Categories
Belum Publish

Sharing is Caring: Ketika Cerita Raja Ampat berlayar ke Wau-Weyaf

Sharing is Caring: Ketika Cerita Raja Ampat Berlayar ke Wau-Weyaf

Penulis

Kartika Zohar

Tanggal

21 Agustus 2026

Pagi itu, Kamis, 6 Agustus 2026, Balai Kampung Wau menjadi tempat masyarakat Kampung Wau dan Weyaf berkumpul bersama Program Sains untuk Konservasi (S4C) LPPM Universitas Papua. Melalui kisah yang dibagikan, mereka diajak sejenak “berkunjung” ke Raja Ampat, salah satu ikon konservasi laut dunia.

Kegiatan bertajuk “Sharing is Caring: Berbagi Cerita Konservasi dari Raja Ampat dan Pelatihan Ecoprint” ini digelar sebagai bagian dari program Penguatan Konservasi Penyu dan Terumbu Karang Berbasis Masyarakat di Bentang Laut Kepala Burung. Tujuannya sederhana namun mendalam, yaitu menghubungkan pengalaman keberhasilan konservasi di satu ujung Kepala Burung dengan semangat menjaga alam di ujung yang lain. 

Pelatihan ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan yang didukung oleh Program TFCCA. Program TFCCA (Tropical Forest and Coral Reefs Conservation Act) merupakan program kerja sama bilateral antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Amerika Serikat yang didukung oleh Konservasi Indonesia (KI) serta Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) dalam upaya konservasi ekosistem terumbu karang guna mendukung kesejahteraan masyarakat. 

Belajar dari Konservasi di Raja Ampat, untuk Wau dan Weyaf

Raja Ampat telah lama dikenal sebagai jantung keanekaragaman hayati laut dunia. Di balik terumbu karang yang memukau, ada kisah masyarakat adat yang menjaga laut mereka lewat tradisi turun-temurun, dan perempuan-perempuan yang membuktikan bahwa pengelolaan sumber daya alam secara adat bisa berjalan beriringan dengan kesejahteraan ekonomi.

Kisah-kisah itulah yang dibawa ke Kampung Weyaf dan Kampung Wau melalui sesi berbagi cerita bersama Ibu Meity Mongdong, pemerhati konservasi lingkungan dan kelautan di Bentang Laut Kepala Burung Papua. Ia membuka cerita dengan mengingatkan bahwa apa yang terjadi di Raja Ampat sesungguhnya “sama dengan di Tambrauw”, seperti hutan yang masih utuh, laut yang masih kaya, tetapi juga menghadapi ancaman yang serupa: pembukaan lahan, penebangan liar, hingga tekanan terhadap sumber daya pesisir.

Ibu Meity berbagi cerita konservasi dari Raja Ampat
(Foto : S4C_LPMPP UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Ibu Meity berbagi cerita konservasi dari Raja Ampat
(Foto : S4C_LPMPP UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Ibu Meity membawa anggota masyarakat yang hadir untuk menelusuri perjalanan panjang Raja Ampat sejak kawasan konservasi pertama dibentuk pada 2007, awalnya untuk melindungi sumber daya ikan masyarakat, yang kemudian membawa “bonus” berupa pariwisata berkelanjutan. Ia menekankan pentingnya monitoring dan peningkatan kapasitas masyarakat secara terus-menerus. Dengan cara yang sederhana, ia juga menjelaskan mengapa ikan besar begitu berharga: satu ekor ikan berukuran 36 cm memberi kontribusi bibit yang setara dengan 20 ekor ikan berukuran 18 cm. Karena itu, induk-induk besar merupakan aset penting bagi pemulihan stok ikan, bukan target tangkapan.

Ia juga membagikan hasil nyata dari penguatan penegakan hukum dan kepatuhan di Raja Ampat. Patroli gabungan yang melibatkan Badan Layanan Umum Daerah Unit Pelaksana Teknis Daerah (BLUD UPTD) Pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan (KKP) Kepulauan Raja Ampat, masyarakat, dan kepolisian dilakukan sedikitnya 10 kali setiap bulan dan telah berkontribusi pada penurunan praktik overfishing hingga 90%. Tingkat kepatuhan di kawasan konservasi perairan pun mencapai 89,9%, sementara nelayan lokal kini menyumbang 85% dari total tangkapan di wilayah mereka sendiri.

Raja Ampat menunjukkan bagaimana kekayaan alam yang terjaga dapat menjadi daya tarik wisata sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Pengalaman tersebut menjadi pembelajaran penting bagi Tambrauw, yang memiliki potensi serupa untuk dikembangkan secara berkelanjutan.

Di Tambrauw, potensi tersebut antara lain mencakup wisata burung dengan kekayaan spesies seperti cenderawasih, maleo, kakatua, julang, dan kasuari; wisata budaya yang menawarkan kekayaan sejarah, tradisi, dan kehidupan masyarakat; serta wisata berbasis konservasi penyu dan ekosistem pesisir. Namun, Ibu Meity juga mengingatkan bahwa seluruh potensi tersebut hanya dapat berkembang jika ekosistem tetap sehat dan masyarakat siap mengambil peran.

Perburuan liar, pembalakan, pemboman ikan, dan penggunaan racun sianida masih menjadi ancaman yang perlu dihentikan. Karena itu, pengembangan pariwisata di Tambrauw perlu berjalan seiring dengan penguatan konservasi dan penegakan hukum, sekaligus peningkatan kapasitas masyarakat agar dapat berperan sebagai pemandu, pelaku usaha, dan pengelola wisata di wilayahnya sendiri. Ibu Meity berpesan bahwa konservasi dan pariwisata di Tambrauw perlu berjalan bersamaan, ketika menjaga alam itu sekaligus membuka peluang ekonomi.

Diskusi tentang potensi alam di Kampung Wau dan Weyaf
(Foto : S4C_LPMPP UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Sesi diskusi bersama Ibu Meity
(Foto : S4C_LPMPP UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Sesi ini ditutup dengan diskusi hangat bersama warga Wau dan Weyaf, yang sehari-hari hidup berdampingan dengan habitat peneluran penyu. Pengalaman Raja Ampat menjadi cermin bahwa aturan dan penegakan hukum itu penting, tapi keterlibatan aktif masyarakat yang hidup paling dekat dengan alam yang membuatnya bertahan. Bagi Wau dan Weyaf, pesan ini menjadi penting: konservasi akan lebih berkelanjutan ketika masyarakat menjadi bagian dari penjaga sekaligus penerima manfaat dari kekayaan alam di kampung mereka sendiri.

Pelatihan Ecoprint

Setelah cerita, giliran tangan yang bekerja. Bersama fasilitator, Ibu Bertha Matatar, warga diperkenalkan pada ecoprint – dari kata “eco” (alam/ekosistem) dan “print” (mencetak). Ecoprint merupakan teknik mewarnai dan membuat motif pada kain menggunakan bahan-bahan alami di sekitar kita. Prosesnya mirip dengan pembuatan batik, tetapi sepenuhnya memanfaatkan unsur alam, seperti dedaunan, bunga, batang, bahkan ranting, tanpa bahan sintetis atau kimia yang dapat merusak lingkungan.

Ibu Bertha mengenalkan beberapa teknik dasar ecoprint. Dalam pelatihan di Wau-Weyaf, ia secara khusus mengajarkan teknik blanket, yaitu teknik mencetak motif menggunakan dua lembar kain sekaligus. Satu lembar digunakan sebagai kain utama, sedangkan lembar lainnya menjadi “kain blanket” atau kain selimut yang membantu menjaga tekanan warna selama proses pemasakan.

Tahapan yang dipraktikkan warga cukup panjang dan membutuhkan ketelitian. Bahan pewarna yang dipakai bermacam-macam sesuai apa yang tersedia di sekitar kampung,  mulai dari daun mangrove yang menghasilkan corak hijau-kehitaman, daun jati dan daun mangga yang memberi corak kuning-oranye, hingga daun “lanang” untuk sentuhan warna lain. Setiap lembar kain yang dihasilkan pun unik, tidak ada satu motif yang benar-benar sama dengan yang lain, karena bentuk dan susunan daun setiap orang berbeda.

Proses penyusunan daun untuk pola
(Foto : S4C_LPMPP UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Proses penyusunan daun untuk pola
(Foto : S4C_LPMPP UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Ibu Bertha juga menunjukkan bahwa ecoprint bukan sekadar kerajinan tangan biasa. Hasilnya dapat dikembangkan menjadi berbagai produk bernilai jual, seperti tas, dompet, sepatu, syal, hingga sarung botol minum. Kerajinan ini membuka potensi ekonomi kreatif yang dapat terus dikembangkan oleh masyarakat Wau-Weyaf ke depannya.

Dalam paparan Ibu Meity, ecoprint disebut sebagai salah satu contoh nyata ‘ekonomi lainnya dari pariwisata’ yang telah tumbuh di Raja Ampat, berdampingan dengan produk berbasis alam lain seperti VCO (Virgin Coconut Oil ), minyak pijat, dan abon ikan. Ini menjadi pengingat sederhana bahwa alam di sekitar kampung jika dijaga bisa jadi sumber penghidupan jangka panjang.

Di penghujung kegiatan, ibu-ibu berfoto bersama hasil karya ecoprint yang mereka buat selama pelatihan. Kain-kain dengan corak daun jati, bunga, daun ubi, dan daun mangga yang tumbuh di pesisir Wau-Weyaf menjadi bukti kreativitas warga setelah melalui rangkaian proses mulai dari mordanting, penyusunan motif, pengukusan, hingga fiksasi yang dilakukan selama beberapa hari. Di sela-sela itu, muncul diskusi kecil tentang potensi pengembangan produk ke depan, mulai dari taplak meja hingga pembuatan seragam ibu-ibu PW (Persekutuan Wanita), sekaligus menjadi ruang evaluasi untuk memperbaiki kegiatan serupa di masa mendatang.

Tahapan mordanting (perendaman dengan tawas)
(Foto : S4C_LPMPP UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Hasil ecoprint
(Foto : S4C_LPMPP UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Ibu Dorlince Bame, salah satu peserta menyampaikan bahwa akan mencoba mengulangi teknik ecoprint dengan menggunakan daun lain yang ada di sekitar rumahnya. Bagi S4C LPPM UNIPA sendiri, kegiatan ini menjadi pijakan awal sebelum program pendampingan lanjutan dilakukan.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Categories
Belum Publish

Menyapa Novel: Kisah Tenaga Lokal Menjaga Penyu di Jeen Womom

Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut

Cerita lapangan dari para pendamping kampung dan pelindung penyu di Kepala Burung Papua

Menyapa Novel: Kisah Tenaga Lokal Menjaga Penyu di Taman Pesisir Jeen Womom​

Dalam seri “Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut”, kami mengajak pembaca menyelami kisah nyata orang-orang yang hidup berdampingan dengan penyu dan laut. Melalui suara mereka, kita belajar mencintai dan menjaga laut bersama.

Penulis

Liana Mongdong

Tanggal

11 Agustus 2026

Di balik upaya menjaga penyu di Taman Pesisir (TP) Jeen Womom, ada orang-orang lokal yang ikut melindungi penyu. Salah satunya adalah Novelius Benjamin Yesnath, atau yang akrab dipanggil Novel, merupakan tenaga lokal pemindahan sarang penyu asal Kampung Resye yang bekerja di Pantai Batu Rumah, Jeen Yessa. Tenaga lokal adalah istilah yang kami gunakan untuk masyarakat lokal di sekitar pantai peneluran penyu yang tergabung dalam tim pemantauan penyu dan perlindungan sarang. Keterlibatan Novel dalam kegiatan perlindungan penyu masih terbilang baru. Namun, sebelum resmi bergabung, ia sudah belajar terlebih dahulu dari tenaga lokal lain yang berpengalaman memindahkan sarang penyu di TP Jeen Womom.

Meskipun Novel berasal dari kampung yang dekat dengan tempat penyu bertelur, pengalaman pertamanya memindahkan telur penyu tetap diwarnai rasa takut.

“Pertama kali angkat telur penyu itu, takut kalau telurnya pecah,” kenangnya.

Kaka Novel sedang memindahkan telur penyu ke kandang relokasi1

Novel sedang memindahkan telur penyu ke kandang relokasi.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Loise Liberta Loar)

Kaka Novel sedang memindahkan telur penyu ke kandang relokasi2

Novel sedang memindahkan telur penyu ke kandang relokasi.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Loise Liberta Loar)

Seiring berjalannya waktu, rasa takut itu perlahan berubah menjadi keberanian. Novel mulai terbiasa mengangkat dan memindahkan telur dengan lebih hati-hati. Ia menyadari bahwa pekerjaan ini bukan sekadar memindahkan telur dari satu tempat ke tempat lain, tetapi juga merupakan bagian penting untuk memastikan telur tetap aman hingga menetas.

Dalam proses belajar, ada satu tahap yang menurut Novel cukup sulit, yaitu ketika ia harus belajar “menusuk sarang” untuk menemukan posisi telur. Pada tahap ini, ia masih membutuhkan arahan dari tenaga lokal yang lebih terampil.

Menusuk sarang adalah istilah yang kami gunakan ketika tenaga lokal mencari posisi telur penyu. Karena pantai yang cukup panjang, terkadang tenaga perlindungan sarang penyu tidak sempat melihat penyu bertelur sehingga tempat penyu meletakkan telurnya tidak ditandai. Meskipun jejak penyu dapat membantu petugas mengidentifikasi lokasi sarang tempat penyu bertelur, hal ini bukan berarti mudah bagi tenaga perlindungan sarang untuk menemukannya, karena penyu biasanya juga membuat sarang yang terkamuflase dan sulit dibedakan dari sarang aslinya. Untuk membedakan sarang kamuflase dan sarang asli, beberapa masyarakat lokal di pesisir Tambrauw yang terlatih memiliki kearifan lokal untuk “menusuk sarang”. Mereka menusuk bukan dengan benda tajam, dan mereka mampu melakukannya tanpa membuat telur ikut tertusuk.

“Kalau rasa susah itu waktu belajar mencoba menusuk sarang. Waktu itu saya masih perlu arahan dari tenaga yang sudah lebih lihai,” ceritanya.

Bagi seseorang yang baru belajar menusuk sarang, pekerjaan tersebut membutuhkan ketelitian dan keberanian. Setiap gerakan harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak membahayakan telur yang berada di dalam sarang. Karena itu, belajar dari mereka yang lebih berpengalaman menjadi bagian penting dari proses tersebut.

Kini, setelah beberapa kali mencoba, rasa takut itu mulai berganti menjadi kepercayaan diri. Novel perlahan memahami cara memperlakukan telur penyu dengan lebih hati-hati. Namun, semakin ia belajar, semakin ia menyadari bahwa menjaga sarang bukan hanya tentang keterampilan teknis. Ada tanggung jawab besar untuk memastikan kehidupan baru di dalam telur-telur tersebut tetap memiliki kesempatan untuk tumbuh.

Cerita di atas dan kepedulian terhadap kondisi penyu yang ia lihat semakin berkurang merupakan latar belakang Novel untuk memutuskan terlibat sebagai tenaga lokal. “Motivasi saya menjadi tenaga lokal pemindahan sarang karena saya sadar bahwa semakin hari penyu semakin berkurang,” ujarnya. 

Sebelum menjalankan tugasnya sebagai tenaga lokal, Novel dibekali pelatihan tentang pemantauan penyu dan perlindungan sarang selama dua hari di Pantai Batu Rumah, Jeen Yessa. Dua hari pelatihan menjadi kesempatan bagi Novel untuk menambah pengetahuan tentang pemindahan dan perlindungan sarang penyu. Ia tidak hanya mendapatkan materi dan kesempatan untuk praktik, tetapi juga mendengarkan cerita serta pengalaman para tenaga lokal yang berasal dari kampung.

“Dari pelatihan dua hari ini yang saya dapatkan itu pengalaman baru dan juga cerita-cerita pengalaman dari bapak-bapak yang dari kampung, mendapatkan materi, dan praktik,” katanya. 

Dari pelatihan ini, Novel memperoleh pengetahuan baru mengenai berbagai ancaman yang dapat memengaruhi keberlangsungan penyu di TP Jeen Womom, salah satunya aktivitas manusia (perburuan dan perdagangan penyu). “Saya baru tahu soal ini dari materi kemarin di pelatihan. Kemarin ada penyu yang diburu dan dijual, jadi saya rasa kasihan,” katanya. 

Keterlibatannya sebagai tenaga lokal membuat Novel semakin memahami bahwa menjaga penyu tidak berhenti pada telur yang berhasil dipindahkan, tetapi juga mencakup perlindungan pantai sebagai tempat penyu bertelur. Pemahaman tersebut membuatnya menyadari bahwa upaya menjaga penyu bukan hanya menjadi tanggung jawab tenaga yang bekerja di lapangan, tetapi juga membutuhkan kerja sama masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di sekitar pantai peneluran. Kesadaran itu, menurut Novel, dapat dimulai dari hal-hal sederhana, seperti menjaga pantai tetap aman bagi penyu yang datang untuk bertelur. 

“Harapan saya, kita di sini harus memiliki kesadaran untuk menjaga,” ungkapnya. “Kita juga harus melindungi pantai, seperti yang sudah dikatakan saat pelatihan. Jangan bakar api di pantai. Kebanyakan ada yang membakar api dan ketika penyu naik, dia mati. Terus ada yang lewat-lewat dengan perahu dan membuang minyak, takutnya penyu makan dan mati. Harapan saya jangan seperti itu, harus tetap menjaga.”

Ketika ditanya mengenai adanya kegiatan pertambangan di kawasan Jeen Womom, Novel berharap kegiatan yang berpotensi berdampak pada penyu tidak dilakukan. “Menurut saya, kegiatan itu tidak usah dilakukan karena material-material tersebut berdampak pada penyu,” ucapnya. “Jadi, takutnya penyu-penyu itu terkena virus dan tidak naik lagi ke pantai ini. Jadi rasa kasihan juga,” 

Walaupun mendapatkan banyak pengetahuan baru, Novel merasa masih ada hal yang perlu ditingkatkan dalam proses belajarnya. Baginya, pengalaman mencoba secara langsung dan mendapatkan arahan dari tenaga yang lebih berpengalaman merupakan bagian penting dalam proses belajar. “Lain kali pelatihannya langsung praktik saja, karena ada yang hanya diberi materi dan kurang mengerti. Materi sedikit saja dan diperbanyak dengan praktik,” ungkapnya. 

Novel sedang mengikuti praktik relokasi sarang oleh Petrus Batubara.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Maurens Sundoy)

Novel baru menjalani pekerjaan ini dalam waktu singkat. Walaupun begitu, ia justru menemukan sisi lain yang menyenangkan dari berada di pantai. Menurutnya, mengangkat telur penyu sembari menikmati pemandangan pantai menjadi pengalaman yang ia nikmati. “Pengalaman yang berkesan sementara mengangkat telur penyu itu ya healing,” ujarnya. “Sambil mengangkat telur penyu, saya bisa melihat pemandangan pantai. Saya merasa senang dan menikmati.” 

Pemandangan Pantai Batu Rumah.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Elisa Putra)

Perjalanan Novel sebagai tenaga lokal pemindahan sarang penyu memang baru dimulai. Dari rasa takut telur akan pecah saat pertama kali mengangkatnya, kini ia perlahan memahami bahwa setiap telur yang dipindahkan membawa tanggung jawab untuk menjaga kehidupan baru. Ia masih belajar. Namun, dari pengalaman singkatnya, ia sadar bahwa menjaga penyu berarti kita perlu menjaga pantai agar tetap aman bagi penyu untuk kembali.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Categories
Belum Publish New Template Uncategorized @id

From Village to Market: Tracing the Journey of Abun Coconut Oil

From Village to Market: Tracing the Journey of Abun Coconut Oil

Penulis

Kartika Zohar

Tanggal

14 Januari 2026

Apakah Sobat Lestari  masih ingat dengan cerita berjudul “Minyak Kelapa untuk Konservasi: Ketika Ekonomi Masyarakat dan Penyu Belimbing Bertumbuh Bersama” yang terbit pada akhir November 2025 lalu?

Kisah itu mengawali perjalanan produksi minyak kelapa di sembilan kampung, yang tersebar pada tiga distrik di Kabupaten Tambrauw yaitu Distrik Tobouw, Abun, dan Amberbaken. Sepanjang tahun 2025, produksi dari sembilan kampung itu hampir mencapai 1.500 liter.

Dengan capaian produksi yang signifikan tersebut, tentu muncul pertanyaan penting. Bagaimana hasil produksi ini kemudian dipasarkan dan sampai ke tangan konsumen? Cerita perjalanannya dimulai dari sini.

Minyak dituang ke dalam jerigen untuk dibawa dari kampung ke Manokwari
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Tim melakukan pengemasan ke botol minyak kelapa 
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Tumpukan jerigen terlihat di dermaga Manokwari, baru saja turun dari kapal Sabuk Nusantara 112. Jerigen-jerigen itu berisi minyak kelapa mentah dari kampung-kampung di Tambrauw, yang merupakan hasil pendampingan tim di lapangan. Iriani dan Mika, anggota tim pemberdayaan yang bertanggung jawab atas pengendalian mutu, pengemasan, dan pemasaran (Quality Control/QC), sudah menunggu kedatangannya.

“Yang dari Wau dan Weyaf sudah datang,” ujar Mika sambil memeriksa dokumen pengiriman. Tugas mereka sungguh penting, yakni memastikan pelanggan mendapat produk terbaik, dan yang lebih utama, agar tersedia modal untuk kembali membeli minyak dari kelompok masyarakat di kampung.

Di dapur QC, proses penyempurnaan dimulai. Iriani dan timnya memeriksa kadar air setiap kiriman. Minyak yang tampak masih mengandung banyak buih kemudian dipanaskan guna memastikan tidak ada lagi sisa air di dalamnya. Selanjutnya, mereka menuang minyak ke dalam penyaring berjaring sangat rapat untuk memisahkan endapan. Proses itu dilakukan hingga yang tersisa hanyalah cairan jernih beraroma kelapa segar. Setelah bersih dan dingin, minyak itu dikemas ke dalam botol berukuran satu liter lalu dilabeli satu per satu.

Tidak berhenti di situ. Setiap botol juga diberi tanda berupa nomor batch produksi dan tanggal kedaluwarsa. “Ini dari kode batch 29 Desember 2025,” catat Iriani sambil menghitung semua botol dan mencocokkannya dengan laporan dari lapangan. Semua harus akurat.

Restock minyak kelapa ke toko Intan Jaya Mart Wosi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Minyak kelapa di pajangan etalase toko Intan Jaya Mart Wosi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Kode “29 Desember 2025” memiliki arti tersendiri dalam sistem pencatatan mereka. Angka 29 berarti ini adalah pengiriman ke-29 dari lapangan, kata Desember menunjukkan bulan pengirimannya, sementara 2025 adalah tahun produksinya. Pemberian kode ini adalah cara Tim QC untuk memastikan bahwa setiap pengiriman memiliki jejak yang tercatat dengan baik.

Minyak yang sudah siap kini melanjutkan perjalanannya. Sebagian diantar ke berbagai toko dengan sistem konsinyasi. Di Manokwari sendiri, setidaknya ada 11 toko yang menjadi titik penjualan Minyak Kelapa Abun. Harga dasarnya adalah Rp39.000,00 per liter, namun harga jual eceran di toko bisa bervariasi, mulai dari Rp42.000,00 hingga Rp49.000,00 per liter.

“Yang di Hadi Supermarket dijual Rp49.000,00,” jelas Iriani sambil menata botol-botol dalam kotak yang akan dibawa. “Sementara di toko seperti Intan Jaya dan Istana Sayur dan Buah 2, harganya Rp42.000,00,” tambahnya.

Persiapan restock minyak kelapa ke toko-toko
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Persiapan restock ke toko Kalawai Mart & Nui Fresh Market
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Selain mengandalkan toko, Tim QC dan Pemasaran juga melayani pengantaran langsung ke pelanggan tetap. Salah satunya adalah Kak Enita Rumansara, yang sudah setia membeli sejak awal produksi. “Ini dua puluh botol untuk bulan ini,” ucap Kak Enita saat menerima minyak pesanannya. Perempuan yang berprofesi sebagai tukang urut di Manokwari itu menjelaskan, “Saya gunakan minyak kelapa ini khusus untuk keperluan pijat.”

Di balik setiap botol yang terjual, ada putaran ekonomi yang terus berdenyut. Uang hasil penjualan mengalir kembali ke kampung, untuk membiayai produksi berikutnya sekaligus mendukung upaya konservasi penyu belimbing yang menjadi bagian tak terpisahkan dari program ini. Dengan demikian, masyarakat mendapat manfaat langsung dari kegiatan konservasi yang mereka lakukan bersama di Taman Pesisir Jeen Womom.

Itulah rangkaian cerita sederhana di balik sebotol Minyak Kelapa Abun. Dari kampung-kampung di pedalaman dan pesisir Papua Barat Daya, minyak ini berlayar ke Manokwari, melalui proses yang penuh ketelitian. Pada akhirnya, ia sampai ke dapur keluarga yang menghargai bukan hanya rasa dan kualitas, tetapi juga setiap cerita di balik tetesannya.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Categories
Belum Publish Uncategorized @id

Lowongan Kerja Tenaga Pendamping Masyarakat dan Narahubung Program (PMNH) 2026

Pendamping Masyarakat dan Narahubung Program

Bergabunglah dalam Program Pemberdayaan Masyarakat di Kabupaten Tambrauw, Papua Barat Daya! Apakah Anda ingin berkontribusi langsung dalam pemberdayaan masyarakat di kawasan konservasi? Inilah kesempatan Anda untuk menjadi bagian dari perubahan positif di Distrik Abun, Distrik Tobouw, dan Distrik Amberbaken, Kabupaten Tambrauw, Papua Barat Daya! Universitas Papua (UNIPA), melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM), membuka kesempatan bagi alumni UNIPA dan lulusan perguruan tinggi lainnya untuk bergabung sebagai Tenaga Pemberdayaan Masyarakat di Kawasan Konservasi (PMNH). Dalam program ini, Anda akan berperan aktif dalam meningkatkan kapasitas masyarakat di bidang pendidikan dan perekonomian, serta membantu mereka dalam membangun kehidupan yang lebih berkelanjutan di kawasan konservasi.

Tugas Utama

Melaksanakan pendampingan, fasilitasi, dan koordinasi program di tingkat masyarakat serta menjadi penghubung antara program, masyarakat, dan pemangku kepentingan lokal.

Persyaratan

1. Minimal D3 semua jurusan (diutamakan Pendidikan, Pertanian, dan Pengolahan hasil Pertanian)
2. Pengalaman minimal 1 tahun di bidang pendampingan masyarakat (menjadi nilai lebih).
3. IPK minimal 2,75
4. Bersedia ditempatkan di daerah dengan akses terbatas.
5. Mahir komputer (Microsoft Office, Google Forms)

Kompensasi

1. Gaji pokok kompetitif (min. Rp 3.200.000)
2. BPJS Kesehatan + Asuransi Perjalanan
3. Akomodasi, transportasi, konsumsi ditanggung
4. Pelatihan teknis dan sertifikat

Linimasa

📌 29 Des 2025 – 11 Jan 2026: Pendaftaran & Seleksi Tahap 1
📌 17 Jan 2026: Wawancara (online/offline)
📌 22 Jan 2026: Penandatangan kontrak
📌 23–26 Jan 2026: Pelatihan PMNH

Kuota : 11-12 orang

Periode : 22 Januari – 30 April 2026

Apakah kamu tertarik bekerja untuk meningkatkan kapasitas masyarakat di Kawasan Konservasi melalui pendidikan dan perekonomian?

Jika iya, daftarkan dirimu segera, paling lambat Tanggal 11 Januari 2026 Pukul 23:59 WIT! mungkin kamu orang yang kami butuhkan!

Ada hal yang ingin ditanyakan terkait lowongan ini? Jika iya, hubungi admin kami pada hari Senin-Jumat, pukul 09.00-17.00 WIT

Bagikan

Bagikan informasi lowongan kerja ini kepada teman dan sanak saudara Anda melalui sosial media yang Anda miliki!

Categories
Belum Publish

Dukung Konservasi Penyu di Jeen Womom, LPPM UNIPA melakukan Pendidikan Lingkungan Hidup kepada anak-anak di Rumah Belajar

Dukung Konservasi Penyu di Jeen Womom, LPPM UNIPA melakukan Pendidikan Lingkungan Hidup kepada anak-anak di Rumah Belajar

Penulis

Alberto Yonathan Tangke Allo

Tanggal

18 Juli 2023

Bagaimana kami melakukan kegiatan Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH)? Mengapa kami melakukan kegiatan ini? Kali ini kami ingin berbagi kepada para pembaca pengalaman kami dalam mengajarkan PLH kepada anak-anak di rumah belajar.

Kegiatan pendidikan anak di rumah belajar merupakan bagian dari program konservasi Penyu belimbing (Dermochelys coriacea) di Taman Pesisir Tambrauw. Yang melakukan kegiatan adalah kami dari Program Pemberdayaan Masyarakat, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat – Universitas Papua (LPPM – UNIPA). Kegiatan ini memberikan manfaat bagi anak-anak yang tinggal di sekitar kawasan konservasi dengan meningkatkan kapasitas pendidikan anak-anak melalui kegiatan Baca-Tulis-Hitung (Calistung), Pendidikan lingkungan Hidup (PLH), Computer-Bahasa Inggris (Comeng), Perpustakaan keliling, Apotek Hidup & Hidup Sehat.

Karang Sehat
(Foto : BLUD UPTD Raja Ampat/Daud Orisoe)

Kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan di rumah belajar dikelola dan dilaksanakan oleh Pendamping Masyarakat dan Narahubung (disingkat: PMNH). Kami mengelola 4 Rumah Belajar (disingkat: RB) yang tersebar pada lima kampung yaitu RB Wau-Weyaf berada pada Kampung Wau dan Kampung Weyaf, ditinggali oleh 3 orang PMNH yang mengajar anak-anak serta hidup dengan masyarakat di kampung.RB Syukwo berada pada Kampung Syukwo, ditinggali 2 orang PMNH. RB Womom berada pada Kampung Womom ditinggali oleh 2 orang PMNH dan RB Resye berada pada Kampung Resye ditinggali oleh 2 orang PMNH.

PMNH Syukwo bersama dengan anak-anak melakukan aksi bagaimana menggali sarang yang terdampak abrasi air laut.(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

PMNH Syukwo bersama dengan anak-anak melakukan aksi bagaimana memindahkan telur penyu yang terdampak abrasi air laut.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Kegiatan PLH yang diajarkan ke anak-anak di rumah belajar berupa kegiatan teori (pemahaman konsep) dan praktik, berdasarkan 9 indikator yang tersebar menjadi 21 sub indikator pembelajaran PLH. Pengajaran PLH yang dilakukan ke anak-anak minimal 1 kali dalam seminggu dan 1 kali sebulan kegiatan aksi nyata yang diajarkan. Sebagai contoh kegiatan pemahaman konsep yang dilakukan di rumah belajar yaitu Indikator Melakukan Praktik Perlindungan Sarang Penyu. Di rumah belajar diajarkan cara-cara melakukan perlindungan penyu. Kemudian dilakukan aksi nyata dalam bentuk praktik. Di sini kami menampilkan beberapa foto kegiatan aksi nyata yang dilakukan PMNH Syukwo bersama anak-anak sebagai bentuk penguatan materi.

PMNH Syukwo bersama dengan anak-anak melakukan aksi bagaimana menyukur panjang dan lebar penyu yang naik bertelur ke pantai.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Kegiatan PLH lainnya mengajarkan kepada anak untuk membedakan sampah organik dengan sampah anorganik. Kegiatan ini dilanjutkan dengan aksi nyata memungut sampah yang berserakan di sekitar pantai dan jalan-jalan di kampung.

PMNH Resye mengajar perbedaan sampah organik dan anorganik.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

PMNH Resye bersama dengan anak-anak melakukan aksi pungut sampah anorganik di pinggir pantai.(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

PMNH Resye bersama dengan anak-anak setelah sampah anorganik dipungut kemudian ditimbang untuk mengetahui berapa kg sampah yang terkumpul.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Keterlibatan anak dalam kegiatan PLH terlihat dari grafik berikut, antusias anak pada kampung Resye setiap bulan partisipasi anak yang mengikuti kegiatan PLH semakin meningkat. Pada kampung Wau-Weyaf dan Kampung Syukwo kegiatan PLH bulan Februari – April belum diadakan karena PMNH Wau-Weyaf dan PMNH Syukwo baru berada di lapang pada bulan Mei.

Grafik Keterlibatan Anak

Pembelajaran PLH merupakan salah satu pembelajaran yang dilakukan RB untuk mengajarkan ke anak-anak mencintai lingkungan dan melakukan aksi nyata dalam rangka mendukung kegiatan konservasi penyu. Dalam hal ini anak tidak membuang sampah sembarangan dan mengetahui dampak buruk yang ditimbulkan oleh sampah anorganik jika dibiarkan di lingkungan dan tidak ditangani dengan baik maka membuat tanah menjadi tidak subur karena sampah anorganik sangat susah terurai di dalam tanah dan apabilah sampah anorganik misalnya sampah plastik dibuang ke laut, akan terapung di laut dan terlihat seperti ubur-ubur oleh penyu sehingga apabila penyu memakannya berakibat penyu dapat mati. Pendidikan lingkungan hidup sebaiknya secara dini diajarkan dan dicontohkan ke anak-anak kampung yang tinggal di pesisir pantai agar anak-anak mencintai lingkungan dan ikut terlibat dalam kegiatan konservasi penyu sebagai kekayaan hayati yang dimiliki.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya