Categories
Pemberdayaan Masyarakat Peningkatan Ekonomi Masyarakat

Seleksi dan Pelatihan Pendamping Masyarakat Distrik Abun Periode Februari – Mei 2018

Seleksi dan Pelatihan Pendamping Masyarakat Distrik Abun Periode Februari - Mei 2018

Penulis

Tim Pemberdayaan Masyarakat

Tanggal

25 Mei 2018

Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat melalui Divisi Pembangunan Berkelanjutan. Kembali mengadakan pelatihan yang dikhususkan bagi Pendamping Masyarakat (PM) Distrik Abun. Pelatihan ini memberi penguatan kapasitas bagi para PM yang nantinya bertugas meningkatkan kapasitas masyarakat di lima kampung binaan UNIPA di distrik Abun Kabupaten Tambrauw Papua Barat yaitu kampung Saubeba, kampung Womom, kampung Warmandi, kampung Wau, kampung Saubeba. Yang kemudian kami merjer karena berdekatan lokasi yaitu kami sebut kampung Saubeb-Womom, kampung Warmandi, dan kampung Wau-Weyaf. Tahapan seleksi penerimaan Pendamping Masyarakat dilakukan secara transparan dan objektif melalui tahapan penyampaian informasi penerimaan calon PM melalui media sosial dan pengumuman di setiap fakultas dlingkungan UNIPA. Tahapan-tahapan seleksi penerimaan calom PM yaitu Tahap pertama, pengumuman penerimaan calon pendamping masyarakat melalui media sosial dan selebaran. Tahap kedua, penerimaan berkas dan seleksi berkas. Tahap ketiga, seleksi wawancara, dan tahap keempat atau yang terakhir, pelatihan calon PM. Berkas lamaran yang masuk bukan hanya dari alumni UNIPA tetapi ada juga dari luar alumni UNIPA yang ada di Papua Barat dan Papua serta diluar pulau Papua. Kegiatan Pelatihan dimulai pada tanggal 30 Januari sampai dengan 2 Februari 2018 di ruang rapat Divisi Pembangunan Berkelanjutan, dibuka langsung oleh Bapak Charli Wanggai (Sekretaris LPPM). Dari 12 orang yang dinyatakan layak mengikuti pelatihan PM, hanya 10 orang yang berasal dari alumni UNIPA yang mengikuti pelatihan PM dari awal sampai selesai.

Foto : Tim Pemberdayaan Masyarakat

Pendamping masyarakat yang nantinya dipilih terdiri dari 2 kategori yaitu kategori pendamping lapang sebanyak 6 orang dan kategori pendamping pemasaran sebanyak 2 orang. Jadi pendamping yang dinyatakan lulus dalam pelatihan sebanyak 8 orang. Materi pelatihan yang diberikan secara garis besar terbagi atas 3 bagian yaitu pertama, Program Trip Februari-Mei 2018 terdiri dari sejarah singkat terbentuknya kampung binaan UNIPA di distrik Abun dan teknis capaian program serta tupoksi PM. Kedua, materi pertanian dan pendidikan yang terdiri dari Pertanian sederhana bercocok tanam sayuran dan pembuatan pupuk kompus serta pengelolaan rumah belajar. Ketiga, materi pengolahan terdiri dari praktik pembuatan kripik pisang dengan berbagai rasa dan praktik pembuatan minyak kelapa. Materi-materi yang diberikan sudah dirancang sedemikian rupa sehingga diharapkan apabila peserta PM mengikuti semua pelatihan yang diberikan dapat dijadikan bekal PM melakukan tugas dan tanggungjawab dikampung-kampung yang ditempatkan nantinya. Kegiatan ini ditutup secara resmi oleh ketua Divisi Pembangunan Berkelanjutan Ibu Fitriyanti Pakiding, Ph.D berpesan bahwa peserta yang nantinya terpilih sebagai pendamping masyarakat merupakan perpanjangan tangan dari Tim Abun yang bekerja di kampung dan merupakan ujung tombak program kerja dan melakukan pendamping masyarakat di kampung, bekerjasama secara tim, dan menjaga kesehatan serta pendamping harus menjaga nama baik UNIPA.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Categories
Monitoring Ekologi Training

Pelatihan Selam dan Monitoring Kesehatan Karang bagi Tim Monitoring Ekologi di Bentang Laut Kepala Burung, Papua

Pelatihan Selam dan Monitoring Kesehatan Karang bagi Tim Monitoring Ekologi di Bentang Laut Kepala Burung, Papua

Penulis

Tim Monitoring Ekologi

Tanggal

27 April 2018

Foto : Tim BHS Ekologi

Foto : Tim BHS Ekologi

Tujuan :

  • Memberikan dan meningkatkan kemampuan selam tim monitoring ekologi BLKB
  • Memberikan kemampuan melakukan monitoring kesehatan karang sesuai dengan metodologi dalam panduan yang dikembangkan oleh Ahmadia et.al. (2013)
  • Memberikan kemampuan identifikasi ikan target monitoring kepada tim monitoring ekologi BLKB
  • Memberikan kemampuan identifikasi life form karang kepada tim monitoring ekologi BLKB
  • Memberikan kemampuan estimasi panjang ikan bagi tim monitoring ekologi BLKB

Tempat dan Tanggal kegiatan :

  • Tanggal 17 – 20 April 2018 di Ruang pertemuan Divisi Pembangunan Berkelanjutan, LPPM Unipa
  • Tanggal 21 April 2018 – Praktek lapangan di Pantai Pasir Putih, Manokwari

Peserta dan fasilitator :

Peserta pelatihan sebanyak 18 orang
Pelatih dan fasilitator pelatihan ini terdiri dari:

  • Purwanto (LPPM Unipa, praktisi monitoring kesehatan karang dan Instruktur Selam)
  • Mulyadi (BBTNTC – praktisi monitoring kesehatan karang dan Dive Master)
  • La Hamid (BBTNTC, praktisi monitoring kesehatan karang dan Dive Master)
  • Irman Rumengan (LPPM Unipa, praktisi monitoring kesehatan karang dan Rescue Diver)
  • Dariani Matualage (LPPM Unipa, fasilitator pelatihan)
  • Kartika Zohar (LPPM Unipa, fasilitator pelatihan)

Hasil :

  • Secara umum peserta dapat memahami metodologi pelaksanaan monitoring kesehatan karang berdasarkan panduan yang dikembangkan oleh Ahmadia dkk (2013) yang selama ini digunakan di semua kawasan konservasi laut di BLKB.
  • Peserta memahami teori dasar selam, mampu mengenali dan menggunakan alat selam (scuba) dan bahkan beberapa peserta sudah mempunyai sertifikat selam.
  • Hampir semua peserta mempunyai kemampuan menyelam yang sudah baik,
  • Lima orang peserta berhasil memenuhi persyaratan minimal 90% benar untuk identifikasi life form karang
  • Delapan orang peserta minimal 90% benar identifikasi famili ikan, bahkan satu orang dapat menjawab 100% benar, tetapi hanya dua orang yang berhasil estimasi panjang ikan dengan minimal 75% benar.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Categories
Monitoring Ekologi Reef Health Monitoring

Monitoring kesehatan karang Raja ampat tahun 2018

Monitoring kesehatan karang Raja ampat tahun 2018

Penulis

Tim Monitoring Ekologi

Tanggal

28 Maret 2018

Monitoring dilaksanakan dengan menggunakan live aboard – KLM Kurabesi Explorer selama 24 hari tanggal 1-24 Maret 2018. Tim monitoring berhasil melakukan penyelaman di 127 titik atau sites yang terdiri dari:

  • 107 sites monitoring dan
  • 20 sites tambahan untuk eksplorasi, menyelam bersama mitra, foto hunting, latihan dan fun diving

KLM Kurabesi Explorer digunakan sebagai home-based tim monitoring dan dilengkapi dengan 2 dinghy untuk mendukung pelaksanaan monitoring. Speedboat tambahan dari pos pengawasan kawasan konservasi terdekat, digunakan untuk mendukung kegiatan monitoring sehingga dapat berjalan lebih cepat dan untuk meningkatkan keterlibatan dan rasa memiliki bagi masyarakat lokal dan tim monitoring BLUD-UPTD Raja Ampat.

Lokasi dan waktu pelaksanaan monitoring adalah sebagai berikut:

  • Training tim monitoring ,28 Februari 2018 (kantor TNC Sorong)
  • Wayag dan sekitarnya, 1 – 5 Maret 2018
  • Dampier & Teluk Mayalibit, 6 – 12 Maret dan 17 – 23 Maret 2018
  • Kofiau dan Boo, 13 – 16 Maret 2018

Tim monitoring terdiri dari 27 orang (25 laki-laki & 2 perempuan) dari 12 instansi

Beberapa catatan yang menarik dari temuan tim monitoring adalah ;

Komunitas Ikan :

  • Secara umum komunitas ikan dalam kondisi yang sehat dan seimbang, karena masih ditemukan ikan carnivore atau predator ukuran besar sepeti ikan kerapu, kakap, hiu, bubara, dan ikan jenis herbivore (ikan baronang, kulit pasir dan kakatua) serta ikan- ikan ukuran kecil lainnya, seperti ikan puri dan ikan oci.
  • Ikan Hiu – hampir ditemukan di setiap penyelaman, beberapa lokasi yang menjadi highlight adalah: Black Rock – Selat Sagewin tercatat oleh tim monitoring (Rudi) sebanyak 62 ekor hiu pada sekali penyelaman. Beberapa sites yang ditemukan lebih dari 10 ekor hiu dalam sekali penyelaman adalah di Tanjung Lampu – Solol (Elvis), Taka dekat Pulau Senapan (Pur), Wamei – Kofiau (Pur), Wambong Kecil (Pur) dan Andarek (Rudi).
  • Schooling atau ikan yang berkelompok besar, secara sekilas sepertinya berkurang. Tim monitoring mengamati berkurangnya ikan-ikan target monitoring yang dalam kelompok besar dibandingkan dengan monitoring sebelumnya.

Terumbu karang :

  • Secara umum karang dalam kondisi sehat – tidak ditemukan (sangat sedikit) penyakit karang, tidak ada bleaching/pemutihan karang.
  • Tidak ditemukan rubble baru bekas bom atau karang rusak akibat bius
  • Dominasi karang foliose (lembaran) di D37, dominasi rubble di L18, Hydroid banyak ditemukan di Arefi (Batanta).
  • Xenia overgrowth di Selat Sagewin
  • Sponge overgrowth di D46 (Batanta Selatan / Yennanas)
  • Crown of Thorn Starfish (CoTS) atau bintang laut berduri pemakan karang ditemukan pada saat tim monitoring diving di Teluk Kabui. Informasi dari dive operator terdapat outbreak CoTS di Saonek (Besar dan Monde) – tetapi ketika tim monitoring melakukan diving di Saonek tidak ditemukan outbreak CoTS.

Beberapa sites monitoring tidak dapat diambil datanya karena alasan teknis dan operasional seperti dominasi lumpur, low visibility dan habitat buaya (1 site di dalam Teluk Mayalibit), gelombang dan arus keras (Dona Carmalita – Kofiau, Pulau Nelayan – Dampier) dan 6 sites di Kepulauan Fam karena mis-komunikasi, tim monitoring mengira sudah diambil datanya pada saat monitoring Misool dan lokasi kontrol pada bulan Oktober 2017. Pada beberapa sites arus sangat kencang sehingga tidak dapat melakukan long-swim dan transek tidak lengkap (Wayag) dan juga posisi GPS yang tidak tepat di lokasi terumbu karang.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Categories
Pemberdayaan Masyarakat Pendidikan

Cerita Lapang : Mahasiswa KKN UNIPA di Kampung Waibem, Distrik Abun, Kabupaten Tambrauw

Cerita Lapang : Mahasiswa KKN UNIPA di Kampung Waibem, Distrik Abun, Kabupaten Tambrauw

Penulis

Tim Pemberdayaan Masyarakat

Tanggal

15 Februari 2018

Universitas Papua, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, melalui Divisi Pembangunan Berkelanjutan kembali mengirim 1 tim mahasiswa KKN (Kuliah Kerja Nyata) ke Kampung Waibem. Untuk periode 11 Januari – 11 Maret 2018. Kegiatan KKN merupakan mata kuliah yang menjadi salah satu syarat dalam mendapat gelar Sarjana di UNIPA. Terdapat 7 mahasiswa KKN yang berasal dari berbagai disiplin ilmu, yaitu: Fakultas Teknologi Pertanian, Fakultas Kehutanan, Fakultas Teknik Pertambangan & Perminyakan, Fakultas Ekonomi & Bisnis, dan Fakultas Perikanan & Ilmu Kelautan. Kampung Waibem, secara administrasi merupakan bagian dari Distrik Abun, Kabupaten Tambrauw. Kampung Waibem juga merupakan ibukota dari Distrik Abun. Sebelumnya, UNIPA telah mengirim mahasiswa KKN pada tiga kampung lainnya (Saubeba-Womom, Warmandi, dan Wau-Weyaf).

Mahasiswa KKN UNIPA di Kampung Waibem bekerja pada 8 bidang yaitu: (1) Bidang sarana dan prasarana, (2) Bidang administrasi kampung, (3) Bidang lingkungan, (4) Bidang Kesehatan, (5) Bidang pendidikan, (6) Bidang keagamaan, (7) Bidang ekonomi sosial budaya, dan (8) Bidang pertanian. Kegiatan KKN juga merupakan bentuk pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan oleh UNIPA. Serah terima mahasiswa KKN dilakukan pada 12 Januari 2018, pada acara serah terima ini dilakukan presentasi singkat tentang rencana kerja sekaligus perkenalan antara tim KKN dan masyarakat setempat. Acara serah terima ini juga dihadiri oleh kepala Distrik Abun. Masyarakat sangat berterima kasih atas kehadiran mahasiswa KKN di Kampung Waibem, terutama dalam membantu pada bidang pendidikan. Kampung Waibem telah dua kali menerima mahasiswa KKN sebagai bentuk kerjasama antara UNIPA dan pemerintah Distrik Abun pada pengelolaan Taman Pesisir Jeen Womom. “Kami berharap bahwa kerjasama UNIPA dengan pemerintah distrik Abun dapat terus berjalan dengan baik, supaya anak-anak bisa datang kapan saja ke kampung Waibem dan ada mahasiswa KKN lagi”, ujar Kepala Distrik Abun menutup acara serah terima.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Categories
Monitoring Sosial Survei

Cerita Lapang Kegiatan Survei Sosial Masyarakat di Taman Nasional Teluk Cenderawasih Tahun 2017

Cerita Lapang Kegiatan Survei Sosial Masyarakat di Taman Nasional Teluk Cenderawasih Tahun 2017

Penulis

Joice Pangulimang

Tanggal

21 Desember 2017

Daerah Perlindungan Laut atau Marine Protected Area (MPA) adalah salah satu bentuk pengelolaan sumberdaya laut yang bertujuan untuk pengelolaan perikanan dan konservasi sumberdaya hayati secara berkelanjutan. Diharapkan bahwa dengan adanya MPA maka sumberdaya laut dapat terpelihara dengan baik. Namun, pertanyaan yang muncul adalah bagaimana tingkat kesejahteraan masyarakat yang tinggal di dalam dan sekitar wilayah tersebut? Apakah MPA memberikan dampak yang positif bagi peningkatan kesejahteraan mereka? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini maka Universitas Papua (UNIPA) telah bekerjasama dengan WWF US pada tahun 2010-2016, dan pada tahun 2017 ini UNIPA kembali bekerjasama dengan Blue Abadi Fund melalui Yayasan Keanekaragaman Hayati untuk melaksanakan kegiatan monitoring yang sama.

Monitoring sosial pada tahun 2010 sampai tahun 2016 dilakukan di 6 (enam) MPA yaitu Teluk Mayalibit, Selat Dampier, Kaimana, Taman Nasional Teluk Cenderawasih, Kofiau dan Misool. Indicator penilaian yang digunakan dalam kegiatan survei ini meliputi tingkat pendidikan, ekonomi, kesehatan, pemberdayaan politik dan budaya masyarakat daerah pesisir. Pada tahun 2017 kembali dilakukan monitoring sosial di Taman Nasional Teluk Cenderawasih (TNTC)

Survei sosial ini berlangsung pada tanggal 16 November sampai dengan 21 Desember 2017 yang diikuti oleh 10 orang dari UNIPA, yang terdiri dari 2 orang koordinator lapangan dan 8 orang enumerator. Koordinator lapangan adalah staf dosen dari UNIPA sedangkan enumerator terdiri dari 1 orang mahasiswa dan 7 orang alumni. Ke-10 orang tersebut terbagi menjadi 2 tim, dimana masing-masing tim terdiri dari 5 orang. Tim pertama melakukan survei di Kabupaten Biak Numfor dan Kabupaten Nabire. Mereka melakukan survei di kampung Saribi, Supmander, Masyara, Wansra, Rawar, Pakreki, Yembepon Yembeba, Napan Yaur, Goni, Bawei, Yeretuar, Napan, Weinami dan Masipawa. Sementara tim kedua melakukan survei di Kabupaten Wondama, tepatnya mereka mengunjungi kampung Dusner, Sasirei, Nanimori, Ambumi, Torey, Rasiei, Syeiwar, Yomber, Nordiwar, Waprak/Saref, Yomakan, Senebuay, Yariari, Iseren, Weititindau, Yembekiri I dan Yembekiri II.

Pengambilan data dilakukan menggunakan metode wawancara secara langsung terhadap responden. Tahap awal adalah tim mendata nama-nama kepala keluarga yang berada di kampung survei, kemudian tim melakukan sampling untuk menentukan responden terpilih.

Berdasarkan pengamatan di lapangan, dapat dilihat bahwa sebagian besar masyarakat melakukan kegiatan melaut sebagai sumber pendapatan keluarga yang utama. Hal ini didukung oleh sumberdaya laut yang banyak di sekitar tempat tinggal mereka. Sedangkan sebagian masyarakat lainnya memilih bertani/berkebun, menjadi buruh bangunan, pegawai negeri sipil dan melakukan pekerjaan lain yang menghasilkan upah.

Masih kurangnya tenaga pengajar dan ahli kesehatan menjadi kendala di kampung-kampung survei. Semua kampung yang dikunjungi telah memiliki bangunan sekolah (sekolah dasar), namun jumlah tenaga pengajar masih kurang. Demikian halnya dibidang kesehatan. Terdapat PUSTU dan puskesmas yang dibangun oleh pemerintah di kampung-kampung tersebut. Namun beberapa pustu tidak memiliki tenaga medis dan beberapa puskesmas tidak memiliki dokter. Keterbatasan obat juga masih menjadi kendala. Akibatnya, masyarakat merasa kesulitan untuk berobat, terutama yang berada di kampung Goni, Napan Yaur dan Bawei karena letak geografis serta akses ke kota Nabire yang masih terbatas.

Hal lainnya adalah, masyarakat dapat menyebutkan atau menjelaskan factor-faktor yang menjadi ancaman terhadap laut mereka serta tindakan-tindakan yang perlu diambil untuk mengurangi dampak kerusakan laut.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Categories
Pemberdayaan Masyarakat Peningkatan Ekonomi Masyarakat

Seleksi dan Pelatihan Pendamping Lapang Abun Periode September – Desember 2017

Seleksi dan Pelatihan Pendamping Lapang Abun Periode September - Desember 2017

Penulis

Tim Pemberdayaan Masyarakat

Tanggal

18 Desember 2017

Seleksi dan pelatihan Pendamping Masyarakat (PM) Abun merupakan salah satu agenda kegiatan dari Divisi Pembangunan Berkelanjutan LPPM UNIPA. Tujuan diadakan seleksi dan pelatihan PM Abun adalah mencari calon PM yang kompeten dibidangnya, siap menjalankan program kerja, dan mempunyai hati untuk melayani masayarakat di Distrik Abun. Untuk memperlengkapi para pendamping masyarakat maka dilaksanakan pelatihan, dalam pelatihan materi pendampingan diberikan baik dalam segi teori maupun praktik sehingga para pendamping masyarakat dapat memahami tugas dan tanggungjawabnya. Masyarakat yang dilayani berada pada kampung Wau-Weyaf, Kampung Warmandi, dan kampung Saubeba. Kampung tersebut terletak dekat dengan daerah peneluruan Penyu Belimbing sehingga daerah tersebut ditetapkan sebagai daerah konservasi. Kampung-kampung ini merupakan kampung binaan UNIPA yang terletak di distrik Abun Kabupaten Tambrauw Papua Barat. Terdapat pendamping masyarakat yang akan ditugaskan untuk tinggal dan hidup bersama dengan masyarakat dikampung sehingga diharapkan dapat meningkatkan kapasitas masyarakat lokal. Tahapan seleksi penerimaan PM dilakukan secara transparan dan objektif yang diikuti oleh 22 calon PM. Tahap pertama, pengumuman penerimaan calon pendamping masyarakat melalui media sosial dan selebaran pengumuman yang ditempel pada setiap gedung di lingkungan UNIPA.

Foto : Tim Abun Pemberdayaan

Tahap kedua, penerimaan berkas dan seleksi berkas. Tahap ketiga, seleksi wawancara, dan tahap yang terakhir pelatihan. Pelaksanaan pelatihan PM Abun diikuti oleh 8 orang calon PM, dilaksanakan pada tanggal 6-11 September 2017, yang dibuka secara resmi oleh ketua LPPM UNIPA, Dr. Ir. Nurhaidah Iriany Sinaga, M.Si. Kegiatan hari pertama sampai dengan hari ketiga diisi dengan materi-materi yang sesuai dengan fokus program, secara garis besar dibagi atas 3 bagian yaitu materi tentang pemahaman PM menjalankan tugasnya, materi tentang pendidikan anak di rumah belajar, dan materi tentang bercocok tanam yang sifatnya tentatif. Diadakan di ruang rapat Divisi Pembangunan Berkelanjutan Rektorat Lama UNIPA dan kegiatan hari keempat diisi dengan focus program peningkatan sumberdaya lokal yaitu praktik mengolah pisang dan pembuatan minyak kelapa yang diadakan di Laboratorium Pengolahan Fakultas Teknologi Pertanian UNIPA. Dari serangkaian kegiatan seleksi dan pelatihan calon PM kemudian ditentukan yang layak sebagai PM terpilih sebanyak 7 orang (4 orang laki-laki dan 3 orang perempuan). Kegiatan pelatihan pendamping lapang Abun ini ditutup secara resmi oleh ketua Divisi Pembangunan Berkelanjutan Dr. Fitryanti Pakiding dengan pesan bahwa pekerjaan ini adalah pelayanan ke masyarakat, oleh karena itu PM akan tinggal dan bekerja dengan masyarakat di kampung kurang lebih 3 bulan, sangat diharapkan PM menjaga nama baik almamater UNIPA, PM saling bekerjasama secara tim dan saling menjaga kesehatan masing-masing, serta menjalankan tugas dan tanggungjawabnya dengan baik dan benar sebagai PM Abun.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Categories
Monitoring Ekologi Training

Klub Selam di Lingkup Universitas Papua

Klub Selam di Lingkup Universitas Papua

Penulis

Tim Monitoring Ekologi

Tanggal

18 Desember 2017

Faknik Diving Klub (FDC) yang berada di bawah struktur organisasi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universi- tas Papua (UNIPA) telah dibentuk dan diaktifkan kem- bali. Pengaktifan kembali yang dilakukan oleh beberapa mahasiswa/i dan alumni perikanan dan kelautan UNIPA, ini juga didukung penuh oleh Divisi Pembangunan Berkelanjutan, salah satu divisi pada Lembaga  Penelitian  dan  Pengembangan  Masyarakat (LPPM) UNIPA.

Keanggotaan FDC di lingkup UNIPA berjumlah ± 20 orang yang merupakan mahasiswa/i, serta pembina klub  yaitu  dosen  pengajar  yang berasal dari bidang ilmu kelautan serta perikanan. Beberapa dari anggota klub telah memiliki license selam dan telah mengikuti kegiatan olahraga selam tingkat nasional. Kegiatan-kegiatan awal setelah pengaktifan klub yang telah dilaksanakan yaitu pengenalan selam secara umum, pengenalan selam ilmiah, pengenalan peralatan selam, dan fun diving yang telah dilaksanakan pada Desember 2017.

Agenda selanjutnya yaitu pemberian materi dan praktek lapangan terkait teknik-teknik selam, metode-metode pemantauan kelautan perikanan secara ilmiah, serta kegiatan selam lainnya. Pengaktifan kembali klub selam ini diharapkan dapat berkelanjutan hingga ke waktu mendatang, agar kegiatan-kegiatan terkait pemantauan sumberdaya perairan serta penelitian-penelitian kelautan tetap berjalan dengan tenaga- tenaga serta peneliti-peneliti dari lingkup UNIPA. Semoga dengan adanya wadah klub selam di lingkup Universitas Papua, dapat meningkatkan penelitian- penelitian ke arah kelautan serta perikanan di perairan papua dan dapat menghasilkan peneliti-peneliti yang berasal dari Papua.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Categories
Monitoring Ekologi EKKP3K Monitoring Sosial EKKP3K

Lokakarya Penilaian Efektivitas Pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan di Bentang Laut Kepala Burung Papua

Lokakarya Penilaian Efektivitas Pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan di Bentang Laut Kepala Burung Papua

Penulis

Jane Lense

Tanggal

04 Januari 2026

Bentang Laut Kepala Burung sebagai kawasan yang memiliki keanekaragaman hayati laut yang sangat tinggi dan menjadi prioritas pengembangan kawasan konservasi Perairan (KKP) di Indonesia dan dunia. Saat ini BLKB telah memiliki lebih dari 12 KKP dengan total luas lebih dari 3,5 juta hektar. Pembentukan KKP bertujuan untuk melindungi kelestarian keanekaragaman hayati sehingga memberikan manfaat secara berkelanjutan bagi masyarakat. Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan suatu penilaian terhadap keefektifan pengelolaan kawasan konservasi yang dilakukan secara terus-menerus. Khusus untuk penilaian efektifitas pengelolaan KKP, Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut (KKHL) Kementerian Kelautan dan Perikanan telah mengembangkan perangkat yang disebut Pedoman Teknis Evaluasi Efektivitas Pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (EKKP3K) yang telah resmi digunakan dengan SK Dirjen KP3K No. 44/2012.

Selama ini pengelola KKP di BLKB cukup beragam. Taman Nasional Teluk Cenderawasih (TNT() dikelola oleh Balai Besar Ta man Nasional di bawah Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup, kawasan Perairan Nasional Raja Am pat dikelola oleh Satuan Kerja di bawah Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jejaring Taman Pulau Kecil Raja Ampat dikelola oleh Unit Pelaksana Teknis Dinas di bawah Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Raja Ampat, sedangkan KKP di Kabupaten Kaimana dan Tambrauw dikelola oleh masing-masing pemerintah kabupaten. Dengan ditetapkannya UU N0 23 Tahun 2014, kewenangan pengelolaan wilayah laut selanjutnya akan berpindah ke tingkat provinsi Papua Barat. Seperti pada tahun-tahun sebelumnya, di Tahun 2017 ini, Direktorat KKHL Kementerian Kelautan dan Perikanan RI, Dinas Kelautan dan perikanan Provinsi Papua Barat, Universitas Papua, The Nature Conservancy, Conservation International dan WWF Indonesia menyelenggarakan Lokakarya Penilaian EKKP3K dengan tujuan untuk melakukan evaluasi pengelolaan KKP di seluruh BLKB Papua. Kegiatan yang dilaksanakan di Universitas Papua pada Tanggal 2 hingga 4 Mei 2017 ini diikuti oleh 32 peserta dengan 3 narasumber, yaitu Ervien Juliyanto, S.Pi (Staf Direktorat KKHL Kementerian Kelautan dan Perikanan RI), Sutraman dan Dheny Setyawan (TNC Program Kelautan Indonesia) dengan luaran lokakarya adalah dokumen status pengelolaan masing-masing kawasan konservasi perairan di BLKB Tahun 2017 dan rekomendasi keberlanjutan pengelolaan KKP di BLKB

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Categories
Monitoring Sosial Survei

Survei Sosial Masyarakat di Kawasan Konservasi Perairan Teluk Mayalibit

Survei Sosial Masyarakat di Kawasan Konservasi Perairan Teluk Mayalibit

Penulis

Irman Rumengan

Tanggal

01 Desember 2017

Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Papua (LPPM UNIPA) bekerja sama dengan Yayasan Keanekaragaman Hayati (KEHATI), RARE, dan Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) Kabupaten Raja Ampat telah melakukan survei sosial masyarakat di Kawasan Konservasi Perairan Teluk Mayalibit (KKP Telma), Raja Ampat. Kampung-kampung yang disurvei yaitu kampung Warsamdin, Yensner, Mumes, Lopintol, Kalitoko, Arawai, Beo, Kabilol, Go, Waifoi, Wairemak, Wagelas, dan tiga kampung yang berada di luar KKP Telma yaitu Kabui, Wauyai, dan Kapadiri sebagai daerah kontrol. Total kepala keluarga yang disurvei berjumlah 406 KK. Kegiatan survei sosial masyarakat di KKP Telma sebelumnya telah dilakukan pada tahun 2010, 2012, 2014 dan dilakukan pada tahun 2017. Survei ini kemudian akan dilakukan pada tahun-tahun selanjutnya untuk melihat dampak kawasan konservasi terhadap sosial ekonomi masyarakat di Bentang Laut Kepala Burung khususnya pada lingkup masyarakat yang berada di Teluk Mayalibit.

Pelaksanaan kegiatan survei sosial masyarakat berlangsung pada tanggal 10 Oktober – 31 November 2017. Tim survei terdiri dari mahasiswa, alumni, assisten dosen, dan dosen UNIPA yang telah mengikuti pelatihan pengambilan data. Survei yang dilakukan berupa wawancara terstruktur terhadap kepala keluarga yang dilakukan oleh 8 orang enumerator dan 2 orang assisten koordinator lapangan (mahasiswa, alumni, dan assisten dosen UNIPA) dengan menggunakan kuisioner yang telah disiapkan. Kegiatan Focus Group Discussion (FGD) terhadap kumpulan masyarakat dilakukan oleh 2 orang supervisi/koordinator lapangan (dosen UNIPA).

Kuisioner yang telah disiapkan berisi sejumlah pertanyaan terkait karaketeristik rumahtangga, kegiatan mencari ikan, keadaan ekonomi keluarga, kesehatan, kondisi ketahanan pangan, pemberdayaan politik, organisasi kemasyarakatan, pendidikan, dan budaya. Sementara FGD yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui tingkat kepatuhan masyarakat terhadap aturan- aturan KKP. Tindak lanjut dari proses FGD yaitu dilakukan wawancara kepada informan kunci atau key informant (KII). Seseorang yang dipilih sebagai KII merupakan seseorang yang dianggap mengetahui asal usul pembentukan KKP Telma dan aturan-aturannya. Data yang telah dikumpulkan di lapangan akan diolah dan dianalisis lebih lanjut untuk dapat melihat dampak keseluruhan dari keberadaan KKP.

Pengambilan data lapangan oleh tim survei telah berhasil dilaksanakan dan telah masuk pada tahap penginputan dan pembersihan data, yang selanjutnya akan dilakukan analisis data dan penjabaran hasil survei. Secara keseluruhan kampung yang telah ditargetkan untuk kegiatan survei sosial masyarakat telah tercapai, namun terdapat beberapa kendala berupa posisi geografis setiap kampung yang dipisahkan oleh laut, sehingga memerlukan biaya transportasi yang tinggi serta terdapat satu kampung target survei yang harus melewati gunung (Kampung Go ke Kampung Kapadiri) sehingga tim harus bekerja lebih keras untuk berpindah kampung. Kendala lainnya yang ditemui di lapangan yaitu terdapat satu kampung yaitu Kampung Wauyai yang sebagian masyarakatnya tidak berada di kampung (kegiatan luar kampung). Kegiatan survei sosial masyarakat di KKP TELMA akan terus dilakukan di tahun-tahun selanjutnya agar data yang dikumpulkan dapat mengambarkan dan menjelaskan keefektifan dari keberadaan kawasan konservasi perairan terhadap masyarakat. Harapan dari keberhasilan kegiatan survei ini yaitu adanya pengelolaan yang baik dan berkelanjutan bagi kawasan serta masyarakat Teluk Mayalibit.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya

Categories
Monitoring Ekologi Reef Health Monitoring

Survei Potensi Perairan di Distrik Menarbu, Taman Nasional Teluk Cendrawasih

Survei Potensi Perairan di Distrik Menarbu, Taman Nasional Teluk Cendrawasih

Penulis

Tim Monitoring Ekologi

Tanggal

01 November 2017

Kegiatan survei potensi perairan telah dilaksanakan pada tanggal 21 – 23 November 2017 oleh tim gabungan dari Balai Taman Nasional Teluk Cenderawasih (BTNTC), WWF-ID site Wasior, CoE- UNIPA, dan masyarakat Kampung Menarbu dan Waar Distrik Menarbu. Terdapat 5 titik penyelaman yaitu, Batu Hanyut, Pulau Yarifu, Pulau Nukub, Menara Suar, dan Reef Panjang. Pada 5 titik penyelaman tersebut hanya pada 3 titik (P. Yarifu, Menara Suar, dan Reef Panjang) yang dilakukan pengambilan data menggunakan metode Point Intercept Transek (PIT) untuk melihat kondisi terumbu karang dan Belt Transek untuk melihat biomass ikan, sedangkan 2 titik lainnya (P. Nukub dan Batu Hanyut) menggunakan metode explore visual. Data yang diambil berupa data tutupan karang, biomass ikan, kehadiran invertebrata, serta biota maupun lokasi yang menarik untuk keperluan perlindungan (sasi) dan wisata bawah laut.

Hasil yang diperoleh yaitu, tutupan karang keras hidup pada Pulau Yarifu sebesar 43% (cukup baik), Menara Suar sebesar 56,3 % (Baik), dan Reef Panjang sebesar 41 % (cukup baik). Hasil pengamatan ikan yang didapatkan pada Pulau Yarifu yaitu didominasi oleh ikan Lalosi (Caesionidae) 560,9 kg/ha dan ikan Kakap (Lutjanidae) 350,8 kg/ha, Menara Suar didominasi oleh ikan Lalosi 328,1 kg/ha dan ikan Kakatua (Scaridae) 357,1 kg/ha, serta Reef Panjang didominasi oleh ikan Kakap 1551,9 kg/ha, ikan Lalosi 97,9 kg/ha dan ikan Bibir Tebal (Haemulidae) 167,8 kg/ha.

Secara keseluruhan semua lokasi survei memiliki potensi yang sangat baik untuk wisata bawah laut dan berpotensi dijadikan lokasi sasi oleh masyarakat. Selain survei di perairan, survei potensi juga dilakukan pada wilayah daratan dengan hasil survei yaitu terdapat beberapa lokasi menarik seperti air terjun, lukisan dinding, batu keramat, tulang belulang leluhur, pasir pantai yang berpotensi dijadikan lokasi wisata darat.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya