Kategori
Monitoring Ekologi Reef Health Monitoring

Monitoring kesehatan karang Raja ampat tahun 2018

Monitoring kesehatan karang Raja ampat tahun 2018

Monitoring dilaksanakan dengan menggunakan live aboard – KLM Kurabesi Explorer selama 24 hari tanggal 1-24 Maret 2018. Tim monitoring berhasil melakukan penyelaman di 127 titik atau sites yang terdiri dari:

  • 107 sites monitoring dan
  • 20 sites tambahan untuk eksplorasi, menyelam bersama mitra, foto hunting, latihan dan fun diving

KLM Kurabesi Explorer digunakan sebagai home-based tim monitoring dan dilengkapi dengan 2 dinghy untuk mendukung pelaksanaan monitoring. Speedboat tambahan dari pos pengawasan kawasan konservasi terdekat, digunakan untuk mendukung kegiatan monitoring sehingga dapat berjalan lebih cepat dan untuk meningkatkan keterlibatan dan rasa memiliki bagi masyarakat lokal dan tim monitoring BLUD-UPTD Raja Ampat.

Lokasi dan waktu pelaksanaan monitoring adalah sebagai berikut:

  • Training tim monitoring ,28 Februari 2018 (kantor TNC Sorong)
  • Wayag dan sekitarnya, 1 – 5 Maret 2018
  • Dampier & Teluk Mayalibit, 6 – 12 Maret dan 17 – 23 Maret 2018
  • Kofiau dan Boo, 13 – 16 Maret 2018

Tim monitoring terdiri dari 27 orang (25 laki-laki & 2 perempuan) dari 12 instansi

Beberapa catatan yang menarik dari temuan tim monitoring adalah ;

Komunitas Ikan :

  • Secara umum komunitas ikan dalam kondisi yang sehat dan seimbang, karena masih ditemukan ikan carnivore atau predator ukuran besar sepeti ikan kerapu, kakap, hiu, bubara, dan ikan jenis herbivore (ikan baronang, kulit pasir dan kakatua) serta ikan- ikan ukuran kecil lainnya, seperti ikan puri dan ikan oci.
  • Ikan Hiu – hampir ditemukan di setiap penyelaman, beberapa lokasi yang menjadi highlight adalah: Black Rock – Selat Sagewin tercatat oleh tim monitoring (Rudi) sebanyak 62 ekor hiu pada sekali penyelaman. Beberapa sites yang ditemukan lebih dari 10 ekor hiu dalam sekali penyelaman adalah di Tanjung Lampu – Solol (Elvis), Taka dekat Pulau Senapan (Pur), Wamei – Kofiau (Pur), Wambong Kecil (Pur) dan Andarek (Rudi).
  • Schooling atau ikan yang berkelompok besar, secara sekilas sepertinya berkurang. Tim monitoring mengamati berkurangnya ikan-ikan target monitoring yang dalam kelompok besar dibandingkan dengan monitoring sebelumnya.

Terumbu karang :

  • Secara umum karang dalam kondisi sehat – tidak ditemukan (sangat sedikit) penyakit karang, tidak ada bleaching/pemutihan karang.
  • Tidak ditemukan rubble baru bekas bom atau karang rusak akibat bius
  • Dominasi karang foliose (lembaran) di D37, dominasi rubble di L18, Hydroid banyak ditemukan di Arefi (Batanta).
  • Xenia overgrowth di Selat Sagewin
  • Sponge overgrowth di D46 (Batanta Selatan / Yennanas)
  • Crown of Thorn Starfish (CoTS) atau bintang laut berduri pemakan karang ditemukan pada saat tim monitoring diving di Teluk Kabui. Informasi dari dive operator terdapat outbreak CoTS di Saonek (Besar dan Monde) – tetapi ketika tim monitoring melakukan diving di Saonek tidak ditemukan outbreak CoTS.

Beberapa sites monitoring tidak dapat diambil datanya karena alasan teknis dan operasional seperti dominasi lumpur, low visibility dan habitat buaya (1 site di dalam Teluk Mayalibit), gelombang dan arus keras (Dona Carmalita – Kofiau, Pulau Nelayan – Dampier) dan 6 sites di Kepulauan Fam karena mis-komunikasi, tim monitoring mengira sudah diambil datanya pada saat monitoring Misool dan lokasi kontrol pada bulan Oktober 2017. Pada beberapa sites arus sangat kencang sehingga tidak dapat melakukan long-swim dan transek tidak lengkap (Wayag) dan juga posisi GPS yang tidak tepat di lokasi terumbu karang.