Sharing is Caring: Ketika Cerita Raja Ampat Berlayar ke Wau-Weyaf

Penulis

Kartika Zohar

Tanggal

21 Agustus 2026

Pagi itu, Kamis, 6 Agustus 2026, Balai Kampung Wau menjadi tempat masyarakat Kampung Wau dan Weyaf berkumpul bersama Program Sains untuk Konservasi (S4C) LPPM Universitas Papua. Melalui kisah yang dibagikan, mereka diajak sejenak “berkunjung” ke Raja Ampat, salah satu ikon konservasi laut dunia.

Kegiatan bertajuk “Sharing is Caring: Berbagi Cerita Konservasi dari Raja Ampat dan Pelatihan Ecoprint” ini digelar sebagai bagian dari program Penguatan Konservasi Penyu dan Terumbu Karang Berbasis Masyarakat di Bentang Laut Kepala Burung. Tujuannya sederhana namun mendalam, yaitu menghubungkan pengalaman keberhasilan konservasi di satu ujung Kepala Burung dengan semangat menjaga alam di ujung yang lain. 

Pelatihan ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan yang didukung oleh Program TFCCA. Program TFCCA (Tropical Forest and Coral Reefs Conservation Act) merupakan program kerja sama bilateral antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Amerika Serikat yang didukung oleh Konservasi Indonesia (KI) serta Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) dalam upaya konservasi ekosistem terumbu karang guna mendukung kesejahteraan masyarakat. 

Belajar dari Konservasi di Raja Ampat, untuk Wau dan Weyaf

Raja Ampat telah lama dikenal sebagai jantung keanekaragaman hayati laut dunia. Di balik terumbu karang yang memukau, ada kisah masyarakat adat yang menjaga laut mereka lewat tradisi turun-temurun, dan perempuan-perempuan yang membuktikan bahwa pengelolaan sumber daya alam secara adat bisa berjalan beriringan dengan kesejahteraan ekonomi.

Kisah-kisah itulah yang dibawa ke Kampung Weyaf dan Kampung Wau melalui sesi berbagi cerita bersama Ibu Meity Mongdong, pemerhati konservasi lingkungan dan kelautan di Bentang Laut Kepala Burung Papua. Ia membuka cerita dengan mengingatkan bahwa apa yang terjadi di Raja Ampat sesungguhnya “sama dengan di Tambrauw”, seperti hutan yang masih utuh, laut yang masih kaya, tetapi juga menghadapi ancaman yang serupa: pembukaan lahan, penebangan liar, hingga tekanan terhadap sumber daya pesisir.

Ibu Meity berbagi cerita konservasi dari Raja Ampat
(Foto : S4C_LPMPP UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Ibu Meity berbagi cerita konservasi dari Raja Ampat
(Foto : S4C_LPMPP UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Ibu Meity membawa anggota masyarakat yang hadir untuk menelusuri perjalanan panjang Raja Ampat sejak kawasan konservasi pertama dibentuk pada 2007, awalnya untuk melindungi sumber daya ikan masyarakat, yang kemudian membawa “bonus” berupa pariwisata berkelanjutan. Ia menekankan pentingnya monitoring dan peningkatan kapasitas masyarakat secara terus-menerus. Dengan cara yang sederhana, ia juga menjelaskan mengapa ikan besar begitu berharga: satu ekor ikan berukuran 36 cm memberi kontribusi bibit yang setara dengan 20 ekor ikan berukuran 18 cm. Karena itu, induk-induk besar merupakan aset penting bagi pemulihan stok ikan, bukan target tangkapan.

Ia juga membagikan hasil nyata dari penguatan penegakan hukum dan kepatuhan di Raja Ampat. Patroli gabungan yang melibatkan Badan Layanan Umum Daerah Unit Pelaksana Teknis Daerah (BLUD UPTD) Pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan (KKP) Kepulauan Raja Ampat, masyarakat, dan kepolisian dilakukan sedikitnya 10 kali setiap bulan dan telah berkontribusi pada penurunan praktik overfishing hingga 90%. Tingkat kepatuhan di kawasan konservasi perairan pun mencapai 89,9%, sementara nelayan lokal kini menyumbang 85% dari total tangkapan di wilayah mereka sendiri.

Raja Ampat menunjukkan bagaimana kekayaan alam yang terjaga dapat menjadi daya tarik wisata sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Pengalaman tersebut menjadi pembelajaran penting bagi Tambrauw, yang memiliki potensi serupa untuk dikembangkan secara berkelanjutan.

Di Tambrauw, potensi tersebut antara lain mencakup wisata burung dengan kekayaan spesies seperti cenderawasih, maleo, kakatua, julang, dan kasuari; wisata budaya yang menawarkan kekayaan sejarah, tradisi, dan kehidupan masyarakat; serta wisata berbasis konservasi penyu dan ekosistem pesisir. Namun, Ibu Meity juga mengingatkan bahwa seluruh potensi tersebut hanya dapat berkembang jika ekosistem tetap sehat dan masyarakat siap mengambil peran.

Perburuan liar, pembalakan, pemboman ikan, dan penggunaan racun sianida masih menjadi ancaman yang perlu dihentikan. Karena itu, pengembangan pariwisata di Tambrauw perlu berjalan seiring dengan penguatan konservasi dan penegakan hukum, sekaligus peningkatan kapasitas masyarakat agar dapat berperan sebagai pemandu, pelaku usaha, dan pengelola wisata di wilayahnya sendiri. Ibu Meity berpesan bahwa konservasi dan pariwisata di Tambrauw perlu berjalan bersamaan, ketika menjaga alam itu sekaligus membuka peluang ekonomi.

Diskusi tentang potensi alam di Kampung Wau dan Weyaf
(Foto : S4C_LPMPP UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Sesi diskusi bersama Ibu Meity
(Foto : S4C_LPMPP UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Sesi ini ditutup dengan diskusi hangat bersama warga Wau dan Weyaf, yang sehari-hari hidup berdampingan dengan habitat peneluran penyu. Pengalaman Raja Ampat menjadi cermin bahwa aturan dan penegakan hukum itu penting, tapi keterlibatan aktif masyarakat yang hidup paling dekat dengan alam yang membuatnya bertahan. Bagi Wau dan Weyaf, pesan ini menjadi penting: konservasi akan lebih berkelanjutan ketika masyarakat menjadi bagian dari penjaga sekaligus penerima manfaat dari kekayaan alam di kampung mereka sendiri.

Pelatihan Ecoprint

Setelah cerita, giliran tangan yang bekerja. Bersama fasilitator, Ibu Bertha Matatar, warga diperkenalkan pada ecoprint – dari kata “eco” (alam/ekosistem) dan “print” (mencetak). Ecoprint merupakan teknik mewarnai dan membuat motif pada kain menggunakan bahan-bahan alami di sekitar kita. Prosesnya mirip dengan pembuatan batik, tetapi sepenuhnya memanfaatkan unsur alam, seperti dedaunan, bunga, batang, bahkan ranting, tanpa bahan sintetis atau kimia yang dapat merusak lingkungan.

Ibu Bertha mengenalkan beberapa teknik dasar ecoprint. Dalam pelatihan di Wau-Weyaf, ia secara khusus mengajarkan teknik blanket, yaitu teknik mencetak motif menggunakan dua lembar kain sekaligus. Satu lembar digunakan sebagai kain utama, sedangkan lembar lainnya menjadi “kain blanket” atau kain selimut yang membantu menjaga tekanan warna selama proses pemasakan.

Tahapan yang dipraktikkan warga cukup panjang dan membutuhkan ketelitian. Bahan pewarna yang dipakai bermacam-macam sesuai apa yang tersedia di sekitar kampung,  mulai dari daun mangrove yang menghasilkan corak hijau-kehitaman, daun jati dan daun mangga yang memberi corak kuning-oranye, hingga daun “lanang” untuk sentuhan warna lain. Setiap lembar kain yang dihasilkan pun unik, tidak ada satu motif yang benar-benar sama dengan yang lain, karena bentuk dan susunan daun setiap orang berbeda.

Proses penyusunan daun untuk pola
(Foto : S4C_LPMPP UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Proses penyusunan daun untuk pola
(Foto : S4C_LPMPP UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Ibu Bertha juga menunjukkan bahwa ecoprint bukan sekadar kerajinan tangan biasa. Hasilnya dapat dikembangkan menjadi berbagai produk bernilai jual, seperti tas, dompet, sepatu, syal, hingga sarung botol minum. Kerajinan ini membuka potensi ekonomi kreatif yang dapat terus dikembangkan oleh masyarakat Wau-Weyaf ke depannya.

Dalam paparan Ibu Meity, ecoprint disebut sebagai salah satu contoh nyata ‘ekonomi lainnya dari pariwisata’ yang telah tumbuh di Raja Ampat, berdampingan dengan produk berbasis alam lain seperti VCO (Virgin Coconut Oil ), minyak pijat, dan abon ikan. Ini menjadi pengingat sederhana bahwa alam di sekitar kampung jika dijaga bisa jadi sumber penghidupan jangka panjang.

Di penghujung kegiatan, ibu-ibu berfoto bersama hasil karya ecoprint yang mereka buat selama pelatihan. Kain-kain dengan corak daun jati, bunga, daun ubi, dan daun mangga yang tumbuh di pesisir Wau-Weyaf menjadi bukti kreativitas warga setelah melalui rangkaian proses mulai dari mordanting, penyusunan motif, pengukusan, hingga fiksasi yang dilakukan selama beberapa hari. Di sela-sela itu, muncul diskusi kecil tentang potensi pengembangan produk ke depan, mulai dari taplak meja hingga pembuatan seragam ibu-ibu PW (Persekutuan Wanita), sekaligus menjadi ruang evaluasi untuk memperbaiki kegiatan serupa di masa mendatang.

Tahapan mordanting (perendaman dengan tawas)
(Foto : S4C_LPMPP UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Hasil ecoprint
(Foto : S4C_LPMPP UNIPA/Tim Pemberdayaan Masyarakat)

Ibu Dorlince Bame, salah satu peserta menyampaikan bahwa akan mencoba mengulangi teknik ecoprint dengan menggunakan daun lain yang ada di sekitar rumahnya. Bagi S4C LPPM UNIPA sendiri, kegiatan ini menjadi pijakan awal sebelum program pendampingan lanjutan dilakukan.

Bagikan Tulisan

Berita Terkait

Video Kami

Kategori Lainnya

Berita Lainnya