Categories
Monitoring Sosial Survei New Template

Musim yang Berubah, Kehidupan Pesisir Terdampak

Musim yang Berubah, Kehidupan Pesisir Terdampak

Penulis

Jeniffer Maleke, Rafly Rumere, Kezia Salosso, Arnoldus Ananta

Tanggal

16 Februari 2026

“Bapa/Mama/Saudara/i, kami ingin mengajak untuk bersama-sama mengamati perubahan cuaca dan iklim yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Apakah Bapa/Mama/Saudara/i pernah merasakan adanya pergeseran pola cuaca? Apakah perubahan tersebut berdampak pada mata pencaharian utama Bapa/Mama/Saudara/i, baik secara positif maupun negatif?” Pertanyaan-pertanyaan di atas adalah beberapa contoh pertanyaan yang kami lontarkan dalam survei sosial. Pertanyaan tersebut menjadi penting untuk dipahami, mengingat cuaca merupakan kondisi atmosfer jangka pendek yang dapat berubah setiap saat (jam, hari, minggu), sementara iklim adalah pola cuaca rata-rata yang berlangsung dalam jangka waktu panjang (tahunan) di suatu wilayah.

Keindahan alam yang menjadi ciri khas suatu daerah tidak sepenuhnya terlepas dari ancaman perubahan iklim. Raja Ampat, yang dikenal luas dengan bentang alamnya yang indah dan kekayaan lautnya, dalam beberapa tahun terakhir mengalami perubahan kondisi cuaca yang semakin sulit diprediksi. Perubahan ini hadir dalam bentuk yang sederhana, namun nyata dan semakin terasa dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.

Secara umum, perubahan iklim merujuk pada perubahan jangka panjang pada pola cuaca dan suhu bumi. Dalam kajian ilmiah, perubahan iklim sering dikaitkan dengan meningkatnya frekuensi cuaca ekstrem dan pergeseran musim. Namun, bagi masyarakat pesisir, perubahan tersebut lebih dulu dirasakan sebagai perubahan cuaca harian yang memengaruhi aktivitas dan penghidupan mereka.

Kepulauan Kofiau, Raja Ampat, menjadi salah satu wilayah di mana perubahan cuaca dan musim semakin terasa dalam kehidupan sehari-hari. Aktivitas masyarakat, terutama berkebun, melaut, serta mengolah kopra, menjadi bagian yang terdampak langsung oleh perubahan tersebut. Musim hujan kini terasa lebih sering dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, sementara waktu datangnya musim angin, khususnya angin selatan, tidak lagi dapat diprediksi mengikuti “perhitungan orang tua dulu”. Pola musim yang dahulu menjadi pegangan dalam menentukan waktu melaut perlahan berubah, menciptakan ketidakpastian yang terus dirasakan oleh masyarakat.

Nelayan sedang mendayung di Kampung Balal
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Jeniffer Maleke)

Proses penjemuran ikan asin di Kampung Balal
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Jelly Palle)

Berdasarkan pengamatan selama survei lapangan pada tahun 2025, perubahan cuaca memberi dampak yang beragam. Selain waktu musim yang berubah, curah hujan juga semakin meningkat. Di satu sisi, curah hujan yang tinggi membuat tanaman di kebun tumbuh lebih subur. Namun disisi lain, hujan yang berlangsung terus-menerus justru membatasi aktivitas masyarakat.

Saat hujan turun, masyarakat kesulitan pergi berkebun karena lokasi kebun yang jauh dari kampung serta medan yang tidak mendukung. Nelayan juga tidak dapat beraktivitas secara maksimal. Kondisi cuaca yang tidak stabil membuat mereka tidak bisa melaut jauh dan sering kali hanya mencari hasil laut sebatas untuk konsumsi keluarga. Proses penjemuran ikan untuk dijadikan ikan asin pun menjadi sulit dilakukan dan membutuhkan waktu lebih lama hingga siap dipasarkan. Terhambatnya aktivitas ini turut memengaruhi kondisi ekonomi keluarga.

Ketergantungan masyarakat pada alam tidak hanya terlihat dari aktivitas melaut dan berkebun, tetapi juga dari kegiatan pembuatan serta penjualan kopra. Perubahan cuaca, terutama hujan yang berkepanjangan, memengaruhi kelancaran proses pembuatannya, mulai dari pengumpulan kelapa hingga proses pengasapan atau pengeringan untuk menghasilkan kopra.

Dampak perubahan cuaca juga terlihat langsung pada kondisi lingkungan kampung. Saat hujan turun dalam waktu lama atau ketika cuaca ekstrem terjadi, air tergenang di dalam kampung, terutama di wilayah pinggiran pantai, bahkan hingga masuk ke rumah-rumah masyarakat. Selain itu, abrasi pantai semakin dirasakan. Pengikisan garis pantai dan genangan air yang semakin sering menimbulkan kekhawatiran akan keberlanjutan ruang hidup masyarakat pesisir.

Genangan air pasca hujan yang terjadi di Kampung Deer
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Jeniffer Maleke)

Genangan air pasca hujan yang terjadi di Kampung Deer
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Jeniffer Maleke)

Ketidakpastian cuaca turut berdampak pada akses dan mobilitas. Ketika cuaca ekstrem terjadi, kapal yang beroperasi di kampung-kampung tidak selalu dapat mencapai tujuan dan terkadang harus kembali ke Sorong. Kondisi ini membuat masyarakat semakin merasakan keterbatasan akses, terutama dalam situasi darurat atau ketika ada kebutuhan mendesak.

Cerita dari Kepulauan Kofiau mengajak kita untuk kembali merenung: apakah perubahan cuaca dan musim yang dirasakan masyarakat pesisir ini merupakan bagian dari perubahan iklim yang sedang berlangsung, atau ada faktor lain yang turut memperbesar risiko yang mereka hadapi? Apa pun jawabannya, Kepulauan Kofiau menunjukkan bahwa masyarakat pesisir berada di garis depan dalam menghadapi dampak perubahan cuaca dan iklim. Perubahan ini bukan sekadar isu global, melainkan kenyataan yang setiap hari memengaruhi cara masyarakat hidup, bekerja, dan bertahan.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Categories
Uncategorized @id

Tenaga Perlindungan Sarang (TPS) 2026

Tenaga Perlindungan Sarang (TPS)

Kegiatan Pemantauan Penyu dan Perlindungan Sarang adalah kegiatan yang dilaksanakan Program Sains untuk Konservasi dibawah naungan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Papua (LPPM UNIPA) di Taman Pesisir Jeen Womom, Kabupaten Tambrauw, Provinsi Papua Barat Daya. Aktivitas pemantauan penyu dan perlindungan sarang dilakukan di pantai peneluran Jeen Yessa dan Jeen Syuab yang merupakan lokasi peneluran penyu belimbing terbesar yang tersisa di Samudera Pasifik. Selain penyu belimbing terdapat pula penyu lekang, penyu hijau, dan penyu sisik bertelur di kedua pantai tersebut. Setiap tahun, dapat ditemukan sekitar 4.000 sarang penyu di pantai Jeen Yessa dan Jeen Syuab. Pemantauan aktivitas peneluran penyu dilakukan agar status populasi penyu dapat dievaluasi dan perlindungan sarang dilakukan agar produksi tukik (anak penyu) maksimal untuk menopang populasi. Pada periode awal April – tengah Oktober 2026, kami membutuhkan tenaga perlindungan sarang sebanyak 3 orang setiap 3 bulan (April – Juni, Juni – Oktober) dengan tugas utama melindungi sarang penyu dari berbagai ancaman dengan metode yang telah dikaji secara ilmiah dan melakukan evaluasi sukses penetasan pada masa penetasan. Tenaga perlindungan sarang juga diharapkan membantu tim S4C LPPM UNIPA dalam melakukan tugas-tugas yang lain. Kesempatan ini terbuka bagi lulusan D3 atau S1, terutama dalam bidang Biologi, Perikanan, Ilmu Kelautan, dan Kehutanan.

Manfaat yang diterima oleh Tenaga Perlindungan Sarang

1. Pengalaman langsung bekerja di habitat alami penyu di pantai peneluran
2. Dukungan finansial melalui kompensasi bulanan
3. Perlindungan kerja dengan Jaminan Kecelakaan Kerja
4. Fasilitas transportasi dari Manokwari ke lokasi kerja ditanggung program (transportasi dari luar daerah ke Manokwari ditanggung sendiri)
5. Konsumsi selama di lapangan disediakan oleh program

Persyaratan

1. Mampu bekerja selama periode kerja
2. Usia maksimal 30 tahun per tanggal 1 Januari 2026 dibuktikan dengan salinan Kartu Tanda Penduduk (KTP)**
3. Lulusan D3 atau S1, dibuktikan dengan salinan ijazah pendidikan terakhir*
4. Mengunggah transkrip nilai pendidikan terakhir*
6. Mengunggah resume atau CV*
7. Diutamakan yang memiliki pengalaman bekerja di lapangan/tempat terpencil
Diutamakan yang berdomisili di Manokwari dan Tanah Papua
8. Bila berdomisili di luar Manokwari, mampu menanggung sendiri biaya transportasi ke Manokwari
9. Mengunggah salinan kartu BPJS Kesehatan atau asuransi kesehatan lainnya**
10. Foto close up ukuran 3 x 4 maksimal 1 MB**

Linimasa

📌 9 – 25 Feb 2026: Pendaftaran
📌 26 Feb – 11 Mar 2026: Seleksi Tahap 1
📌 13 Mar 2026: Pengumuman Hasil Seleksi Tahap 1
📌 26 Mar 2026: Seleksi Tahap 2 (Wawancara)
📌 30 Mar 2026: Pengumuman Hasil Seleksi Tahap 2
📌 6 Apr 2026: Penandatangan kontrak dan pembekalan

Keterangan
*) Melampirkan file PDF dengan ukuran maksimal 1 MB
**) Melampirkan file JPG/JPEG dengan ukuran maksimal 1 MB

Kuota: 3 orang/periode

Periode 1: 1 April – 30 Juni 2026

Periode 2: 15 Juni – 15 Oktober 2026

Ingin membantu membangun program pelestarian penyu yang berkelanjutan?

Jika iya, daftarkan dirimu segera, paling lambat Tanggal 25 Februari 2026 Pukul 23:59 WIT! mungkin kamu orang yang kami butuhkan!

Ada hal yang ingin ditanyakan terkait lowongan ini? Jika iya, hubungi admin kami pada hari Senin-Jumat, pukul 09.00-17.00 WIT

Bagikan

Bagikan informasi lowongan kerja ini kepada teman dan sanak saudara Anda melalui sosial media yang Anda miliki!

Categories
Uncategorized @id

Tenaga Lapang Pantai Peneluran (TLP2) 2026

Tenaga Lapang Pantai Peneluran (TLP2)

Kegiatan Pemantauan Penyu dan Perlindungan Sarang adalah kegiatan yang dilaksanakan Program Sains untuk Konservasi dibawah naungan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Papua (LPPM UNIPA) di Taman Pesisir Jeen Womom, Kabupaten Tambrauw, Provinsi Papua Barat Daya. Aktivitas pemantauan penyu dan perlindungan sarang dilakukan di pantai peneluran Jeen Yessa dan Jeen Syuab yang merupakan lokasi peneluran penyu belimbing terbesar yang tersisa di Samudera Pasifik. Selain penyu belimbing terdapat pula penyu lekang, penyu hijau, dan penyu sisik bertelur di kedua pantai tersebut. Setiap tahun, dapat ditemukan sekitar 4.000 sarang penyu di pantai Jeen Yessa dan Jeen Syuab. Pemantauan aktivitas peneluran penyu dilakukan agar status populasi penyu dapat dievaluasi dan perlindungan sarang dilakukan agar produksi tukik (anak penyu) maksimal untuk menopang populasi.

Pada periode April – Oktober 2026, kami membutuhkan Tenaga Lapangan sebanyak 4 orang dengan tugas sebagai berikut:

1. Memantau aktivitas peneluran semua jenis penyu dengan melaksanakan patroli pagi
2. Mendata induk penyu saat patroli malam
3. Melindungi sarang-sarang penyu dengan menerapkan metode yang telah dikaji secara ilmiah
4. Melakukan evaluasi sukses penetasan sarang
5. Mendokumentasi perubahan habitat peneluran dengan mengukur lebar pantai dan suhu pasir
6. Membantu pelaksanaan penelitian ilmiah untuk menunjang upaya pelestarian penyu

Manfaat yang diterima oleh Tenaga Lapangan

1. Kesempatan berharga untuk terlibat langsung dalam konservasi penyu di habitat alaminya
2. Pembelajaran langsung dalam pemantauan aktivitas peneluran dan perlindungan sarang
3. Kompensasi bulanan sesuai ketentuan program
4. Jaminan Kecelakaan Kerja sebagai perlindungan selama bertugas
5. Fasilitas transportasi dari Manokwari ke lokasi kerja disediakan (transportasi dari luar daerah ke Manokwari menjadi tanggung jawab pribadi)
6. Akomodasi dan konsumsi selama di lapangan ditanggung program

Persyaratan

1. Mampu bekerja selama periode kerja
2. Usia maksimal 35 tahun per tanggal 1 Januari 2026 dibuktikan dengan salinan Kartu Tanda Penduduk (KTP)**
3. Lulusan D3 atau S1, dibuktikan dengan salinan ijazah pendidikan terakhir*
4. Lulusan Biologi, Perikanan, Ilmu Kelautan, dan Kehutanan menjadi nilai tambah
5. Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) minimal 2,5 dibuktikan dengan transkrip nilai pendidikan terakhir*
6. Mengunggah resume atau CV*
7. Memiliki pengalaman bekerja di pantai peneluran penyu ataupun pengalaman lain yang relevan
8. Mampu mengoperasikan Microsoft Excel
9. Diutamakan yang berdomisili di Manokwari dan Tanah Papua
10. Bila berdomisili di luar Manokwari, mampu menanggung sendiri biaya transportasi ke Manokwari
11. Mengunggah salinan kartu BPJS Kesehatan atau asuransi kesehatan lainnya**
12. Foto close up ukuran 3×4 maksimal 1 MB**

Linimasa

📌 9 – 25 Feb 2026: Pendaftaran
📌 26 Feb – 11 Mar 2026: Seleksi Tahap 1
📌 13 Mar 2026: Pengumuman Hasil Seleksi Tahap 1
📌 26 Mar 2026: Seleksi Tahap 2 (Wawancara)
📌 30 Mar 2026: Pengumuman Hasil Seleksi Tahap 2
📌 6 Apr 2026: Penandatangan kontrak dan pembekalan

Keterangan
*) Melampirkan file PDF dengan ukuran maksimal 1 MB
**) Melampirkan file JPG/JPEG dengan ukuran maksimal 1 MB

Kuota: 4 orang

Periode: April – Oktober 2026

Ingin membantu membangun program pelestarian penyu yang berkelanjutan?

Jika iya, daftarkan dirimu segera, paling lambat Tanggal 25 Februari 2026 Pukul 23:59 WIT! mungkin kamu orang yang kami butuhkan!

Ada hal yang ingin ditanyakan terkait lowongan ini? Jika iya, hubungi admin kami pada hari Senin-Jumat, pukul 09.00-17.00 WIT

Bagikan

Bagikan informasi lowongan kerja ini kepada teman dan sanak saudara Anda melalui sosial media yang Anda miliki!

Categories
Uncategorized @id

Koordinator Pantai Peneluran (KP2) 2026

Koordinator Pantai Peneluran (KP2)

Kegiatan Pemantauan Penyu dan Perlindungan Sarang adalah kegiatan yang dilaksanakan Program Sains untuk Konservasi dibawah naungan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Papua (LPPM UNIPA) di Taman Pesisir Jeen Womom, Kabupaten Tambrauw, Provinsi Papua Barat Daya. Aktivitas pemantauan penyu dan perlindungan sarang dilakukan di pantai peneluran Jeen Yessa dan Jeen Syuab yang merupakan lokasi peneluran penyu belimbing terbesar yang tersisa di Samudera Pasifik. Selain penyu belimbing terdapat pula penyu lekang, penyu hijau, dan penyu sisik bertelur di kedua pantai tersebut. Setiap tahun, dapat ditemukan sekitar 4.000 sarang penyu di pantai Jeen Yessa dan Jeen Syuab. Pemantauan aktivitas peneluran penyu dilakukan agar status populasi penyu dapat dievaluasi dan perlindungan sarang dilakukan agar produksi tukik (anak penyu) maksimal untuk menopang populasi.

Pada periode April – Oktober 2026, kami membutuhkan Koordinator Pantai sebanyak 4 orang dengan tugas sebagai berikut:

1. Mengkoordinir tim pemantauan penyu dan perlindungan sarang yang terdiri dari tenaga lapangan, tenaga perlindungan sarang, dan tenaga patroli lokal dari hari ke hari.
2. Melatih, mendampingi, dan mengevaluasi tenaga lapangan, tenaga perlindungan sarang, dan tenaga patroli lokal agar kualitas kerja terjamin.
3. Melaksanakan seluruh program kerja sesuai rencana dan panduan kerja.
4. Mengelola dan menjamin kualitas data dari lapangan.
5. Mempertanggungjawabkan penggunaan dana dengan jujur dan tepat waktu, dan sesuai SOP Keuangan Program.

Manfaat yang diterima oleh Koordinator Pantai

1. Kesempatan bekerja di pantai peneluran penyu
2. Mendapatkan pengalaman mengelola tim
3. Kompensasi disesuaikan dengan pengalaman kerja
4. Mendapatkan Jaminan Kecelakaan Kerja
5. Biaya transportasi dari Manokwari ke lapangan ditanggung program. Transportasi dari luar daerah ke Manokwari ditanggung sendiri
6. Konsumsi selama di lapangan ditanggung program

Persyaratan

1. Mampu bekerja selama periode kerja
2. Usia maksimal 40 tahun per tanggal 1 Januari 2026 dibuktikan dengan salinan Kartu Tanda Penduduk (KTP)**
3. Memiliki pengalaman memimpin tim dan bekerja di pantai peneluran/lokasi terpencil yang dituliskan dalam resume atau CV*
4. Lulusan D3 atau S1, dibuktikan dengan salinan ijazah pendidikan terakhir*
5. Lulusan Biologi, Perikanan, Ilmu Kelautan, dan Kehutanan menjadi nilai tambah
6. Melampirkan transkrip nilai pendidikan terakhir*
7. Mampu mengoperasikan Microsoft Excel
8. Diutamakan yang berdomisili di Manokwari dan Tanah Papua
9. Bila berdomisili di luar Manokwari, mampu menanggung sendiri biaya transportasi ke Manokwari
10. Mengunggah salinan kartu BPJS Kesehatan atau asuransi kesehatan lainnya**
11. Foto close up ukuran 3×4 maksimal 1 MB**

Linimasa

📌 9 – 25 Feb 2026: Pendaftaran
📌 26 Feb – 11 Mar 2026: Seleksi Tahap 1
📌 13 Mar 2026: Pengumuman Hasil Seleksi Tahap 1
📌 26 Mar 2026: Seleksi Tahap 2 (Wawancara)
📌 30 Mar 2026: Pengumuman Hasil Seleksi Tahap 2
📌 6 Apr 2026: Penandatangan kontrak dan pembekalan

Keterangan
*) Melampirkan file PDF dengan ukuran maksimal 1 MB
**) Melampirkan file JPG/JPEG dengan ukuran maksimal 1 MB

Kuota: 4 orang

Periode: April – Oktober 2026

Ingin membantu membangun program pelestarian penyu yang berkelanjutan?

Jika iya, daftarkan dirimu segera, paling lambat Tanggal 25 Februari 2026 Pukul 23:59 WIT! mungkin kamu orang yang kami butuhkan!

Ada hal yang ingin ditanyakan terkait lowongan ini? Jika iya, hubungi admin kami pada hari Senin-Jumat, pukul 09.00-17.00 WIT

Bagikan

Bagikan informasi lowongan kerja ini kepada teman dan sanak saudara Anda melalui sosial media yang Anda miliki!

Categories
New Template Uncategorized @id

Pelatihan PMNH Digelar: Perkuat Kesiapan Kerja Lapangan Tahun 2026

Pelatihan PMNH Digelar: Perkuat Kesiapan Kerja Lapangan Tahun 2026

Penulis

Liana Mongdong, Kartika Zohar

Tanggal

08 Februari 2026

Pelatihan Pendamping Masyarakat dan Narahubung (PMNH) telah dilaksanakan pada 28–30 Januari 2026 di Ruang Fakultas Teknologi Pertanian (FATETA) sebagai bagian dari upaya pemberdayaan masyarakat di Taman Pesisir (TP) Jeen Womom, Kabupaten Tambrauw, Papua Barat Daya.

Pelatihan ini dibuka oleh Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Papua (UNIPA), Freddy Pattiselanno. Selain 11 orang PMNH, pelatihan ini juga mengikutsertakan 6 mahasiswa yang akan melakukan Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) UNIPA. Kegiatan di lapangan dilakukan hingga April 2026.

Kegiatan ini bertujuan untuk membekali peserta dengan pemahaman menyeluruh terkait program, keterampilan teknis lapangan, serta kemampuan bekerja secara kolaboratif dan profesional. Materi yang diberikan mencakup pengenalan program pelestarian penyu, pengelolaan administrasi dan pelaporan keuangan kegiatan, pembagian tim dan lokasi kerja, serta pelaksanaan program pendidikan formal dan informal bagi masyarakat.

Proses tanda tangan kontrak
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Pemaparan materi pengelolaan keuangan
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Pada hari pertama, sebelum pelatihan dimulai, PMNH melakukan penandatanganan kontrak kerja. Tanda tangan di atas kertas itu bukan sekadar formalitas, melainkan pernyataan komitmen dan tanggung jawab nyata untuk mendampingi masyarakat Jeen Womom.

Setelah menandatangani kontrak, materi yang diterima di hari pertama fokus pada fondasi program. Para peserta diajak mendalami visi misi pelestarian penyu, sistem administrasi dan keuangan yang akuntabel, mekanisme pelaporan lapangan, serta strategi mengelola kegiatan pendidikan melalui rumah belajar. Materi-materi ini menjadi panduan operasional mereka selama empat bulan ke depan.

Hari kedua diisi dengan praktik mengajar Membaca, Menulis, dan Berhitung (Calistung), Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH), teknik dokumentasi kegiatan, pengembangan keterampilan pendukung, serta materi team building dan manajemen konflik. Sementara itu, di hari terakhir, difokuskan pada materi pembuatan minyak kelapa yang bersih dan higienis, pengelolaan rumah produksi, pengenalan biologi penyu dan upaya konservasinya, serta praktik mengajar Computer English (Comeng) untuk anak usia PAUD hingga SD.

Praktik cara mengajar calistung
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Belajar merajut amigurumi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Liana Mongdong)

Pelatihan ini ditutup oleh Pengelola Program Sains untuk Konservasi, Fitryanti Pakiding, dengan harapan para Pendamping Masyarakat dan Narahubung memiliki kesiapan pengetahuan, keterampilan, serta komitmen yang kuat untuk mendukung keberhasilan dan keberlanjutan program di lapangan.

Dengan bekal yang komprehensif ini, para PMNH dan mahasiswa KKNT UNIPA siap turun ke masyarakat. Mereka bukan hanya menjadi perpanjangan tangan program, tetapi juga mitra belajar dan agen perubahan yang diharapkan dapat menuliskan cerita baru tentang pemberdayaan dan pelestarian di Taman Pesisir Jeen Womom. Perjalanan panjang dimulai dari sini.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Categories
New Template Uncategorized @id

Pengumuman Hasil Seleksi Tahap Kedua PMNH Tahun 2026

Pengumuman Hasil Seleksi Tahap Kedua PMNH Tahun 2026

Salam Lestari…

Kami mengucapkan terima kasih untuk semua peserta yang telah mengikuti tahap seleksi wawancara Pendamping Masyarakat dan Narahubung Program (PMNH) pada tanggal 22 Januari 2026. Berikut kami sampaikan nama-nama yang pelamar yang telah LOLOS Seleksi Tahap 2. Keputusan Panitia Seleksi tidak dapat diganggu gugat.

1. Daftar nama tersebut akan dihubungi secara personal untuk datang tanda tangan kontrak di kantor.

2. Pelaksanaan Training (Seleksi Akhir) dilakukan di Manokwari, Papua Barat

3. Kandidat pelamar PMNH diundang ke Manokwari untuk mengikuti Training  yang akan dilaksanakan pada tanggal 28 – 30 Januari 2026

4. Bila ada hal yang belum jelas, silakan menghubungi Narahubung Perekrutan melalui WA: 0813-4331-3836.

Sampai bertemu di Manokwari!

Categories
Belum Publish New Template Uncategorized @id

From Village to Market: Tracing the Journey of Abun Coconut Oil

From Village to Market: Tracing the Journey of Abun Coconut Oil

Penulis

Kartika Zohar

Tanggal

14 Januari 2026

Apakah Sobat Lestari  masih ingat dengan cerita berjudul “Minyak Kelapa untuk Konservasi: Ketika Ekonomi Masyarakat dan Penyu Belimbing Bertumbuh Bersama” yang terbit pada akhir November 2025 lalu?

Kisah itu mengawali perjalanan produksi minyak kelapa di sembilan kampung, yang tersebar pada tiga distrik di Kabupaten Tambrauw yaitu Distrik Tobouw, Abun, dan Amberbaken. Sepanjang tahun 2025, produksi dari sembilan kampung itu hampir mencapai 1.500 liter.

Dengan capaian produksi yang signifikan tersebut, tentu muncul pertanyaan penting. Bagaimana hasil produksi ini kemudian dipasarkan dan sampai ke tangan konsumen? Cerita perjalanannya dimulai dari sini.

Minyak dituang ke dalam jerigen untuk dibawa dari kampung ke Manokwari
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Tim melakukan pengemasan ke botol minyak kelapa 
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Tumpukan jerigen terlihat di dermaga Manokwari, baru saja turun dari kapal Sabuk Nusantara 112. Jerigen-jerigen itu berisi minyak kelapa mentah dari kampung-kampung di Tambrauw, yang merupakan hasil pendampingan tim di lapangan. Iriani dan Mika, anggota tim pemberdayaan yang bertanggung jawab atas pengendalian mutu, pengemasan, dan pemasaran (Quality Control/QC), sudah menunggu kedatangannya.

“Yang dari Wau dan Weyaf sudah datang,” ujar Mika sambil memeriksa dokumen pengiriman. Tugas mereka sungguh penting, yakni memastikan pelanggan mendapat produk terbaik, dan yang lebih utama, agar tersedia modal untuk kembali membeli minyak dari kelompok masyarakat di kampung.

Di dapur QC, proses penyempurnaan dimulai. Iriani dan timnya memeriksa kadar air setiap kiriman. Minyak yang tampak masih mengandung banyak buih kemudian dipanaskan guna memastikan tidak ada lagi sisa air di dalamnya. Selanjutnya, mereka menuang minyak ke dalam penyaring berjaring sangat rapat untuk memisahkan endapan. Proses itu dilakukan hingga yang tersisa hanyalah cairan jernih beraroma kelapa segar. Setelah bersih dan dingin, minyak itu dikemas ke dalam botol berukuran satu liter lalu dilabeli satu per satu.

Tidak berhenti di situ. Setiap botol juga diberi tanda berupa nomor batch produksi dan tanggal kedaluwarsa. “Ini dari kode batch 29 Desember 2025,” catat Iriani sambil menghitung semua botol dan mencocokkannya dengan laporan dari lapangan. Semua harus akurat.

Restock minyak kelapa ke toko Intan Jaya Mart Wosi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Minyak kelapa di pajangan etalase toko Intan Jaya Mart Wosi
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Kode “29 Desember 2025” memiliki arti tersendiri dalam sistem pencatatan mereka. Angka 29 berarti ini adalah pengiriman ke-29 dari lapangan, kata Desember menunjukkan bulan pengirimannya, sementara 2025 adalah tahun produksinya. Pemberian kode ini adalah cara Tim QC untuk memastikan bahwa setiap pengiriman memiliki jejak yang tercatat dengan baik.

Minyak yang sudah siap kini melanjutkan perjalanannya. Sebagian diantar ke berbagai toko dengan sistem konsinyasi. Di Manokwari sendiri, setidaknya ada 11 toko yang menjadi titik penjualan Minyak Kelapa Abun. Harga dasarnya adalah Rp39.000,00 per liter, namun harga jual eceran di toko bisa bervariasi, mulai dari Rp42.000,00 hingga Rp49.000,00 per liter.

“Yang di Hadi Supermarket dijual Rp49.000,00,” jelas Iriani sambil menata botol-botol dalam kotak yang akan dibawa. “Sementara di toko seperti Intan Jaya dan Istana Sayur dan Buah 2, harganya Rp42.000,00,” tambahnya.

Persiapan restock minyak kelapa ke toko-toko
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Persiapan restock ke toko Kalawai Mart & Nui Fresh Market
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Selain mengandalkan toko, Tim QC dan Pemasaran juga melayani pengantaran langsung ke pelanggan tetap. Salah satunya adalah Kak Enita Rumansara, yang sudah setia membeli sejak awal produksi. “Ini dua puluh botol untuk bulan ini,” ucap Kak Enita saat menerima minyak pesanannya. Perempuan yang berprofesi sebagai tukang urut di Manokwari itu menjelaskan, “Saya gunakan minyak kelapa ini khusus untuk keperluan pijat.”

Di balik setiap botol yang terjual, ada putaran ekonomi yang terus berdenyut. Uang hasil penjualan mengalir kembali ke kampung, untuk membiayai produksi berikutnya sekaligus mendukung upaya konservasi penyu belimbing yang menjadi bagian tak terpisahkan dari program ini. Dengan demikian, masyarakat mendapat manfaat langsung dari kegiatan konservasi yang mereka lakukan bersama di Taman Pesisir Jeen Womom.

Itulah rangkaian cerita sederhana di balik sebotol Minyak Kelapa Abun. Dari kampung-kampung di pedalaman dan pesisir Papua Barat Daya, minyak ini berlayar ke Manokwari, melalui proses yang penuh ketelitian. Pada akhirnya, ia sampai ke dapur keluarga yang menghargai bukan hanya rasa dan kualitas, tetapi juga setiap cerita di balik tetesannya.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Categories
New Template Uncategorized @id

Loise: A Hidden Gem on Jeen Yessa Beach

Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut

Cerita lapangan dari para pendamping kampung dan pelindung penyu di Kepala Burung Papua

Loise: A Hidden Gem on Jeen Yessa Beach

Penulis

Loise Liberta Loar

Tanggal

06 Januari 2026

Dalam seri “Seri Cerita Jejak Penjaga Bentang Laut”, kami mengajak pembaca menyelami kisah nyata orang-orang yang hidup berdampingan dengan penyu dan laut. Melalui suara mereka, kita belajar mencintai dan menjaga laut bersama.

Hai, saya Loise Liberta Loar biasanya dipanggil Loise. Latar belakang pendidikan saya adalah Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata. Setelah lulus saya mempunyai keinginan yang besar untuk bisa bekerja di tempat yang langsung berinteraksi dengan satwa liar. Saya pun mendapat kesempatan untuk bekerja di Science for Conservation pada tahun 2024 sebagai Tenaga Perlindungan Sarang periode April-Oktober dan ditempatkan di Pantai Batu Rumah. Sebagai Tenaga Perlindungan Sarang di Pantai Batu Rumah tugas utamanya adalah patroli pagi, kegiatannya meliputi mencatat jejak penyu, perlindungan sarang penyu menggunakan metode perlindungan pagar dan perlindungan naungan pakis pada sarang yang telah ditemukan titik peletakan telur penyu (tusuk sarang), serta evaluasi sarang penyu. Saya juga ikut berpartisipasi melakukan patroli malam. Selama mengikuti patroli malam saya mendapatkan kesempatan untuk scan atau mendeteksi nomor Passive Integrated Transponder (PIT) tag pada penyu dan memasang PIT tag pada penyu yang belum memiliki nomor PIT tag, serta mengukur panjang dan lebar karapas penyu. Saya juga membantu mengukur lebar pantai dan suhu pasir, serta mencatat data tersebut di buku maupun di Excel.

Rasa penasaran terhadap penyu dan tempat penyu bertelur tampaknya masih belum terbayarkan, sehingga saya memutuskan untuk kembali mendaftarkan diri. Pada tahun 2025 lalu saya masih diberikan kesempatan untuk bergabung kembali di Science for Conservation sebagai Tenaga Lapang Pantai Peneluran (TLP2) di Pantai Batu Rumah. Tugas TLP2 mencakup semua pekerjaan di pantai yaitu patroli pagi, patroli malam, menginput data, mengukur panjang pantai dan suhu pasir, serta jam kerjanya pun bertambah. Mengerjakan pekerjaan TLP2 menjadi mudah untuk saya karena semuanya sudah saya pelajari ketika menjadi Tenaga Perlindungan Sarang.

Memasang PIT tag pada induk penyu belimbing
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Evaluasi sarang penyu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Bekerja di Pantai Batu Rumah seperti sedang berlibur namun diberikan challenges yang harus diselesaikan sebelum pulang berlibur. Bagaimana tidak, setiap harinya saya berjalan di pantai dengan pemandangan indah sembari menyelesaikan challenge yang diberikan. Ketika melaksanakan challenge di pagi sampai sore hari saya dapat menikmati sunrise, langit biru yang indah dipadu dengan bentang laut yang luas, sunset dan juga pemandangan pantai yang selalu menarik perhatian saya. Sedangkan di malam hari saya dapat melihat Galaksi Bimasakti dengan sangat jelas, langit yang dihiasi dengan berjuta-juta bintang, bulan dan fenomena-fenomena langit yang terjadi di malam hari. Melihat galaksi dan bintang menjadi salah satu hal favorit saya di pantai. Tidak hanya itu saya juga bisa melihat rusa yang keluar ke pantai untuk minum air laut, biawak, lumba-lumba, dan berbagai jenis burung.

Saat merasa jenuh di pantai, saya dan tim bisa berkunjung ke hutan sekadar menikmati keindahan hutan dan kehidupan yang ada di dalamnya, mengunjungi air terjun, ikut memasang dan memeriksa jerat yang dipasang oleh masyarakat. Terkadang hanya tinggal di pos atau tempat tinggal tim saja, saya sudah bisa menghilangkan jenuh dengan melihat berbagai jenis kupu-kupu, burung, ular, kadal, tokek dan juga katak. Hal yang lebih menakjubkan adalah semua yang saya sebut tidak hanya dapat dinikmati di Pantai Batu Rumah tetapi dapat dinikmati di dua pantai lainnya (Pantai Wembrak dan Pantai Warmamedi), dengan kata lain semuanya dapat dinikmati di sepanjang pantai Jeen Yessa.

Perlindungan sarang menggunakan cocomesh
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Menandai sarang penyu
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Saya juga belajar mengemudi perahu yang menurut saya cukup menguji adrenalin. Adat istiadat masyarakat yang tinggal di sekitar Jeen Yessa juga menarik perhatian saya. Hal yang paling menarik perhatian saya adalah cara mereka memasak menggunakan bambu dan upacara pemanggilan penyu yang sangat unik.

Penyu memiliki daya tarik yang luar biasa bagi sebagian orang yang menyukai satwa. Salah satu hal yang menarik menurut saya adalah perjalanan hidupnya dari anak penyu (tukik) hingga menjadi dewasa. Setelah induk penyu mengubur telur di pantai peneluran, telur akan dibiarkan menetas sendiri dengan bantuan alam sekitarnya. Setelah menjadi tukik dan keluar dari sarang, tukik-tukik itu harus berjuang sendiri melawan predator di darat untuk menuju laut, kemudian ketika sampai di laut, tukik-tukik pun harus menghadapi predator di laut agar bisa bertahan hidup. Setelah menghadapi berbagai ancaman di laut, tukik-tukik pun tumbuh menjadi dewasa dan kembali ke pantai peneluran untuk bertelur. Hal itu menjadi suatu hal menarik yang dapat diteliti lebih lanjut. Keberadaan penyu di pantai Jeen Yessa menarik perhatian sebagian orang, banyak wisatawan yang datang ke pantai ini untuk melihat penyu dan juga keindahan alamnya. Wisatawan yang datang pun ada yang berasal dari mancanegara. Pantai Jeen Yessa dapat dikatakan sebagai aset yang sangat berharga untuk masyarakat setempat dan sudah sepatutnya dijaga kelestariannya. Pemantauan dan perlindungan penyu yang dilakukan Science for Conservation menjadi salah satu tindakan konservasi yang harus terus dilaksanakan agar populasi penyu yang datang ke pantai Jeen Yessa semakin meningkat. Akhir kata lestarikan alam untuk masa depan.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Categories
Monitoring Ekologi Reef Health Monitoring New Template

Conservation in the Misool Islands: Between Natural Beauty and Environmental Challenges

Conservation in the Misool Islands: Between Natural Beauty and Environmental Challenges

Penulis

Jane Lense

Tanggal

04 Januari 2026

Kawasan Konservasi Perairan (KKP) Kepulauan Misool, yang mencakup bagian selatan dari Raja Ampat, adalah salah satu kawasan konservasi laut paling luas di Raja Ampat, dengan luas sekitar 348.518,74 hektare (sumber: SK Penetapan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2021). Ekosistem di Kepulauan Misool secara ekologis sangat kaya. Raja Ampat secara keseluruhan dikenal sebagai pusat keanekaragaman hayati laut global. Dari total spesies karang keras dunia, sekitar 75% berada di wilayah Raja Ampat. Keanekaragaman ini mencakup tidak hanya karang dan ikan terumbu, tapi juga moluska, karang lunak, serta fauna besar seperti penyu, manta, dan ikan besar.

Transek Terumbu Karang
(Foto : BLUD UPTD Raja Ampat/Daud Orisoe)

Karang Sehat
(Foto : BLUD UPTD Raja Ampat/Daud Orisoe)

Secara geografis, bentuk pulau dan perairan di Kepulauan Misool mendukung struktur habitat yang kompleks; terumbu di perairan dangkal, beberapa lokasi dengan topografi lereng, laguna yang terlindungi, kawasan karst dan gua laut, bahkan danau-laut (marine lakes) di daratan semu-terisolasi. Contoh unik: Danau Lenmakana, Balbullol, Lenkafal, Keramat, dan Kawarapop, sebuah danau laut di Kepulauan Misool ini menunjukkan bahwa wilayah ini tidak hanya kaya laut, tapi juga punya fitur geografis yang khas. Oleh karena itu, kawasan Kepulauan Misool bukan hanya dikenal sebagai “tempat menyelam yang indah”, tetapi dari sudut ilmiah dan konservasi sebagai “laboratorium alam”: perairan yang kompleks dengan biodiversitas yang sangat tinggi, namun juga sensitif terhadap tekanan lingkungan maupun manusia.

Dengan latar belakang di atas, tim monitoring LPPM UNIPA bersama BLUD UPTD Pengelolaan KKP Kepulauan Raja Ampat sebagai pengelola kawasan, serta beberapa tenaga ahli dari berbagai instansi, kembali ke Kepulauan Misool setelah tiga tahun untuk melakukan pemantauan kembali kondisi karang, ikan, dan lingkungannya. Berikut adalah ringkasan temuan dari 19-23 November 2025 selama 5 hari penyelaman di Kepulauan Misool.

Keragaman Spesies yang Tinggi dan Habitat yang Masih Terjaga.

  • Di beberapa titik, kami mendapati hewan ukuran besar seperti bumphead, napoleon, penyu, hingga pari manta dan keberadaan schooling ikan karang. Hal ini menunjukkan bahwa struktur habitat masih mampu menopang fauna besar.
  • Struktur terumbu, termasuk koloni karang besar dan area dengan tutupan karang yang relatif rapat masih tampak, terutama di beberapa zona dangkal dan curam.
  • Keberadaan kima besar dan adanya indikasi regenerasi (juvenile fish, rekrutmen karang) menunjukkan bahwa proses ekologis dasar masih berjalan; reproduksi, pertumbuhan dan juga keanekaragaman masih terjaga.

Ini semua menunjukkan bahwa sebagian dari Kepulauan Misool masih memiliki kondisi cukup ideal, sesuai dengan karakter wilayah ini sebagai kawasan laut dengan biodiversitas tinggi.

Pari Manta
(Foto : BLUD UPTD Raja Ampat/Daud Orisoe)

Namun ada Sinyal yang Membutuhkan Perhatian.

  • Di beberapa lokasi, terlihat banyak rubble (patahan karang) menunjukkan bahwa ada daerah dengan beban kerusakan, entah dari alam maupun jejak tekanan manusia di masa lalu.
  • Kekeruhan air dan sedimentasi di beberapa titik menghasilkan visibilitas rendah. Hal ini menyulitkan pengamatan, sekaligus bisa menjadi indikator gangguan lingkungan seperti peningkatan sedimen atau gangguan arus.
  • Beberapa lokasi menunjukan tanda terjadinya stres pada komunitas karang, indikator utama adalah dominasi alga akibat suplai sedimen berlebih. Hal ini memberi isyarat bahwa kehidupan lingkungan ini sedang bekerja untuk bertahan.

Membaca Dua Sisi-Antara Harapan dan Realita.

Meskipun dinamika ekosistem selalu berubah, banyak bagian terumbu di kawasan Kepulauan Misool masih menunjukkan ciri-ciri proses ekologis yang berfungsi, seperti pertumbuhan karang baru dan keragaman spesies yang tinggi. Namun, tekanan dan kerusakan di titik-titik tertentu juga menunjukkan bahwa kawasan ini tetap rentan. Hanya karena sebagian besar bagus, bukan berarti keseluruhan aman. Variabilitas spasial dan kondisi lokal bisa berbeda tajam di antara titik satu dengan titik lainnya.

Bagi konservasi, ini berarti dua hal penting:

  1. Monitoring rutin mutlak diperlukan agar perubahan, baik positif maupun negatif, bisa terdeteksi sejak dini.
  2. Intervensi serta pengelolaan yang cermat, baik terhadap aktivitas manusia maupun dampak lingkungan harus diiringi dengan kesadaran bahwa tidak semua habitat bisa dianggap sama kuat.

Secara keseluruhan, Kawasan Konservasi Perairan Kepulauan Misool tetap menunjukkan ketangguhan alamnya, sekaligus mengingatkan bahwa kawasan seindah ini tetap perlu dijaga dengan serius.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Categories
Belum Publish Uncategorized @id

Lowongan Kerja Tenaga Pendamping Masyarakat dan Narahubung Program (PMNH) 2026

Pendamping Masyarakat dan Narahubung Program

Bergabunglah dalam Program Pemberdayaan Masyarakat di Kabupaten Tambrauw, Papua Barat Daya! Apakah Anda ingin berkontribusi langsung dalam pemberdayaan masyarakat di kawasan konservasi? Inilah kesempatan Anda untuk menjadi bagian dari perubahan positif di Distrik Abun, Distrik Tobouw, dan Distrik Amberbaken, Kabupaten Tambrauw, Papua Barat Daya! Universitas Papua (UNIPA), melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM), membuka kesempatan bagi alumni UNIPA dan lulusan perguruan tinggi lainnya untuk bergabung sebagai Tenaga Pemberdayaan Masyarakat di Kawasan Konservasi (PMNH). Dalam program ini, Anda akan berperan aktif dalam meningkatkan kapasitas masyarakat di bidang pendidikan dan perekonomian, serta membantu mereka dalam membangun kehidupan yang lebih berkelanjutan di kawasan konservasi.

Tugas Utama

Melaksanakan pendampingan, fasilitasi, dan koordinasi program di tingkat masyarakat serta menjadi penghubung antara program, masyarakat, dan pemangku kepentingan lokal.

Persyaratan

1. Minimal D3 semua jurusan (diutamakan Pendidikan, Pertanian, dan Pengolahan hasil Pertanian)
2. Pengalaman minimal 1 tahun di bidang pendampingan masyarakat (menjadi nilai lebih).
3. IPK minimal 2,75
4. Bersedia ditempatkan di daerah dengan akses terbatas.
5. Mahir komputer (Microsoft Office, Google Forms)

Kompensasi

1. Gaji pokok kompetitif (min. Rp 3.200.000)
2. BPJS Kesehatan + Asuransi Perjalanan
3. Akomodasi, transportasi, konsumsi ditanggung
4. Pelatihan teknis dan sertifikat

Linimasa

📌 29 Des 2025 – 11 Jan 2026: Pendaftaran & Seleksi Tahap 1
📌 17 Jan 2026: Wawancara (online/offline)
📌 22 Jan 2026: Penandatangan kontrak
📌 23–26 Jan 2026: Pelatihan PMNH

Kuota : 11-12 orang

Periode : 22 Januari – 30 April 2026

Apakah kamu tertarik bekerja untuk meningkatkan kapasitas masyarakat di Kawasan Konservasi melalui pendidikan dan perekonomian?

Jika iya, daftarkan dirimu segera, paling lambat Tanggal 11 Januari 2026 Pukul 23:59 WIT! mungkin kamu orang yang kami butuhkan!

Ada hal yang ingin ditanyakan terkait lowongan ini? Jika iya, hubungi admin kami pada hari Senin-Jumat, pukul 09.00-17.00 WIT

Bagikan

Bagikan informasi lowongan kerja ini kepada teman dan sanak saudara Anda melalui sosial media yang Anda miliki!