Categories
Uncategorized @id

Ketika Karya Kolaborasi Sains dan Desain Berlayar Membawa Pesan Konservasi

Ketika Karya Kolaborasi Sains dan Desain Berlayar Membawa Pesan Konservasi

Penulis

Elisa Putra

Tanggal

14 Agustus 2026

Cerita ini berawal dari kolaborasi antara Departemen Desain Komunikasi Visual (DKV) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dan Program Sains untuk Konservasi LPPM Universitas Papua (UNIPA). Berbekal dukungan pendanaan WCU Equity ITS, kolaborasi ini diketuai oleh Octaviyanti Dwi Wahyurini bersama anggota tim Ellya Zulaikha, Putri Dwitasari, dan Yosia Enggar Kurniawan. Dalam proses pengembangan media kampanye, turut terlibat enam mahasiswa ITS, yaitu Muhammad Zharfan Firdaus, Farah Jinan Huwaida, Nuansa Harmoni, Mochammad Arsy Algifany Fudam, Anak Agung Sagung Laksmi Dharmika Yowani, dan Nadiah Syarifah Aini. Tim dari dua perguruan tinggi ini mencoba menjawab satu pertanyaan sederhana: bagaimana membuat pesan konservasi tidak berhenti sebagai informasi, tetapi benar-benar dekat dengan keseharian masyarakat Papua?

Menariknya, proses ini tidak hanya mempertemukan perspektif desain dan sains konservasi di Indonesia. Tim juga mendapatkan masukan dari Prof. David Blakesley dari Clemson University, South Carolina, Amerika Serikat. Berbagai perspektif tersebut kemudian bertemu dalam proses merancang strategi komunikasi yang lebih kontekstual—mulai dari memahami siapa yang akan menerima pesan, bagaimana pesan tersebut disampaikan, hingga di mana pesan tersebut paling mungkin didengar. Dari sinilah perjalanan penelitian kemudian membawa tim DKV ITS dari Surabaya menuju Papua, bertemu masyarakat, penumpang kapal, awak kapal, hingga para pegiat konservasi di kawasan Jeen Womom.

Penyampaian Hasil Survei dan Desain Media oleh Zharfan Firdaus (Mas Afan)
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Mikardes Albert)

“Ternyata bikin beginian ada sekolahnya, ya?” Begitu ungkap kami, tim penjangkauan di Program Sains untuk Konservasi LPPM UNIPA, setelah berdiskusi bersama mahasiswa dan dosen dari Departemen Desain Komunikasi Visual (DKV) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya.

Dalam diskusi ini, tim ITS menampilkan beberapa draf materi penjangkauan yang sedang mereka susun untuk kegiatan penyadartahuan konservasi laut di Kapal Sabuk Nusantara 112.  Kegiatan ini penting karena mendukung upaya konservasi yang dilakukan Program Sains untuk Konservasi LPPM Universitas Papua di Taman Pesisir Jeen Womom, khususnya dalam melindungi penyu belimbing dan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap ancaman seperti perubahan iklim dan sampah laut. Seiring meningkatnya mobilitas masyarakat melalui kapal tol laut, kegiatan penyadartahuan di atas kapal menjadi peluang strategis untuk menjangkau lebih banyak orang dengan pesan-pesan konservasi yang relevan bagi kawasan tersebut. Pada bulan Oktober 2025, tim peneliti dari DKV ITS yang kebetulan diwakili oleh Bapak Yosia Enggar Kurniawan, S.Ds., M.Sn. (Dosen) dan Muh. Zarfan Firdaus (mahasiswa) yang akrab dipanggil Pak Yosi dan Mas Afan datang jauh-jauh dari Surabaya ke Papua untuk melakukan survei kepada penumpang Kapal Sabuk Nusantara 112, awak kapal, masyarakat lokal di pesisir Jeen Womom, serta tim UNIPA. Survei ini dilakukan untuk membantu mereka menyusun strategi penjangkauan dan materi edukasi yang komunikatif serta mudah dipahami oleh masyarakat.

Awal Pertukaran Cerita

Awalnya, kami menceritakan kegiatan edukasi di Kapal Sabuk Nusantara 112 kepada tim ITS di Surabaya pada bulan Juli 2025. Kami memilih untuk bekerja sama dengan tim dosen dan mahasiswa dari Departemen DKV ITS karena kompetensi akademik mereka selaras dengan kebutuhan kami dalam mengembangkan materi pendidikan lingkungan hidup yang efektif.

Dalam diskusi tersebut, kami memaparkan latar belakang pemilihan kapal tol laut sebagai lokasi penjangkauan, pentingnya Taman Pesisir Jeen Womom sebagai habitat peneluran penyu belimbing, karakteristik kehidupan masyarakat pesisir di sekitar kawasan konservasi, serta pengalaman kami dalam menyampaikan pesan-pesan konservasi kepada masyarakat setempat. Pembahasan ini menjadi landasan bagi tim DKV ITS untuk memahami konteks sosial dan ekologis yang akan diterjemahkan ke dalam materi komunikasi yang sesuai dengan kondisi di lapangan.

Diskusi berlanjut secara daring hingga tim ITS tiba di Papua. Selama berada di Papua, Mas Afan (begitu sapaan kami kepada perwakilan mahasiswa dari ITS) dan Pak Yosi (perwakilan dosen dari ITS) sangat bersemangat karena banyak sekali pengalaman pertama yang mereka alami. Mulai dari naik kapal Sabuk Nusantara 112, naik perahu pada tengah malam yang gelap, hingga perjalanan darat yang cukup menantang di tengah hutan Papua. Selain memperoleh pengalaman berkesan, mereka juga mendapatkan berbagai informasi menarik melalui diskusi selama perjalanan di Tanah Papua.

Mengenalkan Media Edukasi
dari Rumah Belajar kepada Mas Afan
(Foto: DKV_ITS/Yosia Enggar)

Pertemuan Bersama Masyarakat Lokal di Balai Kampung Distrik Amberbaken
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Elisa Putra)

Informasi tersebut menjadi dasar bagi para mahasiswa untuk mengembangkan karya yang menarik, informatif, mudah dipahami oleh masyarakat, serta sesuai dengan karakter ruang dan aktivitas di kapal. Melalui proses ini, tim ITS berupaya merancang media yang mampu menarik perhatian penumpang untuk membaca pesan-pesan konservasi, memilih media visual dan audiovisual yang paling sesuai untuk digunakan di kapal penumpang, menjelaskan kehidupan penyu dengan bahasa yang sederhana tanpa mengurangi akurasi informasi ilmiah, serta tetap memperhatikan konteks sosial dan budaya masyarakat. 

Selain itu, mereka juga mengeksplorasi berbagai bagian kapal sebagai ruang strategis untuk memasang media edukasi visual. Berbagai pertimbangan tersebut menjadi titik awal lahirnya berbagai konsep media kampanye.

Mas Afan Saat Mewawancarai Salah Satu Penumpang di KM Sabuk Nusantara 112
(Foto: DKV_ITS/Yosia Enggar)

Pak Yosi saat Mengenalkan Media Edukasi ke
Salah Satu Penumpang Anak
(Foto: DKV_ITS/Zharfan Firdaus)

Dari Konsep Menjadi Media

Perjalanan tim ITS ke Tanah Papua membawa hasil berupa pesan utama yang akan dibawa dalam kampanye, karakter yang akan ditampilkan selama kampanye, serta lokasi pemasangan media edukasi di dalam kapal. Setelah menentukan lokasi, karakter, dan pesan utama, mahasiswa ITS mengembangkan konsep tersebut menjadi berbagai media edukasi berbahasa Melayu Papua agar pesan konservasi mudah dipahami oleh masyarakat lokal. Proses penyusunan media edukasi ini melibatkan enam mahasiswa dan tiga dosen serta menjadi bagian dari tugas akhir mahasiswa Departemen DKV ITS.

Sebagian dari mereka merancang stiker informasi yang kemudian akan ditempatkan di pintu, ranjang, dinding, dan tempat sampah. Mahasiswa lainnya mengembangkan buku cerita berseri dan komik yang mengajarkan tentang kehidupan alami penyu belimbing. Untuk memberikan pengalaman belajar yang lebih menyenangkan kepada penumpang, materi-materi tersebut dikembangkan menjadi animasi dua dimensi dan jingle anak-anak. Kampanye ini kami sebut sebagai kampanye #JagaPenyu.

Dalam prosesnya, anggota tim kami dari UNIPA juga terlibat sebagai pengisi suara. Proses rekaman juga menjadi pengalaman tersendiri karena kami harus menyesuaikan intonasi dengan karakter yang telah diciptakan. Selain media informasi, mahasiswa juga merancang berbagai cenderamata yang akan dibagikan kepada para penumpang. Seluruh media tersebut kemudian disatukan melalui konsep “Pojok Penyu”, tempat masyarakat dapat duduk, membaca buku, belajar, dan bermain.

Proses penyusunan media yang  tetap mengedepankan konteks budaya menjadi semakin menantang karena tim ITS dan tim kami memiliki latar belakang budaya yang berbeda; mereka berasal dari Pulau Jawa, sedangkan kami dari Papua. Namun, semuanya bisa berjalan dengan baik, bahkan tim ITS juga mendapatkan pengetahuan tentang dialek baru, yaitu dialek Melayu Papua. 

Pemaparan Hasil Survei Selama di Papua
(Foto: DKV_ITS/Farah Huwaida)

Pendampingan dan Pemantapan

Setiap karya yang dibuat harus melalui proses asistensi dan perbaikan. Setelah mengembangkan media informasi, mereka mempresentasikan hasilnya kepada kami. Tidak semua ide dapat langsung digunakan. Ada media yang perlu disederhanakan, ada ilustrasi yang perlu disesuaikan, dan ada pula desain yang harus diubah karena belum sesuai dengan kondisi kapal. 

Perlahan-lahan, gagasan yang sebelumnya masih berupa hasil diskusi dan sketsa kemudian diubah menjadi buku yang siap dibaca, stiker yang siap dicetak dan dibagikan,  jingle yang siap dinyanyikan, animasi yang siap diputar, dan merchandise yang siap dibagikan kepada penumpang. 

Selanjutnya, teman-teman mahasiswa memamerkan karya mereka dalam pameran yang diselenggarakan oleh Departemen Desain Komunikasi Visual ITS. Kami yang hanya menyaksikannya dari jauh melalui dokumentasi gambar dan video juga ikut senang dan semangat karena penyu belimbing tidak hanya selesai disampaikan di Papua saja, tetapi juga bisa sampai di Pulau Jawa, dengan harapan pesan konservasi dan perlindungan penyuguhan penyu akan terus berlanjut. Selama kurang lebih enam bulan, dari Januari hingga Juni 2026, teman-teman mahasiswa berhasil menyelesaikan pembuatan media informasi. 

Pameran tim DKV ITS
(Foto: DKV_ITS/Putri Dwitasari)

Karya yang Akhirnya Digunakan

Setelah melalui proses diskusi, survei, riset, perancangan, asistensi, revisi, dan produksi, berbagai media yang dikembangkan akhirnya mulai digunakan dalam kegiatan penjangkauan di KM Sabuk Nusantara 112.

Kegiatan penjangkauan pertama dilaksanakan pada akhir Juli 2026. Namun, pada pelayaran tersebut belum seluruh media kampanye dapat digunakan. Kami baru memanfaatkan beberapa media, seperti buku cerita, komik, permainan edukasi, jingle, animasi, pojok baca, dan merchandise untuk berinteraksi secara langsung dengan para penumpang.

Suasana Saat di Pojok Baca
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Feri Toja)

Sementara itu, stiker kampanye yang dirancang untuk ditempatkan pada dinding dan sejumlah bagian kapal belum dapat dipasang. Pada saat itu, KM Sabuk Nusantara 112 akan segera menjalani proses docking atau perawatan tahunan. Dalam proses tersebut, beberapa bagian kapal akan diperbaiki dan dicat kembali.

Agar stiker tidak rusak atau terlepas selama proses perawatan, pemasangannya disarankan dilakukan setelah kapal selesai menjalani docking. Dengan demikian, media kampanye dapat dipasang pada permukaan yang telah diperbarui dan digunakan dalam jangka waktu yang lebih lama.

Kegiatan pada Juli menjadi tahap awal untuk melihat secara langsung bagaimana para penumpang merespons media edukasi yang telah dibuat. Hasil dan pengalaman dari pelayaran tersebut juga menjadi bahan evaluasi bagi tim sebelum melanjutkan kegiatan berikutnya.

Penjangkauan akan kembali dilakukan pada September 2026, setelah KM Sabuk Nusantara 112 selesai menjalani perawatan tahunan. Pada pelaksanaan berikutnya, media kampanye diharapkan dapat digunakan secara lebih lengkap, termasuk pemasangan stiker edukasi di berbagai bagian kapal yang telah ditentukan.

Dengan demikian, perjalanan karya ini belum selesai. Media-media tersebut mulai bertemu dengan masyarakat pada pelayaran pertama, kemudian akan terus dikembangkan dan digunakan kembali ketika kapal siap berlayar dengan tampilan yang telah diperbarui.

Berita Lainnya

Categories
New Template Pemberdayaan Masyarakat Peningkatan Ekonomi Masyarakat Uncategorized @id

Cerita Perjalanan Lapang: Menuju Tambrauw untuk Pelatihan Amigurumi

Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut

Cerita lapangan dari para pendamping kampung dan pelindung penyu di Kepala Burung Papua

Cerita Perjalanan Lapang: Menuju Tambrauw untuk Pelatihan Amigurumi

Penulis

Kartika Zohar

Tanggal

07 April 2026

Dalam seri “Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut”, kami mengajak pembaca menyelami kisah nyata orang-orang yang hidup berdampingan dengan penyu dan laut. Melalui suara mereka, kita belajar mencintai dan menjaga laut bersama.

Setiap perjalanan ke kampung selalu menyimpan cerita yang tidak biasa. Pada bagian pertama ini, kisah dimulai dari perjalanan panjang dengan Kapal Sabuk Nusantara 112, menuju Wau dan Weyaf, sambil membawa satu misi khusus: pelatihan pembuatan amigurumi penyu.

Perjalanan ke kampung dengan Kapal Sabuk Nusantara 112 kali ini terasa lebih panjang dari biasanya. Kami memulai perjalanan monitoring dan Evaluasi (Monev) Program pada Rabu, 11 Maret 2026. Kapal Sabuk Nusantara 112 melepas tali dari pelabuhan Manokwari tepat pukul 21.30 WIT menuju pemberhentian pertama, Distrik Saukorem. Seluruh tim berjumlah 8 orang yang terbagi ke dalam dua tim, yaitu tim Saukorem dan tim Wau-Weyaf. Setelah terlelap semalaman, seluruh tim bangun keesokan paginya. Gelombang yang parah membuat kami harus menyesuaikan diri dengan goyangan kapal yang cukup kuat.

Proses penurunan barang dari kapal ke perahu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Kartika Zohar)

Kondisi cuaca di lapangan
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Kristina Rahail)

Kapal masuk ke Saukorem pada pukul 08.00 WIT, terlambat 2 jam dari jadwal biasa. Dua orang anggota tim kami turun di lokasi ini. Saya masih harus melanjutkan perjalanan sekitar 8–9 jam lagi menuju Kampung Wau dan Weyaf. Di perjalanan ini, kami juga membawa misi khusus: melakukan Pelatihan Pembuatan Amigurumi, sebuah seni merajut asal Jepang untuk membuat boneka kecil yang lucu. Pada pelatihan kali ini, kami fokus pada bentuk penyu.

Saya bersama tim yang akan turun di lokasi Wau-Weyaf tiba pukul 17.30 WIT. Jumlah kami 4 orang: Maria yang akan melatih amigurumi, Thomas dari PMNH yang baru kembali setelah sakit malaria, lalu Miju dan saya dari tim monev. Kami bersiap untuk turun. Barang-barang telah diangkut dan dipindahkan dekat tangga kapal.

Seperti biasa, ada aturan tidak tertulis yang harus diikuti: penumpang yang akan naik ke kapal dilayani terlebih dahulu,  kemudian barang-barang diturunkan ke perahu. Lama atau cepatnya proses ini bergantung pada gelombang. Kami harus ekstra berhati-hati karena tangga kapal terbuat dari besi. Terjepit di antara tangga dan perahu bukanlah hal yang menyenangkan. Di sinilah seninya ketika para pengemudi perahu motor akan mematikan mesin perahu, mengikuti gelombang laut, lalu mendorong perahu menjauhi tangga kapal menggunakan tongkat kayu panjang. Mereka mengontrol jarak, dan penumpang turun perlahan, saling menolong.

Foto tim saat di kapal
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Heny Lilitnuhu)

Proses membuat Amigurumi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Saya melirik jam digital di pergelangan tangan, waktu menunjukkan pukul 18.40 WIT. Hari sudah cukup gelap. Kami menjadi penumpang pertama yang dipersilakan turun. Para penumpang lain, yang sebagian besar masyarakat lokal, memberikan kesempatan pertama kepada kami karena salah satu anggota tim mabuk laut cukup parah.

Maria, Thomas, Miju, dan saya berhasil turun dengan selamat di pantai Kampung Weyaf. Ottow telah menunggu di tepi pantai dengan gerobak untuk memuat barang-barang kami. Meskipun hari sudah gelap, saya menyempatkan diri bersalaman dengan beberapa warga yang juga menunggu di tepi pantai. Mereka membantu kami turun dari perahu, mengangkat barang-barang, dan meletakkannya di atas pasir yang kering. Mereka menyambut saya dan tim dengan hangat.

Kami tiba di rumah belajar diiringi rintik hujan. Senang sekali bertemu dengan Titin dan Ottow, dua orang PMNH yang bertugas di lokasi Wau-Weyaf, dalam keadaan sehat. Mereka sedang membuat lemet — kue dari singkong parut, campuran kelapa parut, gula pasir, dan gula merah — yang akan menjadi camilan untuk pelatihan amigurumi besok pagi.

Perjalanan yang panjang akhirnya membawa tim tiba di lokasi dengan selamat. Namun, cerita belum berhenti di sana, karena bagian berikutnya akan memperlihatkan bagaimana para ibu dan remaja perempuan mulai belajar merajut dari tahap paling awal. Klik disini (TBA) untuk melihat bagaimana pelatihan amigurumi penyu dimulai, dari magic ring hingga semangat belajar yang tidak mudah padam.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Categories
Konservasi Penyu Belimbing Monitoring New Template Uncategorized @id

Pertemuan Working Group Penyu Belimbing Indonesia

Pertemuan Working Group Penyu Belimbing Indonesia

Penulis

Yusuf Jentewo

Tanggal

14 April 2026

Gagasan pembentukan kelompok kerja penyu belimbing Indonesia pertama kali mengemuka dalam Leatherback Expert Meeting di Jakarta pada September 2025. Dari ruang diskusi tersebut, muncul kesadaran bersama akan pentingnya sebuah wadah kolaboratif yang dapat menyatukan berbagai pihak dalam upaya pelestarian penyu belimbing di Indonesia. Sebagai langkah awal, dilakukan penyebaran kuesioner penjaringan aspirasi pada 2–30 November 2025 kepada instansi dan kelompok terkait. Sebanyak 18 responden berpartisipasi dan secara kuat menyuarakan bahwa kelompok kerja ini perlu segera dibentuk. Menindaklanjuti hal tersebut, pertemuan inisiasi akhirnya dilaksanakan pada Jumat, 13 Maret 2026. Dalam proses ini, Program Sains untuk Konservasi (S4C) tidak hanya berpartisipasi, tetapi juga berperan sebagai salah satu penggerak utama. Keterlibatan ini berangkat dari pengalaman panjang tim S4C dalam melakukan upaya pelestarian penyu—khususnya penyu belimbingdi Taman Pesisir Jeen Womom, yang menjadi salah satu lokasi kunci bagi keberlangsungan populasi penyu belimbing di Pasifik Barat.

Pemaparan materi oleh Balai Pengelolaan Kelautan Kupang 
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Yusuf Jentewo)

Kelompok kerja ini diperlukan sebagai wadah kolaborasi pemerintah, pemerhati, praktisi, dan peneliti penyu belimbing di Indonesia. Pertemuan dilaksanakan secara hybrid, yakni luring di kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI di Jakarta serta daring melalui Zoom bagi mitra di daerah. Sekitar belasan peserta hadir langsung dan 62 peserta mengikuti secara daring. Peserta berasal dari satu direktorat KKP, empat balai pengelolaan kelautan (Denpasar, Kupang, Pontianak, dan Pekanbaru), dua loka pengelolaan kelautan, tiga universitas dalam negeri (Universitas Syiah Kuala, Universitas Bung Hatta, dan Universitas Papua melalui Program Sains untuk Konservasi), dua universitas luar negeri (University of Hawaii dan Wageningen University), dua laboratorium genetik, serta tiga yayasan lingkungan.

Pertemuan ini dibuka oleh perwakilan Direktorat Spesies dan Genetik Kementerian Kelautan dan Perikanan RI, yang menyampaikan bahwa penyu belimbing merupakan spesies prioritas dalam EPANJI serta tercakup dalam Rencana Aksi Nasional (RAN) penyu Indonesia. Acara dilanjutkan dengan presentasi dari 13 pemateri yang memaparkan program pemantauan penyu belimbing, mencakup aktivitas di pantai peneluran, interaksi dengan nelayan, temuan individu terdampar, serta analisis genetik spesies ini.

Pemaparan materi oleh Program Sains untuk Konservai, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masayarakat
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Deasy Lontoh)

Program Sains untuk Konservasi (S4C), yang diwakili oleh Deasy Lontoh sebagai koordinator penelitian penyu, memaparkan berbagai upaya yang telah dilakukan, mulai dari pemantauan populasi, perlindungan sarang, hingga pemberdayaan masyarakat dan peningkatan kesadartahuan terkait penyu. Dalam paparannya, disampaikan bahwa Pantai Jeen Womom di Tambrauw, Papua Barat Daya, merupakan salah satu lokasi peneluran utama bagi penyu belimbing subpopulasi Pasifik Barat. Lebih jauh, Deasy juga menekankan pentingnya pendekatan holistik dalam konservasi, sebuah pendekatan yang tidak hanya berfokus pada pelestarian spesies, tetapi juga memperhatikan aspek sosial, ekonomi, dan kemitraan, guna memastikan keberlanjutan upaya konservasi dalam jangka panjang. Dalam sesi yang sama, perwakilan lembaga lain turut memaparkan keberadaan penyu belimbing dari populasi Samudra Hindia yang bertelur di sejumlah lokasi di Sumatra dan Kalimantan.

Pemaparan awal terkait kebijakan penyu di Indonesia
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Yusuf Jentewo)

Materi yang dipaparkan menegaskan bahwa Indonesia merupakan habitat penting bagi penyu belimbing, spesies penyu terbesar yang masih hidup. Keberadaan dua populasi, yaitu Pasifik dan Hindia, menjadikan Indonesia wilayah yang unik. Kelompok kerja ini diharapkan menjadi wadah kolaborasi bagi instansi, peneliti, dan pemerhati dalam upaya melindungi spesies yang terancam punah tersebut.

Pertemuan ditutup dengan diskusi mengenai bentuk kelompok kerja dan peluang kolaborasi ke depan. Kelompok ini diharapkan aktif dan produktif dalam menghasilkan luaran kolaboratif, berbagi pengetahuan, serta memperkuat kapasitas melalui pertukaran metode dan pembelajaran dari berbagai lokasi.

Berita Lainnya

Categories
Konservasi Penyu Belimbing Diseminasi New Template Uncategorized @id

Presentasi di Seminar Internasional Flora Malesiana

Presentasi di Seminar Internasional Flora Malesiana

Penulis

Yusup Jentewo

Tanggal

02 April 2026

Pada 9–14 Februari 2026, Manokwari menjadi tuan rumah “The 12th International Flora Malesiana Symposium & International Nature-Based Climate Solutions Conference.” Kegiatan ini mengumpulkan peneliti-peneliti dari berbagai penjuru dunia yang fokus pada tumbuhan ataupun keanekaragaman hayati lainnya di Asia Tenggara termasuk wilayah Indonesia serta Papua.

Program Sains untuk Konservasi, LPPM UNIPA juga menghadiri kegiatan tersebut, mengirimkan empat perwakilan di mana satu orang presentasi lisan/ pemaparan materi Yusup Jentewo dan tiga orang sebagai presentasi poster Kezia Salosso, Arnoldus Ananta dan Dahlia Manufandu. Keempat perwakilan ini mempresentasikan data dari program Pemantauan Penyu dan Perlindungan Sarang serta Monitoring Sosial di Kepala Burung Papua.

Slide pertama Power Point Yusup Jentewo
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Yusup Jentewo memaparkan presentasi berjudul “The Dangerous Beauty: Morning Glory (Ipomoea pes-caprae) and Its Impact on the Sea Turtle Conservation in Tambrauw”, dimana terdapat fenomena interaksi antara tumbuhan Ipomoea dengan konservasi penyu di Pantai Jeen Womom, Kabupaten Tambrauw. Tumbuhan Ipomoea adalah tumbuhan merambat yang banyak ditemui di wilayah pesisir pantai di Indonesia. Diketahui bahwa tumbuhan ini memiliki akar serabut yang dapat masuk ke dalam sarang penyu belimbing dan penyu lainnya serta merusak telur-telur penyu yang berharga. Fenomena ini diangkat Yusup dalam presentasinya. Data tahun 2024–2025 menunjukkan bahwa dari total 88 sarang penyu yang terpantau, sebanyak 65 sarang (75%) mengalami kerusakan akibat akar Ipomoea. Kondisi ini menjadi ancaman serius bagi upaya perlindungan penyu yang populasinya memang telah lama terancam.

Tumbuhan petatas pantai (Ipomoea sp.)
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Danyel Bafat)

Masyarakat lokal membersihkan akar-akar tumbuhan Ipomoea saat pembuatan kandang relokasi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Danyel Bafat)

Dalam presentasinya, Yusup juga menjelaskan bahwa tim Pemantauan Penyu dan Perlindungan Sarang dari Program Sains untuk Konservasi, LPPM UNIPA, melalui berbagai percobaan di lapangan, telah menemukan solusi untuk meningkatkan penetasan sarang penyu yang terancam oleh akar tumbuhan Ipomoea. Sarang penyu belimbing dipindahkan ke kandang relokasi dengan dasar pasir yang telah dibersihkan dari akar Ipomoea. Metode ini meningkatkan tingkat keberhasilan penetasan, dari yang sebelumnya rata-rata 0%, menjadi 53% pada tahun 2024 dan 47% pada tahun 2025.

Hasil ini menegaskan bahwa usaha perlindungan sarang di Pantai Jeen Womom terus berinovasi dalam menjawab berbagai ancaman terhadap sarang penyu.

Foto tim bersama masyarakat lokal 
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Masyarakat lokal pun berperan aktif dalam pembuatan kandang relokasi dan serta pemindahan sarang ke kandang relokasi. Semua kandang relokasi di Jeen Womom dibuat oleh kelompok masyarakat, seperti di Pantai Jeen Syuab, masyarakat dari Kampung Wau dan Weyaf yang berdekatan dengan pantai tersebut yang membuat kandang-kandang ini. Masyarakat harus memastikan untuk membersihkan tumbuhan serta akar-akar tumbuhan Ipomoea setelah konstruksi rangka dan atap selesai. Tiap tahunnya kurang lebih ada 6 kandang relokasi yang beroperasi di Pantai Jeen Syuab.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Categories
New Template Uncategorized @id

Pengumuman Hasil Seleksi Tahap 1 KP2, TLP2 dan TPS Tahun 2026

Pengumuman Hasil Seleksi Tahap 1 KP2, TLP2 dan TPS Tahun 2026

Salam Lestari…

Kami mengucapkan terima kasih untuk semua peserta yang telah melamar posisi ini. Panitia Perekrutan telah selesai melakukan Seleksi Tahap 1. Dari hasil seleksi Tahap 1, sebanyak 11 orang calon KP2, 13 orang calon TLP2, dan 7 orang calon TPS dinyatakan lulus, dengan total keseluruhan 31 orang. Berikut (terlampir pdf) kami sampaikan nama-nama yang diundang untuk menghadiri Tahap SELEKSI TAHAP 2. Dokumen tersebut terdiri dari 2 halaman, harap diperiksa dengan saksama. Keputusan Panitia Seleksi tidak dapat diganggu gugat. Dengan hormat kami sampaikan beberapa hal sebagai berikut.

1. Wawancara dilaksanakan secara online melalui zoom pada tanggal 26 Maret 2026

2. Peserta diharapkan telah hadir 10 menit sebelum waktu wawancara di ruang zoom
yang telah disediakan (link zoom menyusul)

3. Teknis pelaksanaan wawancara akan disampaikan melalui WAG sehingga pastikan
anda telah tergabung dalam WAG yang diperoleh ketika mendaftar pertama kali

4. Bila kesulitan bergabung dalam grup WA atau ada pertanyaan, silakan menghubungi Narahubung Perekrutan melalui WA: 0813-4331-3836

Kami ucapkan selamat kepada para peserta yang masuk ke tahap selanjutnya.
Sampai bertemu di seleksi selanjutnya

Categories
New Template Uncategorized @id

Khofifah: Dari Konservasi ke Kontemplasi​

Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut

Cerita lapangan dari para pendamping kampung dan pelindung penyu di Kepala Burung Papua

Khofifah: Dari Konservasi ke Kontemplasi

Penulis

Khofifah Indah Pratiwi Syahrudin

Tanggal

11 Februari 2026

Dalam seri “Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut”, kami mengajak pembaca menyelami kisah nyata orang-orang yang hidup berdampingan dengan penyu dan laut. Melalui suara mereka, kita belajar mencintai dan menjaga laut bersama.

Panggilan yang Membawa ke Timur

Semuanya berawal dari sebuah postingan di Instagram milik Science for Conservation yang di-repost salah satu akun komunitas konservasi di Sulawesi Tengah tentang pembukaan lowongan kru pantai peneluran penyu. Awalnya aku tidak berniat untuk mendaftar, tetapi ada sesuatu yang menarik perhatian dan membuatku mencoba melengkapi semua berkas. Tak ada ekspektasi besar untuk diterima, namun Tuhan berkehendak lain.

Aku berangkat dari Sulawesi menuju Manokwari—tempat yang bahkan belum pernah kupijak sebelumnya. Perjalanan ini terasa seperti keputusan besar, karena aku datang tanpa siapa-siapa, hanya membawa keyakinan dan rasa ingin tahu tentang dunia konservasi, khususnya penyu.

Aku pernah meneliti kura-kura saat kuliah, dan dari situlah muncul pertanyaan sederhana: “Bagaimana kalau kali ini aku belajar dari penyu?” Akhirnya, aku tiba di pantai tempat aku akan tinggal selama berbulan-bulan. Saat pertama kali menginjakkan kaki di pasir, aku terdiam lama—menyadari bahwa langkah kecil ini akan menjadi awal dari perjalanan besar.

Foto bersama tamu dari luar negeri yang ingin melihat penyu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Foto bersama tim pantai dan tim pemberdayaan masyarakat S4C
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Kehidupan di Lapangan: Antara Dini Hari dan Cahaya Bulan

Kehidupan di pantai dimulai ketika kebanyakan orang sedang tidur. Setiap malam pukul sepuluh, kami memulai patroli di bawah cahaya bulan, berjalan menyusuri pasir sejauh beberapa kilometer hingga dini hari. Suara ombak dan gelapnya menyesuaikan diri.

Malam-malam itu menjadi saksi untuk pertama kalinya aku menemukan jejak penyu, lalu bertemu langsung dengan penyu belimbing pertamaku—raksasa lembut yang membuatku kagum, gugup sekaligus takut. Saat memasang Passive Integrated Transponder (PIT) tag untuk pertama kali, aku menangis. Sebab aku takut menyakiti penyu belimbing tersebut, tetapi setelah aku berhasil melakukan pemasangan chip pada induk penyu belimbing aku sadar bahwa, aku sedang menjadi bagian kecil dari upaya menjaga kehidupan.

Keesokan harinya, kami melindungi sarang-sarang penyu. Ada sarang yang harus dipindahkan karena terlalu dekat dengan ombak, ada yang diberi pagar daun pakis agar aman dari predator. Di sanalah aku belajar bahwa setiap tindakan kecil, seperti menancapkan pagar atau memindahkan telur, punya arti besar untuk kelangsungan hidup mereka.

Rasa lelah terbayar setiap kali melihat tukik menetas dan berlari menuju laut. Ada rasa haru yang sulit dijelaskan—seolah setiap langkah kecil mereka membawa pesan bahwa kehidupan selalu menemukan jalannya.

Khofifah dan tim melakukan pengukuran terhadap penyu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Tukik penyu belimbing
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Khofifah Pratiwi)

Interaksi dan Toleransi: Cerita di Balik Konservasi

Awalnya, beradaptasi dengan tim bukan hal yang mudah. Logat mereka cepat, nada bicara tinggi, dan aku sempat mengira mereka marah. Namun ternyata, itulah cara mereka menunjukkan keakraban. Lama-kelamaan, suasana berubah. Dari yang awalnya pendiam, aku menjadi orang yang suka bercanda, ikut tertawa, bahkan saling roasting satu sama lain.

Aku satu-satunya yang muslim di antara mereka semua di awal musim, akan tetapi mereka menerimaku sepenuhnya. Mereka menghargai waktuku untuk ibadah dan sebaliknya, dan aku belajar bahwa perbedaan bukan penghalang, melainkan justru memperkaya. Dari mereka, aku belajar banyak hal: tentang keterbukaan, tentang cara berkomunikasi yang jujur, dan tentang keluarga yang bisa terbentuk tanpa ikatan darah.

Di sisi lain, aku juga menyadari bahwa pendidikan di sekitar pantai peneluran memegang peran penting. Di salah satu kampung di sekitar pantai peneluran penyu, ada sekolah yang hanya memiliki satu atau dua guru untuk mengajar beberapa kelas sekaligus. Di tengah keterbatasan itu Science for Conservation juga menghadirkan rumah belajar—tempat anak-anak bisa menambah pengetahuan mereka di sore hari. Dari sana aku sadar, konservasi bukan hanya tentang menjaga penyu, tetapi juga tentang memberdayakan manusia agar tumbuh bersama alamnya.

Ombak, Arus dan Keberanian

Tak semua hari di pantai berjalan dengan tenang. Ada hari-hari ketika laut bergelombang tinggi dan arus terasa kuat. Saat itu, keberanian diuji. Aku masih ingat momen ketika kami harus mendorong perahu ke laut, menghitung waktu di antara ombak agar tidak terbalik. Terkadang mesin perahu tidak mau menyala, membuat detak jantungku berpacu. Tetapi setiap kali perahu berhasil menembus ombak, ada rasa lega dan bangga yang sulit dijelaskan. Dari laut, aku belajar bahwa keberanian bukan berarti tanpa rasa takut, tetapi tentang tetap bergerak meski takut ada.

Foto bersama setelah mencari udang di sungai
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Penutup: Menjaga yang Hidup, Menemukan yang Bermakna

Lima bulan di pantai peneluran penyu mengubah banyak hal dalam diriku. Aku yang dulu ragu kini lebih percaya diri, lebih berani, dan lebih memahami arti kesabaran. Konservasi bukan hanya tentang menjaga penyu, hutan, atau laut, tetapi juga tentang menjaga nurani manusia agar tetap peka terhadap kehidupan.

Dari pasir yang lembut hingga ombak yang keras, aku belajar bahwa setiap bentuk kehidupan punya caranya sendiri untuk bertahan, dan tugas kita hanyalah menghormati ritme itu. Setiap tukik yang dilepaskan ke laut mengingatkanku bahwa menjaga kehidupan juga berarti berani melepaskan—melepaskan ego, ketakutan, dan keinginan untuk selalu mengendalikan.

Dari pantai ini, aku tidak hanya menemukan makna konservasi, tetapi juga menemukan diriku yang lebih utuh. Bahwa menjaga alam, sejatinya, adalah belajar hidup selaras dengannya.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Categories
Uncategorized @id

Tenaga Perlindungan Sarang (TPS) 2026

Tenaga Perlindungan Sarang (TPS)

Kegiatan Pemantauan Penyu dan Perlindungan Sarang adalah kegiatan yang dilaksanakan Program Sains untuk Konservasi dibawah naungan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Papua (LPPM UNIPA) di Taman Pesisir Jeen Womom, Kabupaten Tambrauw, Provinsi Papua Barat Daya. Aktivitas pemantauan penyu dan perlindungan sarang dilakukan di pantai peneluran Jeen Yessa dan Jeen Syuab yang merupakan lokasi peneluran penyu belimbing terbesar yang tersisa di Samudera Pasifik. Selain penyu belimbing terdapat pula penyu lekang, penyu hijau, dan penyu sisik bertelur di kedua pantai tersebut. Setiap tahun, dapat ditemukan sekitar 4.000 sarang penyu di pantai Jeen Yessa dan Jeen Syuab. Pemantauan aktivitas peneluran penyu dilakukan agar status populasi penyu dapat dievaluasi dan perlindungan sarang dilakukan agar produksi tukik (anak penyu) maksimal untuk menopang populasi. Pada periode awal April – tengah Oktober 2026, kami membutuhkan tenaga perlindungan sarang sebanyak 3 orang setiap 3 bulan (April – Juni, Juni – Oktober) dengan tugas utama melindungi sarang penyu dari berbagai ancaman dengan metode yang telah dikaji secara ilmiah dan melakukan evaluasi sukses penetasan pada masa penetasan. Tenaga perlindungan sarang juga diharapkan membantu tim S4C LPPM UNIPA dalam melakukan tugas-tugas yang lain. Kesempatan ini terbuka bagi lulusan D3 atau S1, terutama dalam bidang Biologi, Perikanan, Ilmu Kelautan, dan Kehutanan.

Manfaat yang diterima oleh Tenaga Perlindungan Sarang

1. Pengalaman langsung bekerja di habitat alami penyu di pantai peneluran
2. Dukungan finansial melalui kompensasi bulanan
3. Perlindungan kerja dengan Jaminan Kecelakaan Kerja
4. Fasilitas transportasi dari Manokwari ke lokasi kerja ditanggung program (transportasi dari luar daerah ke Manokwari ditanggung sendiri)
5. Konsumsi selama di lapangan disediakan oleh program

Persyaratan

1. Mampu bekerja selama periode kerja
2. Usia maksimal 30 tahun per tanggal 1 Januari 2026 dibuktikan dengan salinan Kartu Tanda Penduduk (KTP)**
3. Lulusan D3 atau S1, dibuktikan dengan salinan ijazah pendidikan terakhir*
4. Mengunggah transkrip nilai pendidikan terakhir*
6. Mengunggah resume atau CV*
7. Diutamakan yang memiliki pengalaman bekerja di lapangan/tempat terpencil
Diutamakan yang berdomisili di Manokwari dan Tanah Papua
8. Bila berdomisili di luar Manokwari, mampu menanggung sendiri biaya transportasi ke Manokwari
9. Mengunggah salinan kartu BPJS Kesehatan atau asuransi kesehatan lainnya**
10. Foto close up ukuran 3 x 4 maksimal 1 MB**

Linimasa

📌 9 – 25 Feb 2026: Pendaftaran
📌 26 Feb – 11 Mar 2026: Seleksi Tahap 1
📌 13 Mar 2026: Pengumuman Hasil Seleksi Tahap 1
📌 26 Mar 2026: Seleksi Tahap 2 (Wawancara)
📌 30 Mar 2026: Pengumuman Hasil Seleksi Tahap 2
📌 6 Apr 2026: Penandatangan kontrak dan pembekalan

Keterangan
*) Melampirkan file PDF dengan ukuran maksimal 1 MB
**) Melampirkan file JPG/JPEG dengan ukuran maksimal 1 MB

Kuota: 3 orang/periode

Periode 1: 1 April – 30 Juni 2026

Periode 2: 15 Juni – 15 Oktober 2026

Ingin membantu membangun program pelestarian penyu yang berkelanjutan?

Jika iya, daftarkan dirimu segera, paling lambat Tanggal 25 Februari 2026 Pukul 23:59 WIT! mungkin kamu orang yang kami butuhkan!

Ada hal yang ingin ditanyakan terkait lowongan ini? Jika iya, hubungi admin kami pada hari Senin-Jumat, pukul 09.00-17.00 WIT

Bagikan

Bagikan informasi lowongan kerja ini kepada teman dan sanak saudara Anda melalui sosial media yang Anda miliki!

Categories
Uncategorized @id

Tenaga Lapang Pantai Peneluran (TLP2) 2026

Tenaga Lapang Pantai Peneluran (TLP2)

Kegiatan Pemantauan Penyu dan Perlindungan Sarang adalah kegiatan yang dilaksanakan Program Sains untuk Konservasi dibawah naungan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Papua (LPPM UNIPA) di Taman Pesisir Jeen Womom, Kabupaten Tambrauw, Provinsi Papua Barat Daya. Aktivitas pemantauan penyu dan perlindungan sarang dilakukan di pantai peneluran Jeen Yessa dan Jeen Syuab yang merupakan lokasi peneluran penyu belimbing terbesar yang tersisa di Samudera Pasifik. Selain penyu belimbing terdapat pula penyu lekang, penyu hijau, dan penyu sisik bertelur di kedua pantai tersebut. Setiap tahun, dapat ditemukan sekitar 4.000 sarang penyu di pantai Jeen Yessa dan Jeen Syuab. Pemantauan aktivitas peneluran penyu dilakukan agar status populasi penyu dapat dievaluasi dan perlindungan sarang dilakukan agar produksi tukik (anak penyu) maksimal untuk menopang populasi.

Pada periode April – Oktober 2026, kami membutuhkan Tenaga Lapangan sebanyak 4 orang dengan tugas sebagai berikut:

1. Memantau aktivitas peneluran semua jenis penyu dengan melaksanakan patroli pagi
2. Mendata induk penyu saat patroli malam
3. Melindungi sarang-sarang penyu dengan menerapkan metode yang telah dikaji secara ilmiah
4. Melakukan evaluasi sukses penetasan sarang
5. Mendokumentasi perubahan habitat peneluran dengan mengukur lebar pantai dan suhu pasir
6. Membantu pelaksanaan penelitian ilmiah untuk menunjang upaya pelestarian penyu

Manfaat yang diterima oleh Tenaga Lapangan

1. Kesempatan berharga untuk terlibat langsung dalam konservasi penyu di habitat alaminya
2. Pembelajaran langsung dalam pemantauan aktivitas peneluran dan perlindungan sarang
3. Kompensasi bulanan sesuai ketentuan program
4. Jaminan Kecelakaan Kerja sebagai perlindungan selama bertugas
5. Fasilitas transportasi dari Manokwari ke lokasi kerja disediakan (transportasi dari luar daerah ke Manokwari menjadi tanggung jawab pribadi)
6. Akomodasi dan konsumsi selama di lapangan ditanggung program

Persyaratan

1. Mampu bekerja selama periode kerja
2. Usia maksimal 35 tahun per tanggal 1 Januari 2026 dibuktikan dengan salinan Kartu Tanda Penduduk (KTP)**
3. Lulusan D3 atau S1, dibuktikan dengan salinan ijazah pendidikan terakhir*
4. Lulusan Biologi, Perikanan, Ilmu Kelautan, dan Kehutanan menjadi nilai tambah
5. Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) minimal 2,5 dibuktikan dengan transkrip nilai pendidikan terakhir*
6. Mengunggah resume atau CV*
7. Memiliki pengalaman bekerja di pantai peneluran penyu ataupun pengalaman lain yang relevan
8. Mampu mengoperasikan Microsoft Excel
9. Diutamakan yang berdomisili di Manokwari dan Tanah Papua
10. Bila berdomisili di luar Manokwari, mampu menanggung sendiri biaya transportasi ke Manokwari
11. Mengunggah salinan kartu BPJS Kesehatan atau asuransi kesehatan lainnya**
12. Foto close up ukuran 3×4 maksimal 1 MB**

Linimasa

📌 9 – 25 Feb 2026: Pendaftaran
📌 26 Feb – 11 Mar 2026: Seleksi Tahap 1
📌 13 Mar 2026: Pengumuman Hasil Seleksi Tahap 1
📌 26 Mar 2026: Seleksi Tahap 2 (Wawancara)
📌 30 Mar 2026: Pengumuman Hasil Seleksi Tahap 2
📌 6 Apr 2026: Penandatangan kontrak dan pembekalan

Keterangan
*) Melampirkan file PDF dengan ukuran maksimal 1 MB
**) Melampirkan file JPG/JPEG dengan ukuran maksimal 1 MB

Kuota: 4 orang

Periode: April – Oktober 2026

Ingin membantu membangun program pelestarian penyu yang berkelanjutan?

Jika iya, daftarkan dirimu segera, paling lambat Tanggal 25 Februari 2026 Pukul 23:59 WIT! mungkin kamu orang yang kami butuhkan!

Ada hal yang ingin ditanyakan terkait lowongan ini? Jika iya, hubungi admin kami pada hari Senin-Jumat, pukul 09.00-17.00 WIT

Bagikan

Bagikan informasi lowongan kerja ini kepada teman dan sanak saudara Anda melalui sosial media yang Anda miliki!

Categories
Uncategorized @id

Koordinator Pantai Peneluran (KP2) 2026

Koordinator Pantai Peneluran (KP2)

Kegiatan Pemantauan Penyu dan Perlindungan Sarang adalah kegiatan yang dilaksanakan Program Sains untuk Konservasi dibawah naungan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Papua (LPPM UNIPA) di Taman Pesisir Jeen Womom, Kabupaten Tambrauw, Provinsi Papua Barat Daya. Aktivitas pemantauan penyu dan perlindungan sarang dilakukan di pantai peneluran Jeen Yessa dan Jeen Syuab yang merupakan lokasi peneluran penyu belimbing terbesar yang tersisa di Samudera Pasifik. Selain penyu belimbing terdapat pula penyu lekang, penyu hijau, dan penyu sisik bertelur di kedua pantai tersebut. Setiap tahun, dapat ditemukan sekitar 4.000 sarang penyu di pantai Jeen Yessa dan Jeen Syuab. Pemantauan aktivitas peneluran penyu dilakukan agar status populasi penyu dapat dievaluasi dan perlindungan sarang dilakukan agar produksi tukik (anak penyu) maksimal untuk menopang populasi.

Pada periode April – Oktober 2026, kami membutuhkan Koordinator Pantai sebanyak 4 orang dengan tugas sebagai berikut:

1. Mengkoordinir tim pemantauan penyu dan perlindungan sarang yang terdiri dari tenaga lapangan, tenaga perlindungan sarang, dan tenaga patroli lokal dari hari ke hari.
2. Melatih, mendampingi, dan mengevaluasi tenaga lapangan, tenaga perlindungan sarang, dan tenaga patroli lokal agar kualitas kerja terjamin.
3. Melaksanakan seluruh program kerja sesuai rencana dan panduan kerja.
4. Mengelola dan menjamin kualitas data dari lapangan.
5. Mempertanggungjawabkan penggunaan dana dengan jujur dan tepat waktu, dan sesuai SOP Keuangan Program.

Manfaat yang diterima oleh Koordinator Pantai

1. Kesempatan bekerja di pantai peneluran penyu
2. Mendapatkan pengalaman mengelola tim
3. Kompensasi disesuaikan dengan pengalaman kerja
4. Mendapatkan Jaminan Kecelakaan Kerja
5. Biaya transportasi dari Manokwari ke lapangan ditanggung program. Transportasi dari luar daerah ke Manokwari ditanggung sendiri
6. Konsumsi selama di lapangan ditanggung program

Persyaratan

1. Mampu bekerja selama periode kerja
2. Usia maksimal 40 tahun per tanggal 1 Januari 2026 dibuktikan dengan salinan Kartu Tanda Penduduk (KTP)**
3. Memiliki pengalaman memimpin tim dan bekerja di pantai peneluran/lokasi terpencil yang dituliskan dalam resume atau CV*
4. Lulusan D3 atau S1, dibuktikan dengan salinan ijazah pendidikan terakhir*
5. Lulusan Biologi, Perikanan, Ilmu Kelautan, dan Kehutanan menjadi nilai tambah
6. Melampirkan transkrip nilai pendidikan terakhir*
7. Mampu mengoperasikan Microsoft Excel
8. Diutamakan yang berdomisili di Manokwari dan Tanah Papua
9. Bila berdomisili di luar Manokwari, mampu menanggung sendiri biaya transportasi ke Manokwari
10. Mengunggah salinan kartu BPJS Kesehatan atau asuransi kesehatan lainnya**
11. Foto close up ukuran 3×4 maksimal 1 MB**

Linimasa

📌 9 – 25 Feb 2026: Pendaftaran
📌 26 Feb – 11 Mar 2026: Seleksi Tahap 1
📌 13 Mar 2026: Pengumuman Hasil Seleksi Tahap 1
📌 26 Mar 2026: Seleksi Tahap 2 (Wawancara)
📌 30 Mar 2026: Pengumuman Hasil Seleksi Tahap 2
📌 6 Apr 2026: Penandatangan kontrak dan pembekalan

Keterangan
*) Melampirkan file PDF dengan ukuran maksimal 1 MB
**) Melampirkan file JPG/JPEG dengan ukuran maksimal 1 MB

Kuota: 4 orang

Periode: April – Oktober 2026

Ingin membantu membangun program pelestarian penyu yang berkelanjutan?

Jika iya, daftarkan dirimu segera, paling lambat Tanggal 25 Februari 2026 Pukul 23:59 WIT! mungkin kamu orang yang kami butuhkan!

Ada hal yang ingin ditanyakan terkait lowongan ini? Jika iya, hubungi admin kami pada hari Senin-Jumat, pukul 09.00-17.00 WIT

Bagikan

Bagikan informasi lowongan kerja ini kepada teman dan sanak saudara Anda melalui sosial media yang Anda miliki!

Categories
New Template Uncategorized @id

Pelatihan PMNH Digelar: Perkuat Kesiapan Kerja Lapangan Tahun 2026

Pelatihan PMNH Digelar: Perkuat Kesiapan Kerja Lapangan Tahun 2026

Penulis

Liana Mongdong, Kartika Zohar

Tanggal

08 Februari 2026

Pelatihan Pendamping Masyarakat dan Narahubung (PMNH) telah dilaksanakan pada 28–30 Januari 2026 di Ruang Fakultas Teknologi Pertanian (FATETA) sebagai bagian dari upaya pemberdayaan masyarakat di Taman Pesisir (TP) Jeen Womom, Kabupaten Tambrauw, Papua Barat Daya.

Pelatihan ini dibuka oleh Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Papua (UNIPA), Freddy Pattiselanno. Selain 11 orang PMNH, pelatihan ini juga mengikutsertakan 6 mahasiswa yang akan melakukan Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) UNIPA. Kegiatan di lapangan dilakukan hingga April 2026.

Kegiatan ini bertujuan untuk membekali peserta dengan pemahaman menyeluruh terkait program, keterampilan teknis lapangan, serta kemampuan bekerja secara kolaboratif dan profesional. Materi yang diberikan mencakup pengenalan program pelestarian penyu, pengelolaan administrasi dan pelaporan keuangan kegiatan, pembagian tim dan lokasi kerja, serta pelaksanaan program pendidikan formal dan informal bagi masyarakat.

Proses tanda tangan kontrak
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Pemaparan materi pengelolaan keuangan
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Pada hari pertama, sebelum pelatihan dimulai, PMNH melakukan penandatanganan kontrak kerja. Tanda tangan di atas kertas itu bukan sekadar formalitas, melainkan pernyataan komitmen dan tanggung jawab nyata untuk mendampingi masyarakat Jeen Womom.

Setelah menandatangani kontrak, materi yang diterima di hari pertama fokus pada fondasi program. Para peserta diajak mendalami visi misi pelestarian penyu, sistem administrasi dan keuangan yang akuntabel, mekanisme pelaporan lapangan, serta strategi mengelola kegiatan pendidikan melalui rumah belajar. Materi-materi ini menjadi panduan operasional mereka selama empat bulan ke depan.

Hari kedua diisi dengan praktik mengajar Membaca, Menulis, dan Berhitung (Calistung), Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH), teknik dokumentasi kegiatan, pengembangan keterampilan pendukung, serta materi team building dan manajemen konflik. Sementara itu, di hari terakhir, difokuskan pada materi pembuatan minyak kelapa yang bersih dan higienis, pengelolaan rumah produksi, pengenalan biologi penyu dan upaya konservasinya, serta praktik mengajar Computer English (Comeng) untuk anak usia PAUD hingga SD.

Praktik cara mengajar calistung
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Belajar merajut amigurumi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Pelatihan ini ditutup oleh Pengelola Program Sains untuk Konservasi, Fitryanti Pakiding, dengan harapan para Pendamping Masyarakat dan Narahubung memiliki kesiapan pengetahuan, keterampilan, serta komitmen yang kuat untuk mendukung keberhasilan dan keberlanjutan program di lapangan.

Dengan bekal yang komprehensif ini, para PMNH dan mahasiswa KKNT UNIPA siap turun ke masyarakat. Mereka bukan hanya menjadi perpanjangan tangan program, tetapi juga mitra belajar dan agen perubahan yang diharapkan dapat menuliskan cerita baru tentang pemberdayaan dan pelestarian di Taman Pesisir Jeen Womom. Perjalanan panjang dimulai dari sini.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya