Kategori
Outreach - Inovasi Kegiatan Penjangkauan Masyarakat

Kisah di Balik Layar Mempersiapkan Sekolah Alam Virtual Seri Megafauna Akuatik

Kisah di Balik Layar Mempersiapkan Sekolah Alam Virtual Seri Megafauna Akuatik

Kemajuan dalam pemanfaatan ilmu teknologi dan informasi menjadi solusi dalam pelaksanaan sejumlah kegiatan di tengah pandemi COVID-19. Sekolah Alam Virtual (SAV) adalah salah satu solusi yang dipilih oleh Program Sains untuk Konservasi untuk berbagi isu konservasi pada masa pandemi COVID-19 saat ini.

Maksud dan tujuan dari program SAV pada dasarnya adalah ingin merangkul para pelajar pada khususnya (SD, SMP dan SMA) dan mahasiswa serta masyarakat umum yang karena pandemi ini dipaksa untuk menerima berbagai pembelajaran hanya dari rumah saja.

Persiapan kegiatan ini dilakukan oleh tim outreach Program Sains untuk Konservasi dan dibantu oleh tim lainnya. Berbagai narasumber dari berbagai latar belakang pendidikan yang menguasai materi mengenai megafauna akutik dirangkul oleh tim outreach guna mendukung kegiatan SAV ini. Materi yang diangkat dan dibahas pada SAV sesi Megafauna Akuatik yaitu mengenal lebih jauh mengenai Paus, Dugong (duyung), Hiu, dan Lumba-lumba.

Berbagai kegiatan menarik dan interaktif selain penyampaian materi juga dilakukan dalam SAV ini misalnya kuis berhadiah, pengisian teka teki silang, dan lain-lain sehingga sangat disayangkan jika dilewatkan kegiatan ini.

Untuk menyaksikan tayangan ulang webinar seri, dapat diakses di sini.

Untuk mengakses materi dari para narasumber, dapat diunduh di sini.

Dokumentasi Kegiatan

[qode_advanced_image_gallery type=”grid” enable_image_shadow=”yes” image_behavior=”lightbox” enable_icon=”yes” number_of_columns=”two” space_between_items=”small” images=”2751,2737,2736,2738″ image_size=”full”]
Kategori
Outreach - Inovasi Kegiatan Penjangkauan Masyarakat

Talk show “Lindungi Penyu Kita” di Nabire

Talk show “Lindungi Penyu Kita” di Nabire

Tanggal

21 Maret 2020

Penulis

Noviyanti, Halter Karubaba, Henny Lesnussa, Frenly Wehantouw

Dilatarbelakangi oleh berita tentang perburuan dan perdagangan daging dan telur penyu di Nabire, tim outreach memutuskan untuk memilih tema “Lindungi Penyu Kita” pada kegiatan talk show tanggal 13 Februari 2020 di Pantai Menase, Nabire. Saat mengunjungi para pelajar di Nabire, tim mendapatkan sejumlah 35.27% siswa yang mengisi lembar pre-test (jumlah responden sebanyak 499 orang) mengaku pernah makan daging penyu, dan 12.42% diantara responden mengaku pernah makan telur penyu. Tim juga melakukan kunjungan ke Desa Makimi, salah satu pantai peneluran penyu di Nabire. Di sana tim bertemu dengan seorang masyarakat lokal yang dulunya juga merupakan pemburu daging dan telur penyu. Selama 4 tahun terakhir, beliau merelokasi sarang telur penyu agar bebas dari ancaman predasi anjing, babi, dan bahkan warga sekitar yang berburu telur penyu. Beliau melakukan pekerjaan ini tanpa mendapatkan insentif ataupun perhatian dari pemerintah setempat, namun beliau tetap mengerjakannya karena beliau percaya pasti ada hal baik yang akan terjadi di masa depan.

Saat kegiatan talkshow, peserta yang hadir berjumlah 28 orang yang berasal dari komunitas penyelam Nabire, guru sekolah, mahasiswa, dan lain-lain.

Narasumber dan moderator saat sesi diskusi Nabire

Narasumber dan moderator saat sesi diskusi

Foto : Tim Outreach

Suasana kegiatan talkshow di nabire

Suasana kegiatan talk show

Foto : Tim Outreach

Duaitd Kolibongso, S.Pi., M.Si., dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Unipa yang bertindak sebagai salah satu narasumber mengantarkan peserta kepada informasi tentang fungsi ekologi penyu, jumlah penyu di alam dan alasan mengapa penyu sebagai hewan yang dilindungi, morfologi dan jenis-jenis penyu, jumlah sarang telur penyu di Pantai Jamursba Medi dan Wermon selama beberapa tahun terakhir, pola migrasi beberapa jenis penyu, serta ancaman keberadaan penyu dari predator-predator alami, ancaman dari predasi manusia, serta ancaman lainnya.

Kemudian moderator, Rossa Latumahina, S.Tp, mengenalkan peserta kepada Mesak Adadikam, S.Pd, sebagai salah satu anggota kru monitoring penyu belimbing di Kabupaten Tambrauw. Mesak berbagi pengalamannya tentang tugas dan tanggung jawabnya sebagai Kru Monitoring Penyu Belimbing, cara pendekatan terhadap penyadartahuan masyarakat di sekitar daerah peneluran serta pendekatan budaya (sasi) yang diterapkan untuk mendukung kegiatan konservasi penyu dan hewan laut lainnya di Distrik Abun, Kabupaten Tambrauw.

Narasumber terakhir, Manuel Mirino, S.Hut sebagai Kepala Bidang Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih Wilayah I Nabire berbagi informasi tentang ancaman yang sangat berpengaruh terhadap penurunan jumlah penyu serta pendekatan yang dilakukan oleh Balai Besar untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam perlindungan penyu di Kabupaten Nabire.

Dalam sesi diskusi, para peserta sangat antusias menyampaikan gagasan mereka tentang upaya yang bisa dilakukan masyarakat untuk mengedukasi masyarakat lainnya agar mendukun perlindungan penyu. Salah seorang peserta menyampaikan bahwa beliau sengaja datang dari tempat yang cukup jauh, Teluk Umar, khusus untuk menghadiri acara ini. Beliau menyatakan bahwa informasi ini adalah hal yang baru dia dengar dan beliau sangat ingin informasi ini juga didengar oleh masyarakat di kampungnya. Beliau bercerita bahwa di kampungnya, penyu adalah makanan pokok sedangkan ikan adalah makanan sampingan. Beliau berharap agar kegiatan serupa bisa dilakukan di kampungnya agar masyarakat mau mengurangi konsumsi penyu.

Talk show ini secara umum telah berhasil menyampaikan fungsi dan peranan penyu bagi lingkungan. Hal ini tampak dari kesadaran para peserta untuk mau melakukan upaya perlindungan penyu dengan cara tidak mendukung perdagangan penyu, menyampaikan informasi kepada teman dan keluarga. Peserta juga termotivasi untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang berdampak bagi komunitas untuk melakukan upaya perlindungan penyu.

Kategori
Outreach - Inovasi Kegiatan Penjangkauan Masyarakat

Harmonisasi Alam dan Budaya, Penunjang Wisata Bahari di Kabupaten Biak Numfor

Harmonisasi Alam dan Budaya, Penunjang Wisata Bahari di Kabupaten Biak Numfor

Tanggal

21 Maret 2020

Penulis

Henny Lesnussa, Frenly Wehantouw, Halter Karubaba, Noviyanti

Pada 5 Maret 2020, tim outreach menggelar kegiatan talk show di Café Boom Byak Center, Kota Biak. Talk show yang bertema “Harmonisasi Alam dan Budaya, Penunjang Wisata Bahari di Kabupaten Biak Numfor”, dilatarbelakangi oleh aktivitas pengunjung wisata yang masih kurang dalam hal menjaga lingkungan atau objek wisata yang ada di laut dan pantai. Pelaksanaan talk show diharapkan dapat mengedukasi masyarakat dan pengelola wisata agar dapat mengelola wisata yang berkelanjutan. Acara ini menghadirkan Marjan Bato S.Kel. M.Si, Dosen Ekowisata Universitas Papua sebagai moderator dan 4 narasumber yaitu Sekretaris Daerah Kabupaten Biak Numfor, Markus O. Mansnembra, SH.,MM; Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Biak Numfor, Turbey O. Dangeubun, S.Pi.,M.Si  serta pemerhati dan penggiat lingkungan Erik Farwas dan Julius Kapitarauw.

Acara ini dihadiri oleh 46 peserta yang terdiri dari beberapa komunitas peduli lingkungan dan penyelam, pengelola/pelaku usaha pariwisata, Anggota POLRI dan TNI dan masyarakat umum. Antusias para peserta terlihat ketika talk show berlangsung.

Wisata yang berkelanjutan menurut Markus adalah upaya-upaya yang dilakukan semua pengguna objek-objek wisata, baik pengelola dan masyarakat pada umumnya yang menunjang dan menjaga objek wisata yang sudah ada saat ini. Pemerintah daerah akan mendukung semua usaha yang dilakukan agar memajukan parisiwata yang mengedepankan wisata bahari yang berkelanjutan.

Foto Bersama Peserte dan Narasumber

Foto Bersama Peserta dan Narasumber Talk show

Foto : Tim Outreach

Penyerahan Doorprize untuk peserta oleh Sekretaris Daerah dan Dinas Pariwisata Kabupaten Biak Numfor

Penyerahan Doorprize untuk peserta oleh Sekretaris Daerah dan Dinas Pariwisata Kabupaten Biak Numfor

Foto : Tim Outreach

Salah seorang peserta diskusi yang memberikan pertanyaan

Salah seorang peserta diskusi yang memberikan pertanyaan

Foto : Tim Outreach

Turbey mengungkapkan bahwa Kabupaten Biak Numfor memiliki berbagai macam potensi wisata yang sangat baik, khususnya wisata bahari yang memiliki keindahan terumbu karang di bawah laut. Kabupaten Biak Numfor juga memiliki wisata sejarah peninggalan Perang Dunia II yang ada di darat dan di bawah laut (wreck dive). Dinas pariwisata selama ini telah membantu para pengelola obyek wisata dengan memberikan pelatihan-pelatihan. Di bidang wisata bahari, diberikan pelatihan menyelam agar dapat menjadi dive guide kepada masyarakat lokal agar dapat mengembangkan pariwisata di Biak Numfor, menjaga alam agar tetap lestari agar keberlanjutannya, dan dapat dinikmati dari generasi ke generasi.

Sedangkan Erik Farwas melihat bahwa wujud dari pengelolaan wisata berkelanjutan adalah penyadartahuan kepada nelayan yang masih mencari ikan dengan menggunakan bom. Aktivitas ini tentu sangat merugikan bagi wisata bahari Biak Numfor. Selain itu, beliau juga melihat masih ada penyelam yang melakukan penyelaman dengan tidak safety sehingga menginjak terumbu karang.

Menurut Julius Kapitarauw, pemerintah harus tegas melarang dan menindak oknum-oknum yang mencari hasil di laut dengan cara-cara tidak ramah lingkungan. Kabupaten Biak Numfor memiliki wisata sejarah bawah laut yang sangat berpotensi, salah satunya adalah spot bangkai pesawat Catalina dan beberapa spot-spot diving yang lain. Diharapkan ada perhatian khusus pemerintah terhadap potensi-potensi ini. Lebih lanjut lagi ke depannya akan dibuat museum Perang Dunia bawah laut di Biak yang akan digagas oleh divers Biak. Julius berharap wisata yang ramah lingkungan dan berkelanjutan dapat dinikmati semua pengguna wisata.

Talk show ini secara umum telah berhasil menyampaikan bahwa lingkungan yang asri dapat mendukung wisata yang berkelanjutan. Hal ini tampak dari komitmen para peserta untuk mau melakukan upaya membersihkan tempat wisata yang mereka kunjungi dengan membuang sampah pada tempatnya dan secara sadar menyampaikan pada pengunjung lain akan bahaya sampah bagi lingkungan mereka. Peserta juga termotivasi untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang berdampak bagi komunitas untuk melakukan upaya peningkatan objek wisata yang ramah terhadap lingkungan.