


Cerita Perjalanan ke Jawa: Training Cocopeat dan Studi Banding Briket
Penulis
Mikardes Albert dan Mika Palimbong
Tanggal
15 September 2026
Kami berdua masih mengingat betul rasa antusias saat berangkat menuju Jawa untuk mengikuti pelatihan pembuatan cocopeat dan studi banding pengolahan briket arang tempurung kelapa. Bagi kami, perjalanan ke Kebumen dan Yogyakarta ini bukan sekadar menjalankan tugas, tetapi menjadi kesempatan berharga untuk belajar secara langsung dari mereka yang telah lebih dahulu mengembangkan pengolahan produk turunan kelapa menjadi produk yang bernilai.
Selama ini, di Papua, tempurung dan bagian lain dari buah kelapa masih sering dipandang sebagai sisa yang tidak memiliki nilai. Karena itu, perjalanan ini menjadi pengalaman yang membuka wawasan kami bahwa tentang bagaimana hasil samping produk minyak kelapa dapat diolah menjadi produk yang bermanfaat dan bernilai ekonomi.
Perjalanan kami dimulai dari Manokwari pada 18 Juli 2026. Kami kemudian mengikuti pelatihan pembuatan cocopeat selama tiga hari, pada 20–22 Juli 2026. Setelah pelatihan selesai, perjalanan dilanjutkan ke Yogyakarta pada 23–26 Juli 2026 untuk melakukan studi banding terkait pengolahan briket arang tempurung kelapa. Pada 27 Juli 2026, kami kembali tiba di Manokwari dengan membawa berbagai pengalaman, pengetahuan, inspirasi, dan gagasan baru untuk dikembangkan di Papua.
Perjalanan ini dapat terlaksana berkat dukungan Program TFCCA. Program TFCCA (Tropical Forest and Coral Reefs Conservation Act) merupakan program kerja sama bilateral antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Amerika Serikat yang didukung oleh Konservasi Indonesia (KI) serta Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) dalam upaya konservasi ekosistem terumbu karang guna mendukung kesejahteraan masyarakat.
Tiga Hari Belajar Cocopeat di Kebumen
Tujuan pertama kami adalah pabrik cocopeat Oesaka di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, tempat kami mengikuti training pembuatan cocopeat selama tiga hari penuh. Di sana, kami baru benar-benar menyadari betapa besar potensi sabut kelapa yang selama ini kami anggap sebagai limbah biasa.
Hari pertama diawali dengan perkenalan kami dengan pemilik pabrik cocopeat Oesaka. Dari beliau, kami mendapat gambaran bahwa hampir seluruh bagian buah kelapa ternyata bisa dimanfaatkan, termasuk sabutnya yang bisa diolah menjadi berbagai produk. Kami diperkenalkan pada cocopeat, yaitu media tanam yang terbuat dari serat halus sabut kelapa, beserta manfaat, karakteristik yang baik, dan peluang pemanfaatannya dalam kegiatan pertanian serta pembibitan. Kami juga dikenalkan pada peralatan produksi dan tahapan pengolahannya, mulai dari pemilihan bahan baku, pemisahan serat (cocofiber) dan cocopeat, pengeringan, hingga pengemasan. Di penghujung hari, pihak Oesaka mengajak kami melihat langsung semua mesin yang digunakan: mesin pencacah untuk memisahkan cocopeat dan cocofiber, mesin pengering (oven), hingga mesin press untuk mengemas cocopeat menjadi balok.
Mikardes Albert dan Mika Palimbong bertemu dengan pemilik pabrik cocopeat Oeska.
(Foto :S4C_LPPM UNIPA)
Mikardes Albert sedang menggunakan mesin pemisah cocopeat dan cocofiber.
(Foto: S4C_LPPM UNIPA)
Hari kedua menjadi hari praktik bagi kami. Dengan pendampingan dari pihak Oesaka, kami mengolah sabut kelapa secara bertahap, mulai dari menyiapkan bahan, memisahkan cocopeat dari cocofiber menggunakan mesin pencacah, menyaring cocopeat agar berukuran lebih halus, hingga mengeringkannya agar siap digunakan. Kami terlibat langsung dalam setiap tahapan sehingga dapat memahami proses produksinya secara utuh, termasuk cara mengoperasikan peralatan dengan benar dan aman. Pihak Oesaka juga mengingatkan kami tentang pentingnya menerapkan keselamatan dan kesehatan kerja (K3), salah satunya dengan memakai masker saat mengoperasikan mesin.
Mika Palimbong sedang mempelajari proses mencetak cocopeat balok.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA/Mikardes Albert)
Hari ketiga kami lanjutkan dengan proses pengemasan dan penyimpanan. Tim Oesaka kembali menjelaskan hal-hal yang perlu kami perhatikan agar cocopeat memiliki kualitas baik, terutama soal kadar air, pengemasan, dan penyimpanan. Kami belajar menimbang cocopeat kering agar hasilnya lebih merata, memadatkannya hingga berbentuk balok hingga menjadi cocopeat balok, lalu mengemasnya dengan plastik wrapping. Bagi kami, tahap pengemasan ini penting karena menjaga kualitas produk sekaligus menaikkan nilai jualnya. Diskusi kami dengan pihak Oesaka pun semakin hidup karena kami mulai mengaitkan materi pelatihan dengan potensi kelapa yang ada di Papua. Di penghujung kegiatan, kami diberi kesempatan untuk berbagi pengalaman, kendala, dan pengetahuan yang kami peroleh selama tiga hari itu.
Pengalaman ini semakin berkesan berkat keramahan orang-orang di Kebumen. Mereka dengan sabar menjelaskan setiap detail dan tidak segan menjawab pertanyaan kami yang mungkin terdengar sederhana. Suasana tersebut membuat kami merasa nyaman dan semakin bersemangat untuk terus belajar. Kami pun semakin memahami bahwa sesuatu yang sebelumnya dianggap sebagai limbah ternyata dapat diolah menjadi produk yang bermanfaat dan bernilai ekonomi.
Mika Palimbong dan Mikardes Albert berfoto bersama dengan pemilik pabrik cocopeat Oesaka.
(Foto : S4C_LPPM UNIPA)
Studi Banding Briket di Yogyakarta
Setelah menuntaskan pelatihan pembuatan cocopeat, kami melanjutkan perjalanan ke Yogyakarta untuk studi banding ke dua pabrik briket, yaitu Cocogreen dan CV Wahyu. Di kedua tempat ini, kami berkesempatan berdiskusi langsung dengan para pemilik dan pengelola pabrik mengenai seluk-beluk usaha briket, mulai dari persiapan bahan baku, proses pembuatan arang, penghalusan arang, pencampuran bahan, pencetakan, pengeringan, pengemasan, hingga strategi pemasaran.
Mikardes Albert dan Mika berfoto bersama dengan pemilik pabrik briket CV Wahyu.
(Foto :S4C_LPPM UNIPA)
Suasana ruang produksi briket di pabrik briket Cocogreen.
(Foto: S4C_LPPM UNIPA/Mika Palimbong
Bagi kami, diskusi-diskusi ini sangat berharga karena kami tidak hanya mendapat teori, tetapi juga gambaran nyata tentang tantangan yang mungkin kami hadapi jika kelak memulai usaha briket sendiri. Kami pulang membawa banyak catatan dan pelajaran yang rasanya sulit didapat hanya dari membaca buku.
Bagikan Tulisan
Berita Terkait
Video Kami
Kategori Lainnya
Berita Lainnya
