Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut

Cerita lapangan dari para pendamping kampung dan pelindung penyu di Kepala Burung Papua

Cerita Perjalanan Lapang: Menuju Tambrauw untuk Pelatihan Amigurumi

Penulis

Kartika Zohar

Tanggal

07 April 2026

Dalam seri “Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut”, kami mengajak pembaca menyelami kisah nyata orang-orang yang hidup berdampingan dengan penyu dan laut. Melalui suara mereka, kita belajar mencintai dan menjaga laut bersama.

Setiap perjalanan ke kampung selalu menyimpan cerita yang tidak biasa. Pada bagian pertama ini, kisah dimulai dari perjalanan panjang dengan Kapal Sabuk Nusantara 112, menuju Wau dan Weyaf, sambil membawa satu misi khusus: pelatihan pembuatan amigurumi penyu.

Perjalanan ke kampung dengan Kapal Sabuk Nusantara 112 kali ini terasa lebih panjang dari biasanya. Kami memulai perjalanan monitoring dan Evaluasi (Monev) Program pada Rabu, 11 Maret 2026. Kapal Sabuk Nusantara 112 melepas tali dari pelabuhan Manokwari tepat pukul 21.30 WIT menuju pemberhentian pertama, Distrik Saukorem. Seluruh tim berjumlah 8 orang yang terbagi ke dalam dua tim, yaitu tim Saukorem dan tim Wau-Weyaf. Setelah terlelap semalaman, seluruh tim bangun keesokan paginya. Gelombang yang parah membuat kami harus menyesuaikan diri dengan goyangan kapal yang cukup kuat.

Proses penurunan barang dari kapal ke perahu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Kartika Zohar)

Kondisi cuaca di lapangan
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Kristina Rahail)

Kapal masuk ke Saukorem pada pukul 08.00 WIT, terlambat 2 jam dari jadwal biasa. Dua orang anggota tim kami turun di lokasi ini. Saya masih harus melanjutkan perjalanan sekitar 8–9 jam lagi menuju Kampung Wau dan Weyaf. Di perjalanan ini, kami juga membawa misi khusus: melakukan Pelatihan Pembuatan Amigurumi, sebuah seni merajut asal Jepang untuk membuat boneka kecil yang lucu. Pada pelatihan kali ini, kami fokus pada bentuk penyu.

Saya bersama tim yang akan turun di lokasi Wau-Weyaf tiba pukul 17.30 WIT. Jumlah kami 4 orang: Maria yang akan melatih amigurumi, Thomas dari PMNH yang baru kembali setelah sakit malaria, lalu Miju dan saya dari tim monev. Kami bersiap untuk turun. Barang-barang telah diangkut dan dipindahkan dekat tangga kapal.

Seperti biasa, ada aturan tidak tertulis yang harus diikuti: penumpang yang akan naik ke kapal dilayani terlebih dahulu,  kemudian barang-barang diturunkan ke perahu. Lama atau cepatnya proses ini bergantung pada gelombang. Kami harus ekstra berhati-hati karena tangga kapal terbuat dari besi. Terjepit di antara tangga dan perahu bukanlah hal yang menyenangkan. Di sinilah seninya ketika para pengemudi perahu motor akan mematikan mesin perahu, mengikuti gelombang laut, lalu mendorong perahu menjauhi tangga kapal menggunakan tongkat kayu panjang. Mereka mengontrol jarak, dan penumpang turun perlahan, saling menolong.

Foto tim saat di kapal
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Heny Lilitnuhu)

Proses membuat Amigurumi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Saya melirik jam digital di pergelangan tangan, waktu menunjukkan pukul 18.40 WIT. Hari sudah cukup gelap. Kami menjadi penumpang pertama yang dipersilakan turun. Para penumpang lain, yang sebagian besar masyarakat lokal, memberikan kesempatan pertama kepada kami karena salah satu anggota tim mabuk laut cukup parah.

Maria, Thomas, Miju, dan saya berhasil turun dengan selamat di pantai Kampung Weyaf. Ottow telah menunggu di tepi pantai dengan gerobak untuk memuat barang-barang kami. Meskipun hari sudah gelap, saya menyempatkan diri bersalaman dengan beberapa warga yang juga menunggu di tepi pantai. Mereka membantu kami turun dari perahu, mengangkat barang-barang, dan meletakkannya di atas pasir yang kering. Mereka menyambut saya dan tim dengan hangat.

Kami tiba di rumah belajar diiringi rintik hujan. Senang sekali bertemu dengan Titin dan Ottow, dua orang PMNH yang bertugas di lokasi Wau-Weyaf, dalam keadaan sehat. Mereka sedang membuat lemet — kue dari singkong parut, campuran kelapa parut, gula pasir, dan gula merah — yang akan menjadi camilan untuk pelatihan amigurumi besok pagi.

Perjalanan yang panjang akhirnya membawa tim tiba di lokasi dengan selamat. Namun, cerita belum berhenti di sana, karena bagian berikutnya akan memperlihatkan bagaimana para ibu dan remaja perempuan mulai belajar merajut dari tahap paling awal. Klik disini (TBA) untuk melihat bagaimana pelatihan amigurumi penyu dimulai, dari magic ring hingga semangat belajar yang tidak mudah padam.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya