untuk memastikan keamanan telur penyu yang akan direlokasi ke kandang tersebut. Ketika pekerjaan hampir selesai, anak-anak kampung dengan riang gembira membantu membersihkan sisa-sisa material dan merapikan area sekitar kandang.
Setelah dua hari yang penuh kerja keras, kandang relokasi penyu di Pantai Jeen Syuab akhirnya berdiri kokoh. Terpancar kegembiraan karena pekerjaan tersebut telah selesai dengan baik. Selain itu juga masyarakat kampung juga sempat melakukan proses pelepasan tukik ke laut pada sore hari saat sunset tenggelam di ufuk barat.
Tancap tiang kandang relokasi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)
Kandang relokasi yang dibuat oleh masyarakat selesai didirikan
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)
Dana yang diperoleh dari proyek konservasi ini sangat berarti bagi masyarakat Wau dan Weyaf terutama bagi Masyarakat Katolik di kampung tersebut. Uang yang terkumpul akan digunakan untuk mempersiapkan acara Natal di gereja Katolik.
Kisah masyarakat Katolik di Wau dan Weyaf ini mencerminkan sinergi antara upaya pelestarian lingkungan dan penggalangan dana komunitas. Dengan membangun kandang relokasi penyu, mereka tidak hanya berkontribusi pada kelestarian ekosistem penyu di Pantai Jeen Syuab, tetapi juga memperkuat ikatan sosial di kampung mereka. Di balik setiap tiang kayu, bambu dan jaring yang terpasang, tersembunyi cerita tentang ketekunan, kebersamaan, dan harapan akan masa depan yang lebih baik.
Bagikan Tulisan
Berita Terkait
Video Kami
Kategori Lainnya
Berita Lainnya
