Kategori
Outreach - Inovasi Kegiatan Penjangkauan Masyarakat

Harmonisasi Alam dan Budaya, Penunjang Wisata Bahari di Kabupaten Biak Numfor

Harmonisasi Alam dan Budaya, Penunjang Wisata Bahari di Kabupaten Biak Numfor

Tanggal

21 Maret 2020

Penulis

Henny Lesnussa, Frenly Wehantouw, Halter Karubaba, Noviyanti

Pada 5 Maret 2020, tim outreach menggelar kegiatan talk show di Café Boom Byak Center, Kota Biak. Talk show yang bertema “Harmonisasi Alam dan Budaya, Penunjang Wisata Bahari di Kabupaten Biak Numfor”, dilatarbelakangi oleh aktivitas pengunjung wisata yang masih kurang dalam hal menjaga lingkungan atau objek wisata yang ada di laut dan pantai. Pelaksanaan talk show diharapkan dapat mengedukasi masyarakat dan pengelola wisata agar dapat mengelola wisata yang berkelanjutan. Acara ini menghadirkan Marjan Bato S.Kel. M.Si, Dosen Ekowisata Universitas Papua sebagai moderator dan 4 narasumber yaitu Sekretaris Daerah Kabupaten Biak Numfor, Markus O. Mansnembra, SH.,MM; Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Biak Numfor, Turbey O. Dangeubun, S.Pi.,M.Si  serta pemerhati dan penggiat lingkungan Erik Farwas dan Julius Kapitarauw.

Acara ini dihadiri oleh 46 peserta yang terdiri dari beberapa komunitas peduli lingkungan dan penyelam, pengelola/pelaku usaha pariwisata, Anggota POLRI dan TNI dan masyarakat umum. Antusias para peserta terlihat ketika talk show berlangsung.

Wisata yang berkelanjutan menurut Markus adalah upaya-upaya yang dilakukan semua pengguna objek-objek wisata, baik pengelola dan masyarakat pada umumnya yang menunjang dan menjaga objek wisata yang sudah ada saat ini. Pemerintah daerah akan mendukung semua usaha yang dilakukan agar memajukan parisiwata yang mengedepankan wisata bahari yang berkelanjutan.

Foto Bersama Peserte dan Narasumber

Foto Bersama Peserta dan Narasumber Talk show

Foto : Tim Outreach

Penyerahan Doorprize untuk peserta oleh Sekretaris Daerah dan Dinas Pariwisata Kabupaten Biak Numfor

Penyerahan Doorprize untuk peserta oleh Sekretaris Daerah dan Dinas Pariwisata Kabupaten Biak Numfor

Foto : Tim Outreach

Salah seorang peserta diskusi yang memberikan pertanyaan

Salah seorang peserta diskusi yang memberikan pertanyaan

Foto : Tim Outreach

Turbey mengungkapkan bahwa Kabupaten Biak Numfor memiliki berbagai macam potensi wisata yang sangat baik, khususnya wisata bahari yang memiliki keindahan terumbu karang di bawah laut. Kabupaten Biak Numfor juga memiliki wisata sejarah peninggalan Perang Dunia II yang ada di darat dan di bawah laut (wreck dive). Dinas pariwisata selama ini telah membantu para pengelola obyek wisata dengan memberikan pelatihan-pelatihan. Di bidang wisata bahari, diberikan pelatihan menyelam agar dapat menjadi dive guide kepada masyarakat lokal agar dapat mengembangkan pariwisata di Biak Numfor, menjaga alam agar tetap lestari agar keberlanjutannya, dan dapat dinikmati dari generasi ke generasi.

Sedangkan Erik Farwas melihat bahwa wujud dari pengelolaan wisata berkelanjutan adalah penyadartahuan kepada nelayan yang masih mencari ikan dengan menggunakan bom. Aktivitas ini tentu sangat merugikan bagi wisata bahari Biak Numfor. Selain itu, beliau juga melihat masih ada penyelam yang melakukan penyelaman dengan tidak safety sehingga menginjak terumbu karang.

Menurut Julius Kapitarauw, pemerintah harus tegas melarang dan menindak oknum-oknum yang mencari hasil di laut dengan cara-cara tidak ramah lingkungan. Kabupaten Biak Numfor memiliki wisata sejarah bawah laut yang sangat berpotensi, salah satunya adalah spot bangkai pesawat Catalina dan beberapa spot-spot diving yang lain. Diharapkan ada perhatian khusus pemerintah terhadap potensi-potensi ini. Lebih lanjut lagi ke depannya akan dibuat museum Perang Dunia bawah laut di Biak yang akan digagas oleh divers Biak. Julius berharap wisata yang ramah lingkungan dan berkelanjutan dapat dinikmati semua pengguna wisata.

Talk show ini secara umum telah berhasil menyampaikan bahwa lingkungan yang asri dapat mendukung wisata yang berkelanjutan. Hal ini tampak dari komitmen para peserta untuk mau melakukan upaya membersihkan tempat wisata yang mereka kunjungi dengan membuang sampah pada tempatnya dan secara sadar menyampaikan pada pengunjung lain akan bahaya sampah bagi lingkungan mereka. Peserta juga termotivasi untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang berdampak bagi komunitas untuk melakukan upaya peningkatan objek wisata yang ramah terhadap lingkungan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *