Talk show “Lindungi Penyu Kita” di Nabire
Tanggal
21 Maret 2020
Penulis
Noviyanti, Halter Karubaba, Henny Lesnussa, Frenly Wehantouw
Dilatarbelakangi oleh berita tentang perburuan dan perdagangan daging dan telur penyu di Nabire, tim outreach memutuskan untuk memilih tema “Lindungi Penyu Kita” pada kegiatan talk show tanggal 13 Februari 2020 di Pantai Menase, Nabire. Saat mengunjungi para pelajar di Nabire, tim mendapatkan sejumlah 35.27% siswa yang mengisi lembar pre-test (jumlah responden sebanyak 499 orang) mengaku pernah makan daging penyu, dan 12.42% diantara responden mengaku pernah makan telur penyu. Tim juga melakukan kunjungan ke Desa Makimi, salah satu pantai peneluran penyu di Nabire. Di sana tim bertemu dengan seorang masyarakat lokal yang dulunya juga merupakan pemburu daging dan telur penyu. Selama 4 tahun terakhir, beliau merelokasi sarang telur penyu agar bebas dari ancaman predasi anjing, babi, dan bahkan warga sekitar yang berburu telur penyu. Beliau melakukan pekerjaan ini tanpa mendapatkan insentif ataupun perhatian dari pemerintah setempat, namun beliau tetap mengerjakannya karena beliau percaya pasti ada hal baik yang akan terjadi di masa depan.
Saat kegiatan talkshow, peserta yang hadir berjumlah 28 orang yang berasal dari komunitas penyelam Nabire, guru sekolah, mahasiswa, dan lain-lain.

Narasumber dan moderator saat sesi diskusi
Foto : Tim Outreach

Suasana kegiatan talk show
Foto : Tim Outreach
Duaitd Kolibongso, S.Pi., M.Si., dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Unipa yang bertindak sebagai salah satu narasumber mengantarkan peserta kepada informasi tentang fungsi ekologi penyu, jumlah penyu di alam dan alasan mengapa penyu sebagai hewan yang dilindungi, morfologi dan jenis-jenis penyu, jumlah sarang telur penyu di Pantai Jamursba Medi dan Wermon selama beberapa tahun terakhir, pola migrasi beberapa jenis penyu, serta ancaman keberadaan penyu dari predator-predator alami, ancaman dari predasi manusia, serta ancaman lainnya.
Kemudian moderator, Rossa Latumahina, S.Tp, mengenalkan peserta kepada Mesak Adadikam, S.Pd, sebagai salah satu anggota kru monitoring penyu belimbing di Kabupaten Tambrauw. Mesak berbagi pengalamannya tentang tugas dan tanggung jawabnya sebagai Kru Monitoring Penyu Belimbing, cara pendekatan terhadap penyadartahuan masyarakat di sekitar daerah peneluran serta pendekatan budaya (sasi) yang diterapkan untuk mendukung kegiatan konservasi penyu dan hewan laut lainnya di Distrik Abun, Kabupaten Tambrauw.
Narasumber terakhir, Manuel Mirino, S.Hut sebagai Kepala Bidang Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih Wilayah I Nabire berbagi informasi tentang ancaman yang sangat berpengaruh terhadap penurunan jumlah penyu serta pendekatan yang dilakukan oleh Balai Besar untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam perlindungan penyu di Kabupaten Nabire.
Dalam sesi diskusi, para peserta sangat antusias menyampaikan gagasan mereka tentang upaya yang bisa dilakukan masyarakat untuk mengedukasi masyarakat lainnya agar mendukun perlindungan penyu. Salah seorang peserta menyampaikan bahwa beliau sengaja datang dari tempat yang cukup jauh, Teluk Umar, khusus untuk menghadiri acara ini. Beliau menyatakan bahwa informasi ini adalah hal yang baru dia dengar dan beliau sangat ingin informasi ini juga didengar oleh masyarakat di kampungnya. Beliau bercerita bahwa di kampungnya, penyu adalah makanan pokok sedangkan ikan adalah makanan sampingan. Beliau berharap agar kegiatan serupa bisa dilakukan di kampungnya agar masyarakat mau mengurangi konsumsi penyu.
Talk show ini secara umum telah berhasil menyampaikan fungsi dan peranan penyu bagi lingkungan. Hal ini tampak dari kesadaran para peserta untuk mau melakukan upaya perlindungan penyu dengan cara tidak mendukung perdagangan penyu, menyampaikan informasi kepada teman dan keluarga. Peserta juga termotivasi untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang berdampak bagi komunitas untuk melakukan upaya perlindungan penyu.
