Other Project

BROWN BAG

Launching Brownbag sebagai Wadah “Sharing” Informasi Ilmiah di Lingkup UNIPA – 25 September 2015

Foto : Tim Abun Humas

Divisi Pembangunan Berkelanjutan melalui sub divisi komunikasi mengadakan seminar kecil yang dikenal dengan nama Brownbag. Kegiatan Brownbag adalah suatu pertemuan informal yang berlangsung pada waktu makan siang (lunch break time). Istilah “Brownbag” mengacu kepada pengertian Kemasan Makan Siang dari Kertas Berwarna Coklat, dan mekanismenya yaitu makan siang/konsumsi disiapkan baik oleh peserta atau penyelenggara. Kegiatan Brownbag normalnya akan berlangsung selama 1-2 jam. Tujuannya adalah untuk memanfaatkan waktu istirahat normal, seperti makan siang, untuk memberikan suatu informasi kepada peserta dalam suasana pertemuan yang lebih informal. Hal ini sering diikuti dengan diskusi terkait topik yang dipaparkan. Umumnya di beberapa universitas di Amerika dan Perusahaan swasta, Brownbag merupakan media untuk manajemen pengetahuan dan komunikasi secara internal. Sesi ini ditawarkan untuk memperbaharui informasi kepada pihak lain tentang penelitian atau kegiatan yang sedang berlangsung. Bentuk kegiatan dapat berupa ceramah, presentasi dari peneliti (penelitian yang sedang dilakukan), dan juga menghadirkan tamu pembicara dari universitas atau instasi lain.

Agenda Brownbag Divisi Pembangunan Berkelanjutan UNIPA

Foto : Tim Abun Humas

Untuk lebih menghidupkan suasana akademik di lingkungan Universitas Papua, Divisi Pembangunan Berkelanjutan, melalui subdivisi Komunikasi mempunyai agenda pelaksanaan Brownbag. Kegiatan ini dirancang untuk menjadi media berbagi informasi ilmiah dalam berbagai bidang yang menarik bagi civitas akademik maupun masyarakat di sekitar UNIPA. Kegiatan ini dikemas dalam suasana yang lebih informal dan berlangsung tiap bulan sebanyak 2 kali (minggu ke-2 dan ke-4). Sesi ini terbuka bagi para dosen atau peneliti di lingkungan UNIPA untuk berpartisipasi sebagai pembicara atau peserta. Selain itu, partisipasi dari mitra-mitra UNIPA (LSM, Pemda, Universitas lain) untuk berbagi tentang informasi terbaru sangat diperlukan untuk perkembangan universitas. Brownbag merupakan istilah asing yang diadopsi untuk nama kegiatan ini sehingga untuk lebih mengangkat kekhasan Papua dan UNIPA sebagai Lembaga Penelitian, istilah Brownbag akan diganti dengan Noken Ilmu hal ini selaras dengan saran dari Rektor UNIPA pada sambutan yang disampaikan pada Launching 25 September 2015 yang lalu. Kegiatan ini mendapat apresiasi dari Rektor UNIPA.

NOKEN ILMU

Noken Ilmu di UNIPA (2015)

Setelah di Launching pada 25 September 2015, Kegiatan Brownbag terus dilakukan dengan menghadirkan pembicara-pembicara yang berkompeten di bidangnya. Pada Launching kegiatan, nama Brownbag mendapat saran untuk diubah menjadi Noken Ilmu, nama ini dinilai lebih relevan dengan keberadaan Universitas Papua di Tanah Papua. Pada edisi selanjutnya nama Brownbag diubah menjadi Noken Ilmu, hingga akhir November 2015 telah tiga kali dilakukan kegiatan Noken Ilmu. Materi-materi menarik yang dipaparkan memberi pengetahuan tambahan bagi peserta yang tidak hanya berasal dari golongan akademisi tetapi juga dari mitra konservasi serta lembaga pemerintahan. Noken Ilmu ke-2 dengan judul materi “Konservasi Laut Berbasis Sasi Studi Kasus di Kabupaten Raja Ampat” yang disampaikan oleh Dr. Paulus Boli memberikan pengetahuan terkait pengelolaan kawasan laut dengan sistem Sasi (menutup satu kawasan dalam waktu tertentu). Dr. Boli melakukan riset di daerah Raja Ampat dengan fokus Sasi, sehingga beliau memiliki keahlian di bidang ini. Sasi merupakan salah satu bentuk konservasi tradisional yang banyak dilakukan dan memberikan hasil yang baik untuk sebuah upaya konservasi. Pada Noken Ilmu ke-3, UNIPA kedatangan tamu dari WWF-US (Louise Glew, Ph.D. dan Gabby Ahmadia, Ph.D) yang membedah buku “2015 State of The Bird’s Head Seascape Marine Protected Area Network”, buku ini merupakan kumpulan data hasil survei sosial masyarakat pada Marine Protect Area di Kepala Burung yang telah dilakukan sejak 2010 hingga saat ini. Terdapat 6 Site Marine Protect Area yang menjadi daerah survei yaitu Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD) Kaimana, KKLD Dampir, KKLD Kofiau, KKLD Misool, KKLD Teluk Mayalibit dan Taman Nasional Teluk Cendrawasih. Data sosial masyarakat ini kemudian menjadi sebuah acuan untuk menilai keberhasilan sebuah kawasan konservasi. Noken Ilmu ke-4 membagikan pengetahuan terkait “Metode Ilmiah Praktis untuk Penelitian Lapang”. Materi ini disampaikan oleh Desi Edowai, S.TP, MP, sebelumnya Desi mengikuti pelatihan di India selama 3 bulan terkait materi ini. Noken Ilmu edisi ini banyak dihadiri oleh mahasiswa tingkat akhir. Pada edisi selanjutnya, untuk Periode Februari-Mei 2016, Noken ilmu bertemakan Professores, dengan mengundang para professor di lingkup UNIPA untuk berbicara terkait bidang keilmuannya.

Noken Ilmu diharapkan menjadi wadah sharing informasi ilmiah yang memberikan pengetahuan tidak saja kepada golongan akademisi sebagai target tetapi juga kepada lembaga-lembaga masyarakat yang bergerak di bidang yang relavan dengan keberadaan UNIPA sebagai Universitas di Tanah Papua. (Kartika Zohar, Sub divisi Komunikasi, CoE-UNIPA)

Noken Ilmu-Seri Proffesores “Belajar dari Para Profesor di UNIPA” (2016)

Setelah 4 kali penyelenggaraan pada tahun 2015 (Noken ilmu 1-4), seri Noken Ilmu UNIPA, terus berlanjut hingga akhir April 2016. Mengangkat tema Proffesores, Noken ilmu mendapat respon positif dari lingkungan kampus. Melalui tema ini, sub divisi komunikasi bekerjasama dengan setiap fakultas yang memiliki guru besar untuk melaksanakan Noken ilmu. Kerjasama yang dilakukan dalam bentuk penyiapan fasilitas penyelenggaran Noken ilmu seperti ruangan, sound system (pengeras suara), dan infokus. Pada semester pertama di tahun 2016, terdapat 5 profesor di UNIPA yang menjadi pembicara dalam seri Noken Ilmu. Noken ilmu ke-5 diselenggarakan pada 24 Februari 2016, bertempat di Ruang Rapat Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK). Prof. Roni Bawole sebagai pemateri mengangkat tema tentang Pengelolaan Kawasan Pesisir. Noken ilmu ke-5 dihadiri 34 orang yang didominasi mahasiswa dan dosen FPIK. Kebijakan terkait pengelolaan kawasan pesisir menjadi diskusi yang menarik pada noken ilmu ke-5. Noken ilmu ke-6 diselenggarakan pada 23 Maret 2016 yang dihadiri oleh 47 peserta. Kegiatan ini dilaksanakan di Ruang Kuliah Peternakan 1, Fakultas Peternakan (FAPET). Pembicara pada Noken Ilmu ke-6 adalah Prof. Budi Santoso. Beliau membagikan pengetahuan tentang Teknologi Pakan Berbasis Lingkungan. Diskusi terkait manfaat teknologi pakan berbasis lingkungan merupakan diskusi yang mengundang perhatian para peserta Noken ilmu ke-6.

 

Prof. Charlie Heatubun merupakan pembicara Noken ilmu ke-7 yang diselenggarakan di audiotorium Fakultas Kehutanan (FAHUTAN) pada 24 Maret 2016. Noken ilmu yang dihadiri oleh 83 peserta ini mendiskusikan tentang penemuan 3 genus palem di New Guinea. Diskusi terkait nomenklatur (sistem penamaan) palem menjadi diskusi yang paling menarik. Diskusi ditutup dengan pemberian buku oleh Prof. Charlie sebagai hadiah kepada para penanya dalam sesi diskusi. Noken ilmu ke-8 yang diselenggarakan di Aula Fakultas Pertanian (FAPERTA) pada 14 April 2016 yang dihadiri 85 peserta mendiskusikan tentang Potensi dan Pemanfaatan Sagu. Prof. Barahima Abas sebagai pemateri membagikan pengetahuan terkait sagu dan hasil olahannya. Pada tanggal 27 April 2016 bertempat di Fakultas Peternakan, Prof. Andoyo berbagi pengetahuan tentang Perbaikan Mutu Genetik Ternak Lokal dengan Metode Konvesional. Noken ilmu ke-9 ini dihadiri oleh 50 peserta. Diskusi paling menarik ketika membandingkan keunggulan metode konvensional dengan metode molekuler yang popular 10 tahun terakhir.

NOKEN ILMU

Fakta dan Mitos tentang Ular di Papua (2016)

Salah satu Program Kerja dari Divisi Pembangunan Berkelanjutan (CoE)-salah satu divisi di bawah Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat, Universitas Papua (UNIPA) adalah menyelenggarakan seminar ilmiah yang diperkenalkan dengan nama Noken llmu. Sejak bulan September 2015, telah diselenggarakan sepuluh Noken llmu dengan topik yang beragam. Noken llmu diharapkan dapat menjadi wadah tempat berbagi pengetahuan ilmiah yang dilakukan di lingkungan kampus UNIPA. LPPM UNIPA bekerjasama dengan Jurusan Biologi, mengundang perwakilan dari tiga sekolah untuk hadir pada Noken llmu kesebelas yang mengangkat topik tentang ular dengan Judul “Fakta dan Mitos tentang Ular di Papua”. Ular merupakan salah satu hewan yang menakutkan bagi sebagian besar orang. lnformasi ilmiah tentang ular juga tidak banyak diketahui, kecuali oleh orang-orang yang menekuni bidang herpetofauna dan dengan dasar ini, topik tentang ular telah menarik banyak peserta Noken llmu. 30 Siswa Sekolah Menengah Atos dari 3 sekolah di Manokwari (SMA Negeri 1, SMA Negeri 2, dan SMA Santo Paulus) dan sekitar 90 mahasiswa dan dosen dari UNIPA menghadiri kegiatan ini. Noken llmu XI, memberikan kesempatan bagi pesertanya untuk mengenal ular dengan lebih dekat. Melalui kerjasama dengan jurusan Biologi, para peserta dapat melihat koleksi spesimen beberapa jenis ular yang ado di Papua.

Dr. Keliopas Krey sebagai pemateri dengan senang hati berbagi informasi tentang ular, “Pak Kely” Sapaan akrab beliau, merupakan Ketua Jurusan Biologi, yang menekuni bidang herpetologi, menceritakan pengalaman penelitian ular yang dilakukan di tanah Papua, terutama penelitian untuk ular putih (Micropechis ikaheka). Ular putih merupakan salah satu jenis ular berbisa yang ado di tanah papua, bisa ular ini bersifat mematikan karena menyerang saraf, darah dan otot secara bersamaan. Manusia yang digigit ular ini hanya dapat bertahan maksimal 18 jam dan akhirnya tewas. Pak Kely juga menyampaikan fakta tentang ular dan mitos-mitos tentang ular yang banyak beredar di masyarakat. Sesi diskusi diisi dengan tanya jawab antara peserta dan pemateri. Para peserta bertanya berbagai hal tentang ular mulai dari mitos-mitos yang mereka dengar atau pun sekedar mengecek pengetahuan yang mereka ketahui tentang ular. Pada sesi terakhir para peserta diajak untuk mengenal ular secara dekat, selain koleksi spesimen ular yang telah diawetkan, pada kesempatan ini juga peserta dapat berinteraksi langsung dengan ular yang masih hidup, jenis ular piton (Morelia amethistina) menjadi model untuk pengenalan ular secara dekat. Awalnya para peserta yang melihat ular ketika dilepaskan menjadi panik. Terutama ketika melihat “sang model” tersebut merayap. Namun kepanikan itu dapat diatasi dengan cara menenangkan para peserta dan mengajak peserta memegang ular dengan perlahan.

Papua, Sorga bagi Pandanaceae (2016)

Tumbuhan apa yang banyak Anda jumpai di daerah pantai atau pesisir? Kebanyakan orang akan mengenal atau menyebut tumbuhan ini dengan nama pandan. Pandan merupakan tumbuhan yang banyak dijumpai di habitat pantai atau pesisir, dicirikan dengan daun yang memanjang (seringkali tepinya bergerigi). akar yang besar dan memiliki akar tunjang untuk menopang tubuhnya, serta memiliki daun yang selalu hijau. Fakta yang menarik untuk seorang biologist. Tidak hanya itu, Dr. Ir. Nurhaidah Sinaga, M.Si juga menjelaskan mengenai Taksonomi dan Biodiversity Pandan yang masuk dalam Famili pandanaceae juga informasi tentang penyebaran, pemanfaatan, penelitian serta pengembangan Pandanaceae di Tanah Papua. lnilah cerita dari Noken llmu XII yang diselenggarakan pada 27 Oktober 2016 lalu di Fakultas Kehutanan UNIPA. Setelah menyelenggarakan 11 Noken llmu dengan tema beragam, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat melalui Divisi Pembangunan Berkelanjutan kembali mengadakan Noken llmu 12 dengan judul “Papua: Sorga Bagi Pandanaceae”. Kegiatan ini berlangsung dengan baik dan menarik, karena ternyata ado informasi lain tentang Pandanaceae yang tidak banyak diketahui, seperti buah Pandanaceae yang dapat diolah menjadi selai buah, dodol dan sirup atau bahan makanan lainnya. Para peserta Noken llmu juga ditantang oleh Dr. Ir. Nurhaidah Sinaga, M.Si sebagai pemateri sekaligus peneliti Pandanaceae untuk melakukan penelitian Pandanaceae terutama untuk upaya konservasinya mengingat konversi hutan dan pantai yang semakin tinggi akibat pembangunan. “Sayang sekali jika kita belum mengenal jenis tersebut dan tan pa kita sadari jenis itupun telah punah” ungkapan yang disampaikan pemateri untuk mengingatkan peserta seminar. Akhir dari penyajian materi ini ditutup dengan memberikan kesempatan kepada peserta seminar untuk bertanya. Antusias dari peserta seminar cukup tinggi, hal ini terbukti dengan pertanyaan-pertanyaan mereka mengenai Pandanaceae.

Sampah, Bagaimana Menyikapinya (2016) ?

Pada penghunjung tahun 2016, Noken llmu kembali dilaksanakan dengan tema lingkungan. Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPMJ UNIPA melalui Divisi Pembangunan Berkelanjutan bekerjasama dengan fakultas kehutanan menyelenggarakan Noken llmu ke-13. Kegiatan yang dihadiri sekitar 109 orang peserta ini berdiskusi tentang “Sampah, bagaimana menyikapinya”. Bertempat di Aula Fakultas MIPA – UNIPA, pada 29 November lalu, Noken llmu ini berlangsung dengan sangat menarik. Sekitar 10 peserta bertanya tentang mekanisme pengelolaan sampah yang baik dan tepat untuk diterapkan di Manokwari. Charly Wanggai, MIL sebagai pembicara pada Noken llmu 13 dengan sangat antusias berbagi materi tentang sampah dan pengelolaanya. Beliau banyak bergabung dalam komunitas pengelolaan sampah. Pengelolaan sampah menjadi masalah serius di Manokwari dan di kota-kota besar lainnya. Pengelolaan yang tidak tepat, tidak adanya sistem yang terbangun untuk pengelolaan, dan penegakan peraturan merupakan faktor yang menjadi penyebab munculnya masalah tentang sampah. Pemerintah Indanesia telah mengeluarkan perundang-undangan tentang pengelolaan sampah dalam Undang-undang Nomor 18 Tahun 2008 dan mengeluarkan peraturan pemerintah Nomor 81 Tahun 2012 tentang pengelolaan sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga. Melalui semua peraturan ini diharapkan masalah sampah dapat dikurangi, namun penegakan peraturan di lapang yang tidak sesuai menjadikan sampah tetap menjadi masalah. Charly menawarkan pemanfaatan sampah yang berada disekitarnya untuk mengurangi masalah pengelolaan sampah. Misalnya sampah plastik yang dapat diolah menjadi tas atau sampah kemasan air mineral yang dapat diolah menjadi tempat sampah, tentunya semua sampah yang telah didaur ulang ini membutuhkan modal yang sedikit dan ketika dijual dapat memberikan keuntungan yang lumayan besar. Charly pernah mendaur ulang kemasan air mineral dalam gelas dengan modal± Rp 20.000 menjadi lampu hias yang dijual seharga ± Rp 150.000. Hal ini tentu sangat menarik karena selain mendapat keuntungan, kita juga dapat membantu mengurangi sampah. Dibutuhkan kreatifitas dan tekad yang kuat dalam mengolah sampah menjadi benda yang dapat digunakan. Kegiatan Noken ilmu ini diakhiri dengan sambutan dari Dr. Fitryanti Pakiding sebagai ketua Divisi Pembangunan Berkelanjutan, beliau mengapresiasi mahasiswa• mahasiswa yang hadir dalam kegiatan Noken ilmu dan memberikan informasi terkait kegiatan-kegiatan dari Divisi Pembangunan Berkelanjutan di masa yang akan datang. “Kami berharap bahwa akademisi UNIPA dapat tetap berpartisipasi dalam setiap kegiatan yang diadakan oleh LPPM melalui divisi pembangunan berkelanjutan” ujar Dr. Fitryanti menutup sambutannya.

Peran UNIPA dalam Upaya Pelestarian Bahasa di Papua (2017)

Pada tahun 2017, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat UNIPA melalui Divisi Pembangunan Berkelanjutan kembali mengadakan Noken llmu. Noken llmu merupakan wadah berbagi informasi dalam bentuk seminar. Hingga Maret 2017, Divisi Pembangunan Berkelanjutan telah menyelenggarakan 14 seri Noken llmu dengan tema-tema diskusi yang menarik. Noken llmu ke 14 diadakan pada Selasa, 7 Maret 2017 bertempat di Unit Pelayan Teknis Bahasa UNIPA dengan judul Peran UNIPA dalam Upaya Pelestarian Bahasa di Papua yang disampaikan oleh Dr. Suriel S. Mofu., S.Pd. M.Ed., M.Phill, kegiatan ini dihadiri total 100 orang peserta, 42 diantaranya merupakan Siswa Menengah Atas dari SMA Negeri 1, SMA Negeri 2, dan SMA YPK Oikumene. Para siswa sekolah menengah atas yang diundang umumnya berasal dari jurusan bahasa. Hal ini dimaksudkan untuk memperkenalkan informasi terkait bahasa di Papua dan penanaman minat bagi generasi muda dalam meneliti bahasa-bahasa yang berada Pada diskusi ini Dr. Mofu membagikan pengetahuan berharga tentang bahasa-bahasa di Papua yang berhasil diselamatkan. Salah satunya bahasa Dusner yang terancam punah karena penutur asli bahasa tersebut tersisa 3 orang dan telah berusia lanjut. Bahasa-bahasa ini penting untuk didokumentasikan sebagai kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia dan tentunya kekayaan ini sangat berharga sebagai warisan dunia. Berbicara tentang bahasa maka tidak terlepas dari manusia sebagai penggunanya. Jika pada keanekaragaman hayati dikenal upaya konservasi untuk menjamin keberlanjutan keberadaan keanekaragaman hayati yang ada, maka hal yang sama juga harus dilakukan pada bahasa. Diperlukan generasi yang tetap peduli terhadap kebudayaan yang dimiliki agar kekayaan yang ada saat ini dapat diwariskan dan juga dinikmati oleh generasi yang akan datang.

Jasa Hutan yang Terlupakan

Kamis, 10 Agustus 2017, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat kembali mengadakan seminar ilmiah noken ilmu yang ke-XV dengan tema: Mengenal Nilai Jasa Lingkungan, bertempat di Auditorium ( Fakultas Kehutanan UNIPA) pada pukul 08.00-11.00 yang dihadiri 46 orang pelajar, 3 orang guru pendamping, 5 orang mahasiswa, 2 orang dosen dan orang alumni dengan pemateri Ir. Max J. Tokede MS. Pada kegiatan yang dimaksud beliau memaparkan tentang jasa -jasa hutan yang sering diabaikan manusia seperti sebagai sumber 02 dan air bersih, penangkal angin, mencegah terjadinya bencana alam, misalnya tsunami, longsor, banjir, erosi, abrasi dan masih banyak lagi. “Sering kali manusia lupa bahwa hutan merupakan bagian penting yang harus tetap ada guna menstabilkan keadaan ingkungan sehingga dengan mudahnya manusia mengalihfungsikan hutan untuk keperluan konsumtif tanpa memberikan ruang bagi hutan untuk melakukan tugasnya” paparnya. Dalam kesempatan tersebut ada juga beberapa pertanyaan yang diajukan oleh beberapa peserta seperti andil pemerintah untuk melindungi hutan sehingga fungsi hutan tidak dialihkan dengan mudahnya dimana kegiatan tersebut akan menimbulkan masalah-masalah alam seperti yang telah disebutkan di alas. Pada kesempatan terse but pemateri menjelaskan bahwa pemerintah dalam hal ini dinas Kehutanan berfungsi untuk mengatur bagian-bagian hutan mana yang dapat dialihfungsikan sebagai pemukiman-perkantoran dan tidak dapat dialihfungsikan. Selain itu,Polisi hutan juga bertugas untuk mendisiplinkan hal tersebut dilapangan, namun birokrasi serta kongkalikong yang sering terjadi di balik layar menyebabkan semua fungsi serta pembagian-pembagian wilayah bisa menjadiabu-abu sehingga timbulah berbagai macam masalah alam di area pemukiman yang tidak terdapat hutan lagi. Dr. Ir Max Tokede, MS memaparkan bahwa “Tidak hanya sebagai pencegah kerusakan alam, hutan juga dapat berfungsi ekonomis jika dimanfaatkan serta diberdayakan dengan baik dan benar. Beberapa bagian hutan yang dapat diberdayakan antara lain kayu yang nantinya akan diolah menjadi berbagai hasil hutan seperti tripleks, balok, papan, dsb. Hal ini tentunya dapat menjadi sumber pendapatan daerah dan menambah penghasilan warga di daerah sekitar hutan. Hulan tidak hanya berjasa bagi manusia, namun juga makhluk hidup lainnya yaitu hewan yang tinggal dan berekosistem di dalamnya. Hulan menjadi sumber makanan bagi berbagai jenis hewan seperti aves, amphibi, mamalia, arthropoda, reptil, dsb. Hutan merupakan rumah bagi semua makhluk hidup sehingga keberadaannya harus tetap dilindungi. Tanpa hutan siklus kehidupan alam akan rusak dan menimbulkan berbagai kerusakan ekosistem sehingga manusia maupun makhluk hidup lainnya akan kehilangan sumber-sumber kehidupannya.

Use of Western Atlantic Mesophotic Reefs by Invasive Lionfish

Dr. Dominic Andradi Brown adalah seorang Marine Science Fellow di World Wildlife Fund Amerika Serikat dan kolaborator proyek pemantauan ekologi terumbu karang di Bentang Laut Kepala Burung. Dr. Brown berkunjung selama satu minggu dari Washington DC untuk membantu tim pemantauan ekologi terumbu karang (“tim ekologi BHS”) di Divisi Pembangunan Berkelanjutan LPPM UNIPA dalam mengolah data yang diperoleh selama kegiatan survei. Di akhir kunjungannya, pada hari Kamis, 19 Oktober 2017, Dr. Brown berbagi tentang salah satu bagian dari disertasinya melalui Seminar Noken Ilmu XVIII. Dalam presentasinya yang berjudul “Use of western Atlantic mesophotic reefs by invasive lionfish,” Dr. Brown menceritakan invasi lionfish (Pterois sp.) di Laut Karibia. Lionfish berasal dari Indo-Pasifik namun kini tersebar di terumbu karang di Laut Karibia, Atlantik bagian barat, dan Laut Mediterania. Lionfish adalah pemangsa yang efektif. Hadirnya lionfish di daerah-daerah tersebut mengurangi perekruitan ikan-ikan asli dan menurunkan biomasa ikan mangsa lionfish. Suksesnya invasi lionfish dikarenakan dietnya yang umum, kemampuan untuk cepat dewasa, dan sangat produktif. Selain itu lionfish tidak memiliki predator alami dan ikan-ikan di Laut Karibia yang dimangsa tidak mengenali lionfish sebagai predator. Ketika menyelam di kedalaman 30-150 meter (zona mesofotik) di Laut Karibia, Dr. Brown menemukan banyak lionfish. Pengamatan itu kemudian mendorong Dr. Brown untuk mempela- jari penggunaan zona mesofotik oleh lionfish. Dr. Brown menemukan banyak lionfish usia reproduksi di zona mesofotik. Ternyata larva lionfish tumbuh besar di laut dangkal namun kemudian bermigrasi ke kedalaman mesofotik ketika dewasa. Lionfish-lionfish dewasa tersebut kemudian dapat mengimpor individu-individu baru ke zona yang lebih dangkal. Hasil penelitian Dr. Brown mendorong inovasi dalam mengontrol populasi lionfish. Untuk mengontrol populasi lionfish, masyarakat lokal seperti di Utila, Honduras menangkap lionfish dengan jaring dan tombak, bahkan mempromosikan aktivitas tersebut bagi wisatawan-wisatawan yang ingin menyelam. Kampanye untuk mengkonsumsi lionfish juga dilakukan untuk mendorong upaya ini. Penangkapan lionfish banyak terjadi antara kedalaman 0 dan 30 meter karena keterbatasan kemampuan menyelam. Dr. Brown merekomendasikan agar upaya mengontrol populasi lionfish dilakukan juga di kedalaman > 30 meter. Karena melebihi kedalaman selam, perangkap-perangkap dengan umpan kini tengah dikembangkan untuk menangkap lionfish di kedalaman mesofotik. Seminar Noken Ilmu kali ini dilaksanakan di ruang rapat Divisi Pembangunan Berkelanjutan dan dihadiri 21 peserta yang terdiri dari mahasiswa, dosen, dan staf Divisi. Melalui seminar ini, para peserta belajar tentang satu dari ratusan cerita tentang spesies invasif yang tengah berkembang di ekosistem laut dunia.

PROGRAM RRI
-MANOKWARI MENYAPA-

Manfaat Kawasan Konservasi Secara Sosial  Ekonomi

Kamis, 5 Januari 2017, Ketua Divisi Pembangunan Berkelanjutan, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UNIPA Dr. Fitryanti Pakiding diundang menjadi narasumber dalam Program Manokwari Menyapa yang diselenggarakan oleh Radio Republik Indonesia (RRI) dengan tema Manfaat Kawasan Konservasi secara Sosial Ekonomi. Diskusi yang berlangsung selama ± 50 menit ini membahas banyak hal tentang pemanfaatan sumberdaya alam dan upaya konservasinya terutama yang terjadi di Tanah Papua. Pada kesempatan ini juga, Manajer Sekretariat Bersama Bentang Laut Kepala Burung, Henny Widayati tu rut hadir dan memberi ulasan terkait upaya yang dilakukan Sekretariat Bersama Bentang Laut Kepala Burung (BLKB) dalam mendukung Pemerintah Papua Barat sebagai Provinsi Konservasi. Sebuah pertanyaan pembuka yang disampaikan oleh moderator dari RRI kepada narasumber tentang apakah upaya konservasi di Papua ini gagah atau sukses menjadi permulaan diskusi yang menarik untuk perbincangan 50 menit kemudian. Dr. Fitry menyampaikan bahwa sejak Tahun 2010 lalu, UNIPA melalui LPPM bekerjasama dengan WWF-US dan Konsorsium BLKB melakukan penelitian untuk belajar bagaimana pengelolaan sumberdaya alam di Papua khususnya wilayah perairan mempengaruhi kesejahteraan masyarakat maupun kesejahteraan alam, serta mencoba memahami dinamika perubahan sosial yang terjadi di masyarakat baik yang hidup di dalam maupun yang hidup di luar kawasan konservasi sehingga dapat mengetahui dengan pasti bahwa dampak perubahan yang terjadi benar-benar karena pengelolaan sumberdaya alam. Pada pertengahan 2016, hasil penelitian ini telah disampaikan kepada pemerintah daerah di kawasan konservasi dimana penelitian tersebut berlangsung, untuk kemudian ditindaklanjuti dalam pengambilan keputusan untuk pembangunan di masing-masing daerah.

Program RRI - Manokwari Menyapa (2016) Manfaat Kawasan Konservasi Secara Sosial Ekonomi

Foto : Tim Abun Humas

Pada kesempatan ini juga Dr. Fitry menambahkan bahwa upaya konservasi tidak semata-mata hanya melindungi suatu habitat atau spesies tetapi juga dapat memanfaatkannya untuk kesejahteraan manusia secara bijaksana dengan tetap mempertimbangkan keberlanjutan di alam, tentunya juga hal ini dimaksudkan agar generasi yang akan datang dapat menikmati sumberdaya alam saat ini. Program diskusi tentang isu lingkungan direncanakan terus dilakukan pada waktu-waktu mendatang dengan melibatkan akademisi di UNIPA bekerjasama dengan Sekretariat Bersama BLKB dan Radio Republik Indonesia di Manokwari. Anda tertarik?, Program Manokwari Menyapa disiarkan setiap hari Kamis pukul 08.00 wit dengan saluran 98.3 MHz. Hal ini terkait dengan program RRI di Tahun 2017 yang akan menyiarkan diskusi mengenai isu-isu konservasi untuk mendukung penyebaran informasi Papua Barat sebagai Provinsi Konservasi.

Fakta dan Mitos tentang Ular di Papua

Edisi 9 Februari 2017

Sebagai  upaya  penyebaran  informasi  Papua  Barat sebagai  Provinsi  Konservasi,  Radio  Republik Indonesia  (RRI)  Manokwari  bekerjasama  dengan Divisi  Pembangunan  Berkelanjutan  pada  Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Papua (UNIPA) serta dengan dukungan dari Sekretariat Bersama  Bentang Laut Kepala  Burung (BLKB)  menyelenggarakan  program  Manokwari  Menyapa yang mengangkat  informasi  keanekaragaman  hayati  Papua  bersama  pemanfaatannya  dan usaha konservasinya.

Program RRI – Manokwari Menyapa_2016_Fakta dan Mitos tentang Ular di Papua

Foto : Tim Abun Humas

Edisi  Kamis, 9 Februari  2017 perbincangan diisi  dengan  Fakta  dan  Mitos  tentang  Ular  di Papua.  Dr.  Keliopas  Krey  sebagai  pembicara merupakan  ahli   Herpetologi   di   Papua  yang saat  ini  menjadi  tenaga   pengajar  di   UNIPA. Perbincangan   berlangsung  dengan   menarik dan  interaktif.  Dr.  Krey  berbagi  banyak  informasi tentang ular yang berada di Papua. lnformasi  ini   mendapat  banyak  pertanyaan  dari para  pendengar,  pada   umumnya   para   pendengar   bertanya   mengenai  ular   dan   mengaitkannya  dengan  cerita  tentang  ular  pada kitab  suci.  Diskusi yang berlangsung sekitar  1 jam  memberikan  informasi  berharga  tentang satwa liar yang  bagi kebanyakan  orang  menakutkan  namun  ternyata   hidup  sangat  dekat dengan  manusia.  Terdapat  2.700 jenis  ular di seluruh  dunia  dan 83 jenis ular yang hidup  di Papua,   sekitar   16  jenis   diantaranya   sangat berbisa dan dapat membunuh manusia.

Papua Sorga bagi Pandanaceae

Edisi 20 Februari 2017

Manokwari Menyapa edisi khusus konservasi Senin, 20 Februari 2017 mengangkat judul Papua Surga bagi Pandanaceae. Diskusi tentang salah satu tumbuhan yang berada di Papua ini memberikan pengetahuan baru bagi masyarakat tentang sumberdaya alam yang dimiliki Papua. Dr. Nurhaidah Sinaga sebagai pembicara mengungkapkan banyak informasi yang belum banyak diketahui oleh masyarakat umum. Papua memiliki 500 jenis Pandanus dari total 600 jenis Pandanus di dunia. Papua juga memiliki lebih dari 100 jenis Freycinetia dibandingkan dengan wilayah lain di dunia. Hal ini merupakan alasan yang kuat bahwa Papua surga bagi pandanaceae. Papua juga memiliki Sararanga sinuosa yang merupakan jenis endemik, satu-satunya jenis dari genus Sararanga yang ada di Indonesia yang terletak di Papua. lni beberapa deskripsi yang disampaikan oleh Dr. Nurhaidah Sinaga terkait kekayaan Famili Pandanaceae yang berada di Papua. Namun kekayaan ini belum sepenuhnya di manfaatkan oleh masyarakat di Papua. UNIPA sebagai salah satu lembaga pendidikan telah melakukan penelitian untuk pemanfaatan tumbuhan ini. Tumbuhan ini memiliki banyak manfaat mulai dari daun, buah, dan batang. Secara ekologis, tumbuhan ini dapat berfungsi menahan abrasi air laut bahkan satu penelitian memberikan informasi bahwa tumbuhan ini dapat menahan tsunami lebih baik dari manggrove, daunnya dapat bermanfaat sebagai interior mobil dan wallpaper, buahnya dapat diolah menjadi selai dan sirup, sedangkan batangnya dapat dijadikan pengganti kayu.

Program RRI – Manokwari Menyapa_Papua Sorga bagi Pandanaceae

Foto : Tim Abun Humas

Banyak manfaat yang dimiliki oleh tumbuhan Pandanaceae ini. Namun seperti pada umumnya tantangan terbesar dari keberadaan satwa dan tumbuhan lain adalah konversi hutan sebagai habitat. Pembangunan di segala bidang diharapkan juga dapat memperhatikan keberadaan dari tumbuh-tumbuhan tertentu terutama yang endemik, sangat disayangkan jika suatu jenis tumbuhan punah sebelum dikenali. Terkait hal ini Dr. Sinaga menyampaikan bahwa perlu adanya kerjasama yang sinergi dari semua pihak untuk menjaga kekayaan yang dimiliki Papua. Tentunya diharapkan pula kekayaan yang ada ini dapat dimanfaatkan secara bijaksana untuk kesejahteraan masyarakat yang berada di Papua.

Cerita Siaran di Bulan Maret 2017

Setelah empat kali dilaksanakan sejak awal tahun 2017, program RRI Manokwari Menyapa kini menjadi program rutin yang diadakan setiap minggu. Program ini merupakan bentuk upaya penyebaran informasi terkait Papua Barat sebagai provinsi konservasi, yang terselenggara atas kerjasama RRI Manokwari dan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Papua (LPPM UNIPA) serta dengan dukungan dari Sekretariat Bersama Bentang Laut Kepala Burung. Program ini berbentuk diskusi interaktif dengan menghadirkan narasumber yang berasal dari UNIPA. Pada Bulan Maret 2017, terdapat lima pembicara yang membahas topik-topik menarik dengan mengangkat tema tentang Keanekaragaman hayati dan konservasi untuk tanah Papua. Edisi Kamis, 2 Maret 2017, Charly Bravo Wanggai, ST., M.I.L, staf dosen di Fakultas Kehutanan menjadi narasumber untuk diskusi tentang sampah. Diskusi dengan judul Sampah, Bagaimana Menyikapinya menjadi diskusi yang menarik karena yang menjadi studi kasus adalah daerah Manokwari. Sampah menjadi ancaman yang serius untuk lingkungan dan tentunya habitat dari satwa dan tumbuhan. Menurut UUD No 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, sampah adalah sisa kegiatan sehari-hari manusia dan/atau proses alam yang berbentuk padat.

Pak Charly menilai bahwa manajemen pengelolaan sampah di Manokwari harus dibenahi, mulai dari aspek kelembagaan dimana saat ini pengelolaan sampah dilakukan oleh Dinas Lingkungan Hidup, kemudian aspek pembiayaan yaitu alokasi APBD untuk memenuhi kebutuhan pengelolaan sampah, aspek teknis terkait daerah layanan untuk persediaan tempat sampah di daerah pemukiman, lalu penerapan peraturan yang ada, dan yang terpenting adalah peran serta masyarakat dalam pengelolaan sampah itu sendiri. Kita perlu memilah sampah sejak di rumah-rumah tangga dan hal ini membutuhkan kesadaran dari setiap orang. Pada minggu selanjutnya, edisi Kamis, 9 Maret 2017. Prof. Dr. Ir. Roni Bawole, M.Si pembicara yang berasal dari Fakultas Perikanan dan llmu Kelautan membahas tentang perikanan skala kecil dengan judul Tata Kelolah Perikanan Skala Kecil. Perikanan skala kecil memberikan fokus pada bagaimana perikanan dapat dilakukan secara bijak. Prof. Bawole menyampaikan bahwa usaha-usaha perikanan disekitar kita banyak yang tidak memiliki ijin padahal berpotensi, hal ini juga akan menjadi pemborosan dari segi ekonomi sumberdaya. Sedangkan yang dimaksud dengan perikanan skala kecil memiliki peranan yang tidak dapat diabaikan jika dikaji dari sisi produksi. 85%-90% produksi perikanan di Papua Barat merupakan kontribusi dari perikanan skala kecil dan tentunya ini akan menjadi lapangan yang baik jika dikelola dengan baik.

 

Selanjutnya, di edisi Kamis, 16 Maret 2017, Ir. Freddy Pattiselano, M.Sc dari Fakultas Peternakan berbicara tentang Pontensi ancaman yang dihadapi oleh keanekaragaman hayati di Papua. Bukti Empiris yang menunjukan bahwa Tanah Papua (404.600 km2 atau 42 juta Ha) merupakan area prioritas global untuk konservasi keanekaragaman hayati yang sangat kaya. Namun, fenomena kemiskinan terkadang mendorong manusia untuk memanfaatkan kekayaan sumberdaya alam yang ada secara berlebihan untuk meningkatkan taraf hidup mereka. Ketergantungan pemerintah daerah terhadap industri ekstraktif yang relatif tinggi cukup beralasan karena kekayaan tersebut merupakan modal untuk peningkatan pendapatan daerah.

 

Studi melalui pendekatan spasial yang dilakukan oleh Universitas Papua menunjukan adanya tumpang tindih kawasan konsesi pertambangan dan areal pertanian modern dalam bentuk investasi swasta di bidang pertambangan dan perkebunan. Hasil studi ini juga mengungkap bahwa usaha investasi swasta yang beroperasi di Provinsi Papua Barat ternyata bukan hanya merupakan sumber potensi konflik diantara para pihak (stakeholder) yang terlibat di dalamnya, tetapi juga membawa pengaruh negatif terhadap kawasan hutan yang ada. Degradasi sejumlah kawasan hutan berdampak terhadap meningkatnya luasan kawasan hutan kritis yang terus meningkat di kawasan Kepala Burung Papua. Selanjutnya dari analisis spasial yang dilakukan, jika segmen jalan regional jadi dibangun (sebagai tambahan dari segmen jalan yang sudah ada) total area yang akan terkena dampak adalah 25%. Hampir 25% kawasan konservasi dan hutan lindung di Papua berada dalam radius kurang 20 km dari jalan yang sudah ada.

 

Hutan lindung akan menerima dampak yang signifikan dari rencana pembangunan jalan, karena sekitar 35% wilayahnya berada dalam zona buffer dengan radius kurang dari 20 km. Sedangkan kawasan konservasi yang masuk dalam zona buffer 20 km hampir mencapai 30% (Mertens, 2002).

 

Sangat dilematis memang, karena di satu sisi potensi sumber daya alam yang ada perlu dimanfaatkan untuk pembangunan. Di sisi lain hampir sebagian besar wilayah di Provinsi Papua Barat perlu dilindungi sebagai habitat flora dan fauna potensial Papua. Pada diskusi ini ancaman yang dibicarakan ini hanya terbatas pada dampak pemanfaatan sumber daya alam terhadap kekayaan sumber kehati yang ada. Oleh karena itu pendekatan yang relevan antara lain: (1) Pemanfaatan sumberdaya alam yang ada harus dilakukan secara adil merata oleh para pihak (stakeholder) secara transparan. (2) Menciptakan aktivitas ekonomi alternatif di pedesaan sebagai sumber pendapatan tunai rumah tangga perlu dilakukan sehingga ketergantungan terhadap pemanfaatan sumberdaya alam sedapat mungkin dikurangi (3) POKJA Provinsi Konservasi Papua Barat perlu menetapkan dan merekomendasikan ‘ambang perlindungan minimum’ yang dapat diukur untuk penggunaan sumber daya alam, mengusulkan untuk meninjau peran langsung modal-alam yang ada guna mendukung kehidupan masyarakat setempat. (4) Rencana penyelenggaraan pemerintahan yang baik dan bertanggung jawab dibawah sorotan UU Otonomi Khusus 21/2001, yang berpihak pada masa depan keanekaragaman hayati Papua. Serta (5) mengakomodasi kearifan tradisional sebagai bagian dari etika konservasi harus mendapat perhatian serius. Dr. Zita L Sarungallo, staf dosen dari Fakultas Teknologi Pertanian berbagi pada edisi Kamis, 23 Maret 2017. lbu Zita berbagi informasi tentang Potensi Minyak Buah Merah sebagai Pangan Fungsional. Buah merah (Pandanus conoideus) merupakan tanaman endemik Papua, yang menyebar hampir di seluruh tanah Papua.

 

Secara taksonomi buah merah tergolong dalam famili Padanus. Buah merah dengan kadar lemak tinggi baik untuk diekstrak minyaknya, sedangkan yang berkadar lemak rendah, umumnya lebih manis serta mengandung pasta yang tinggi sehingga berpotensi untuk diolah menjadi berbagai produk pangan lain seperti selai, saos, dan dodol buah merah. Ekstrak buah merah juga memiliki aktivitas antioksidan yang tinggi yang ditandai dengan tingginya kadar komponen fenol dan flavanoid, karotenoid dan tokoferol, serta asam lemak tidak jenuh.

 

Nilai manfaat jasa lingkungan hutan hanya dapat dirasakan, tetapi sangat penting dalam menunjang ke berlangsungan kehidupan manusia dan mahkluk hidup lainnya. Diskusi ini memberi beberapa contoh komoditas jasa lingkungan hutan sebagai penyadaran bahwa nilai manfaat hutan bagi kehidupan umat manusia itu penting dan memiliki peluang untuk diusahakan demi menyumbang perekonomian masyarakat. Hutan memiliki fungsi hidrologis (mengatur tata air) yaitu suatu kemampuan hutan untuk menyerap dan menyimpan air pada waktu musim penghujan serta menyalurkan dan mengalirkan air pada musim kemarau melalui mata air, danau dan atau sungai-sungai secara teratur. Disisi lain, pada belantara hutan Tropis tersimpan berbagai fenomena alam yang khas dan unik hasil interaksi antara abiotik (sumberdaya fisik) dengan biotik (mahluk hidup). Produk- produk jasa hutan dalam membentuk fenomena alam mengandung berbagai ilmu pengetahuan dan teknologi yang apabila dipelajari kembali akan menghasilkan berbagai manfaat yang sangat berguna bagi kehidupan manusia, bahkan dapat memberikan nilai ekonomi yang tinggi. Di dalam kawasan hutan juga terdapat bentang alam unik dan spesifik dapat berupa habitat jenis biota endemik yang hanya ditemukan pada wilayah tertentu dan tidak dijumpai di wilayah lain. Ditambah dengan gugusan pulau-pulau kecil di Piainemo- Raja Ampat yang merupakan contoh jasa lingkungan hutan berbentuk panorama keindahan dan keunikan alam yang mengagumkan.Ekstrak buah merah telah terbukti aman dikonsumsi. Selain itu minyak buah merah juga teruji di Laboratorium menguntungkan kesehatan secara invivo yaitu menghambat tumor dan membunuh sel kanker paru-paru, usus besar, anti-inflamasi dan meningkatkan sel imun, berpengaruh positif terhadap histopatologik berbagai organ tikus (Rattus norvegicus) diabetic, dan meningkatkan fertilitas, sehingga sangat berpotensi untuk dikembangkan menjadi pangan fungsional. Kualitas minyak buah merah tidak hanya dipengaruhi oleh tingkat kematangan buah, tetapi juga tahapan dalam proses ekstraksi minyak, dan penanganan pasca pengolahan yaitu pengemasan dan penyimpanan (sanitasi, suhu dan kelembaban ruang penyimpanan, serta lama waktu penyimpanan). Tantangan bagi semua pihak dalam memberikan informasi yang tepat baik pada produsen maupun konsumen mengenai teknologi pengolahan minyak buah merah yang tepat sehingga dihasilkan kualitas terbaik. Menutup bulan Maret, Ir. Max J. Tokede, MS dari fakultas Kehutanan berbicara tentang Manfaat Jasa Lingkungan Hutan di edisi Kamis, 30 Maret 2017. Manfaat jasa lingkungan hutan sering luput dari perhatian kita untuk diusahakan menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi bagi kesejahteraan umat manusia. Karena produk jasa lingkungan hutan ini tidak berwujud (tidak berbentuk benda).

 

Dengan informasi tentang semua manfaat yang diberikan oleh lingkungan hutan, diharapkan terdapat perubahan dalam pemanfaatan dan pengelolaan hutan ke arah yang lebih baik. Demikian lima topik yang didiskusikan pada bulan Maret. Program ini disiarkan setiap hari kamis pada pukul 08:00 – 09:00 disaluran 94.30 MHz, diskusi interaktif dilakukan dengan menghubungi 0986211343.

Cerita Siaran di Bulan April 2017

Manokwari Menyapa khusus dengan mengangkat tema tentang Keanekaragaman hayati dan konservasi untuk tanah Papua disiarkan setiap hari kamis pada setiap minggu. Manokwari Menyapa merupakan bentuk upaya penyebaran informasi terkait Papua Barat sebagai provinsi konservasi, yang terselenggara atas kerjasama RRI Manokwari dan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Papua (LPPM UNIPA) serta dengan dukungan dari Sekretariat Bersama Bentang Laut Kepala Burung. Program ini berbentuk diskusi interaktif dengan menghadirkan narasumber yang berasal dari UNIPA. Sejak awal tahun 2017 hingga akhir Maret, program ini telah menghadirkan sepuluh pembicara dalam sepuluh edisi dengan berbagai topik menarik diseputar keanekaragaman hayati, konservasi, juga pembangunan berkelanjutan. Pada buIan April ini, terdapat tujuh pembicara yang berbagi dalam empat edisi Manokwari Menyapa. Edisi Kamis, 6 April 2017, Ir. Agustin Arobaya, M.App dan Ir. Endra Gunawan, MP berbagi tentang hasil hutan bukan kayu, diskusi dengan judul Meneropong Potensi Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) dari Kelompok Tumbuhan Anggrek di Papua Barat. Kedua pembicara yang berasal dari fakultas Kehutanan ini berbicara dan mengulas potensi-potensi dari hutan yang dapat dikembangkan, dan mencoba mengajak para pendengar berpikir bahwa hasil dari hutan tidak semata-mata hanya pada kayu.

 

Hasil hutan bukan kayu (HHBK) merupakan sumber daya alam yang sangat melimpah di Indonesia dan memiliki prospek yang sangat baik untuk dikembangkan. HHBK adalah hasil hutan hayati baik nabati maupun hewani beserta produk turunan dan budidaya kecuali kayu yang berasal dari hutan. Pengertian lainnya dari hasil hutan bukan kayu yaitu segala sesuatu yang bersifat material (bukan kayu) yang diambil dari hutan untuk dimanfaatkan bagi kegiatan ekonomi dan peningkatkan kesejahteraan masyarakat. HHBK pada umumnya merupakan hasil sampingan dari sebuah pohon, misalnya getah, daun, kulit, buah atau berupa tumbuhan-tumbuhan yang memiliki sifat khusus seperti rotan, bambu, pandan, sagu, anggrek dan sebagainya. Pentingnya peranan HHBK dalam menunjang pembangunan di Papua Barat, sekaligus menjaga kelestarian sumberdaya hayati, maka: (1) Program Pemberdayaan masyarakat dalam pemanfaatan HHBK perlu dilakukan melalui joint ventura bukan hanya dengan instansi pemerintah dan industri pemilik modal tetapi juga dengan masyarakat adat pengempuh sumberdaya tersebut, (2) Model kerjsama antar lembaga seperti yang sudah terjalin antara UNIPA dengan lnstansi pemerintah dalam hal ini Dinas Pertanian, Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Manokwari ini bisa menjadi suatu model yang cukup baik dan bisa diterapkan di wilayah Papua Barat dengan potensi HHBK lainnya, (3) Model kerjasama antar lembaga seperti yang sudah terjalin antara UNIPA dengan lnstansi pemerintah dalam hal ini Dinas Pertanian, Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Manokwari ini bisa menjadi suatu model yang cukup baik dan bisa diterapkan di wilayah Papua Barat dengan potensi HHBK lainnya, (4) Sudah saatnya dibangun suatu pangkalan data sumber-sumber genetika, sehingga kita bisa memastikan seberapa banyak dan besar sumber-sumber plasma nutfah yang berpotensi ekonomi di wilayah Papua Barat.

 

Edisi Kamis, 13 April 2017, Manokwari Menyapa berbagi tentang kampung binaan yang dilakukan oleh UNIPA di Distrik Abun, Kabupaten Tambrauw. Judul diskusi Desa Membangun untuk Konservasi: Belajar dari Distrik Abun Kabupaten Tambrauw, Provinsi Papua Barat yang disampaikan oleh tiga pembicara dari Divisi Pembangunan Berkelanjutan LPPM UNIPA ini, memberikan informasi kepada para pendengar tentang pentingnya masyarakat dalam upaya konservasi yang dilakukan dalam suatu kawasan konservasi itu sendiri. Fitryanti Pakiding, Ph.D, Deasy Lontoh, M.Sc, dan Sinus Keroman, S.TP bekerja dalam pengembangan desa binaan yang telah dimulai sejak tahun 2010 dan berlanjut hingga kini.

Distrik Abun memiliki dua pantai yang merupakan pantai dengan aktivitas peneluran penyu belimbing terbesar yang masih tersisa di pasifik. Pantai ini merupakan bagian dari kawasan konservasi penyu belimbing. Upaya konservasi telah dilakukan sejak tahun 80-an. Kampung binaan ini diawali oleh tantangan bahwa seringkali program konservasi hanya mementingkan alamnya tanpa memperhatikan masyarakatnya. Dengan tantangan ini kemudian LPPM UNIPA mengembangkan program kampung binaan yang mendukung upaya konservasi penyu belimbing. Terdapat alumni UNIPA yang ditempatkan untuk tinggal dengan masyarakat di kampung dan menjadi tenaga pendamping masyarakat. Para pendamping ini kemudian bekerja dalam berbagai bidang untuk membangun kapasitas masyarakat juga untuk proses transfer pengetahuan, seperti bidang pendidikan, pertanian, dan pengolahan. Dalam proses ini, tidak sedikit kendala yang dihadapi. Namun dengan membangun kerjasama dengan berbagai pihak, kendala-kendala ini dapat diatasi sehingga kegiatan ini diharapkan semakin memberi dampak terhadap masyarakat di daerah ini dan tentunya dalam upaya konservasi penyu belimbing itu sendiri. Akhirnya, berpartisipasi untuk menjadikan masyarakat papua yang sejahtera merupakan harapan semua orang yang bekerja di tanah ini, tidak terkecuali bagi ketiga pembicara yang hadir dalam diskusi edisi ini.

 

Selanjutnya, pada edisi 20 April 2017, Manokwari Menyapa menghadirkan Dr. Ir. Soetjipto Moeljono dari fakultas kehutanan dalam diskusi dengan judul Peranan Herbarium dalam Menunjang Koleksi Sumberdaya Alam. Secara sederhana yang dimaksud herbarium adalah koleksi spesimen yang telah dikeringkan, biasanya disusun berdasarkan sistim klasifikasi (Anonim). lstilah herbarium lebih dikenal untuk pengawetan tumbuhan. Herbarium adalah material tumbuhan yang telah diawetkan (disebut juga spesimen herbarium). Herbarium juga bisa berarti tempat dimana material-material tumbuhan yang telah diawetkan disimpan. Fungsi herbarium ini sangat besar, dimana herbarium merupakan suatu bukti autentik perjalanan dunia tumbuh-tumbuhan selain berfungsi sebagai acuan identifikasi untuk mengenal suatu jenis pohon. Dalam herbarium-herbarium tertentu, spesimen herbarium yang disimpan dimasukkan dalam map/sampul dengan warna yang berbeda-beda, yang masing-masing menunjukkan wilayah geografis asal spesimen-spesimen tersebut. Dengan demikian berarti untuk masing-masing spesimen yang tersimpan dalam herbarium mengandung informasi mengenai distribusi geografisnya (Tjitrosoepomo, 1993). Koleksi spesimen herbarium biasanya disimpan pada suatu tempat yang diberi perlakuan khusus pula yang dikenal dengan laboratorium herbarium. Para ahli-ahli botani menyimpan koleksi herbarium mereka pada pusat-pusat herbarium di masing-masing Negara. Di Papua, pusat herbarium terbesar terdapat di Herbarium Manokwariense (MAN)+ 35.000 Universitas Papua telah banyak mengeluarkan sarjana, master maupun doktor bahkan profesor dan juga digunakan oleh para peneliti dari luar negeri. ltu sebabnya mari kita jaga dan kembangkan Herbarium Manokwariense untuk anak cucu kita.

 

Pada akhir bulan April, edisi 27 April 2017, Manokwari Menyapa berdiskusi tentang Mekanisasi Pertanian di Tanah Papua oleh Dr. Ir. Darma M.Si yang berasal dari fakultas teknologi hasil pertanian. Mekanisasi pertanian (Agricultural Mechanics/agricultural engineering) adalah lntroduksi dan penggunaan alat mekanis (mesin) untuk melaksanakan operasi pertanian. Penerapan atau penggunaan alat mekanis dapat dijumpai pada seluruh rangkaian proses produksi pertanian mulai dari aktivitas yang berlangsung di lapangan (field activities/on farm), penanganan pasca panen (of farm). Mekanisasi pertanian dalam arti luas bertujuan untuk meningkatkan produktivitas tenaga kerta, meningkatkan produktivitas lahan, dan untuk menurunkan biaya produksi. Penggunaan alat dan mesin pada proses produksi dimaksudkan untuk meningkatkan efisiensi, efektivitas, produktivitas, kualitas hasil dan mengurangi beban kerja petani. Lembaga Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat (LPPM) UNIPA merupakan salah satu unit kerja di lingkungan UNIPA yang berperan sebagai unsur pelaksana akademik di bidang penelitian dan pengabdian pada masyarakat. Secara operasional, LPPM UNIPA mempunyai tugas pokok dalam melaksanakan, memantau, mengkordinasikan dan menilai kegiatan penelitian dan pengabdian pada masyarakat yang dilakukan oleh staf pengajar dan pusat-pusat penelitian yang dibawahi. Berdasarkan fungsi dan peran tersebut LPPM Unipa menyelenggarakan penelitian ilmiah murni, ilmu pengetahuan, teknologi dan/atau seni tertentu untuk menunjang pembangunan, pendidikan dan pengembangan institusi, mengembangkan konsepsi pembangunan nasional, wilayah dan daerah. Pengembangan penelitian didasarkan pada visi UNIPA yang di dalamnya terkandung empat aspek utama yaitu pertanian dalam arti luas, konservasi, kearifan lokal dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Hal ini sangat strategis karena Papua memiliki kekayaan sumberdaya alam hayati maupun non-hayati yang melimpah Kekayaan ini akan berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat jika dikembangkan dan dimanfaatkan dengan pendekatan berbasis lpteks.

 

LPPM Unipa sebagai salah satu lembaga dalam menciptakan inovasi teknologi telah memiliki pengalaman panjang dalam melaksanakan program-program kegiatan penelitian dan pengabdian pada masyarakat baik yang sifatnya rutin seperti KKN dan berbagai skim dari DP2M DIKTI maupun yang sifatnya insidental berdasarkan permintaan dari berbagai sumber baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri. Melalui kegiatan-kegiatan penelitian tersebut, berbagai inovasi dari berbagai bidang telah dihasilkan. Salah satu diantara inovasi tersebut adalah alat/mesin pengolahan pati sagu yang telah terbukti sesuai diterapkan di daerah Papua. PeraIatan tersebut telah dintroduksi ke masyarakat petani sagu di beberapa daerah dan telah mengalami pengembangan dan perbaikan berdasarkan masukan atau umpan balik dari masyarakat pengguna sehingga teknologi ini dijamin sesuai dengan pengguna karena dikembangkan sesuai kebutuhan lokal (TKT 8-9). Hasil analisis financial menunjukkan bahwa penerapan alat ini menguntungkan secara ekonomi (layak tekno-ekonomi). Peralatan ini telah disetujui untuk pendaftaran patennya dengan nomor pendaftaran: 500201000238, telah dilakukan pemeriksaan substantive oleh lembaga yang berwenang dan saat ini dalam proses perbaikan dokumen paten. Di samping alat-alat tersebut, UNIPA juga memproduksi mesin parut kelapa, parut singkong, pengupas kacang tanah, pengering pati sagu, perontok pokem, pemeras santan dll.

Cerita Siaran  di Bulan  Mei  2017

Divisi   Pembangunan   Berkelanjutan   pada   Lembaga Penelitian  dan  Pengabdian  kepada  Masyarakat (LPPM) Universitas Papua  (UNIPA),  bekerjasama  dengan  Radio Republik   Indonesia    (RRI)    Manokwari   serta    dengan dukungan   Sekretariat  Bersama   Bentang  Laut  Kepala Burung (BLKB)  kembali  menyelenggarakan  program  Manokwari  Menyapa  di bulan Mei 2017.  Narasumber yang dihadirkan  pada  bulan  ini  adalah  Dr.  Abdul  Hamid  A. Taha, S.Pi.,  M.Si dengan  materi  Keragaman  Genetik  Di Wilayah  Bentang  Laut  Kepala  Burung  (Bird’s  Head  Seascape}  pada tanggal  5 Mei 2017 dan Prof. Dr. Ir. Andaya Supriyantono,  M.Sc  dengan   materi  Pemuliaan  Ternak Lokal pada tanggal  11 Mei  2017. Edisi  kamis, 5 Mei 2017 perbincangan yang diisi oleh Dr.  Abdul  Hamid A. Taha, S.Pi.,  M.Si dengan  materi Keragaman Genetik Di Wilayah  Bentang Laut Kepala Bu rung (Bird’s Head Seascape) memberikan informasi mengenai potensi  Keanekaragaman  Genetik  Biota-biota  laut yang berada di  Provinsi  Papua  Barat.  Diskusi  ini  mengulas  beberapa  hal  yang perlu  diketahui  masyarakat mengenai potensi dan manfaat Keanekaragaman Genetik Biota-biota  laut dimasa depan. Dr.   Hamid   menyampaikan   bahwa   eksplorasi   dari keanekaragaman  hayati  dapat  dibuat  menjadi  sumber daya genetik dan biokimia  yang mempunyai  nilai  secara komersial  seperti;  obat-obatan,  kosmetika,  energi  baru dan  pangan  baru  yang  berguna  untuk  masa depan,  ini yang  dikenal   dengan   Bioprospeksi  tuturnya.   Namun kekayaan ini belum sepenuhnya dimanfaatkan oleh masyarakat di  Papua  Barat. Dr.  Hamid  mengatakan  bahwa  spesies-spesies  baru biota  laut  di  Provinsi  Papua  Barat  banyak  ditemukan, namun temuan tersebut telah  dikenal  masyarakat  terlebih  dahulu  dengan  nama  lokalnya  dan ini menjadikan suatu  keadaan yang  ironi.  Menurutnya, genetik sangat berguna  untuk  mengidentifikasi   spesies-spesies   biota laut  yang   baru  secara  ilmiah  dengan   bantuan  masyarakat   lokal,   misalkan   biota   yang   berada   dipesisir pantai yang sering kita Iihat dan dikenal dengan nama lokalnya  belum  tentu  telah  dipublikasikan  secara  ilmiah. Selain  itu  manfaat dari genetik untuk  mengidentifikasi spesies-spesies biota laut, dapat  memberikan informasi kepada   masyarat  berupa   rekomendasi   perlindungan untuk tidak  berlebihan  mengkonsumsi dan menangkap  biota  laut tersebut.

Program RRI-Manokwari Menyapa Cerita Siaran di Bulan Mei 2017_1

Foto : Tim Abun Humas

Manfaat   genetik    lainnya   yang    dijelaskan    Dr. Hamid  pada  perbincangan  ini  adalah  genetik  dapat membedakan spesifiknya antara kedua spesies biota laut yang sama di  lingkungan yang berbeda sehingga tindakan  konservasi yang  akan  dilakukan pada  suatu spesies tertentu dapat dilakukan  dengan tepat. Selain dari  potensi  Keanekaragaman Genetik Biota-biota  laut,  Dr.  Hamid  memberikan  informasi penting  lainnya  kepada   masyarakat  mengenai   potensi keterancaman  Genetik  Biota-biota   laut  di  Wilayah Bentang  Laut  Kepala  Burung.  Salah  satu contoh keterancamannya  adalah  semakin   banyaknya  jumlah manusia yang   hidup  maka  sampah  yang   akan   dihasilkan   semakin   banyak   dan   jika  tidak  dikelola dengan  baik  akan  menjadi ancaman yang  serius di darat serta  akan berdampak ke laut karena ini merupakan  suatu  ekosistem yang  saling  berhubungan. Keterancaman  lainnya adalah  pemanfaatan sumberdaya  laut  yang  bersifat  destruktif  dengan  menggunakan born  dan  potasium akan  berakibat pada  kerusakannya    genetik    biota-biota    laut.    Dampaknya adalah terganggunya  siklus  hidup  biota  laut.

Edisi kamis, 11 Mei 2017 diisi dengan  pembicara dari Dosen  Fakultas Peternakan Universitas Papua  Prof.  Dr.  Ir. Andaya  Supriyantono,  M.Sc dengan bidang keahlian Genetika  dan Pemuliaan Ternak.  Materi yang dibawa  pada edisi kali  ini  adalah  Pemuliaan  Ternak Lokal. Perbincangan diawali dengan  pemahaman mengenai ternak lokal dan ternak asli.  Prof. Andaya  menjelaskan ternak lokal adalah ternak yang sudah  beradaptasi selama  lima generasi  dimana ternak-ternak tersebut hidup, sedangkan ternak asli  merupakan  ternak yang  berasal  di  daerah khusus  dimana  ternak tersebut  berkembang.  Di  Papua sudah banyak ternak lokal yang telah  berdaptasi.  Pemahaman   tentang   ternak  lokal   tidak   dapat   dipisahkan dengan  hasil  domestikasi  yang terjadi dari  sekian  juta tahun  lalu.  Sejak kehidupan manusia  telah  diidentifikasi lebih  dari  1,7  juta  spesies  tanaman   dan  ternak.  14 spesies   diantaranya  memberikan  kontribusi  langsung bagi  kehidupan  manusia . Melalui perkawinan dan seleksi serta pengaruh lingkungan,   sejumlah   spesies  tersebut   menjadi   lebih 6.000 bangsa ternak. Spesies adalah suatu kelompok ternak yang dapat melakukan perkawinan dengan menghasilkan keturunan yang fertile. Bangsa adalah kelompok ternak yang mempunyai karakteristik tertentu yang berbeda dengan kelompok ternak lain dalam 1 spesies sama. Bangsa asli merupakan kekayaan hayati daerah tertentu yang dikenal sebagai plasma nutfah. Untuk dpt eksis, ternak asli harus dijaga keberadaannya oleh pihak yang berkompeten dan bahkan senantiasa diupayakan peningkatan mutu genetik dan  produktivitasnya. Lebih  lanjut  Prof.  Andoyo  menjelaskan ternak hasil domestikasi yang saat ini berada di Papua Ba rat dan juga merupakan salah satu keanekaragaman hayati milik kita yaitu: Sapi Bali, Ayam Buras dan Babi. Selain itu, pembicara juga menjelaskan mengenai Diversitas Genetik merupakan gambaran dari jumlah  total karakteristik genetik dari suatu populasi. Contohnya Sapi Bali memiliki  karakteristik genetik yang bermacam-macam misalkan kita melihat dari sifat kualitatifnya seperti: warna dan keberadaan tanduk, atau dilihat dari sifat kuantitafnya kita dapat melihat dari ukuran Sapi Bali seperti: panjang dan bobot badannya. Sela in itu, Diversitas Genetik dapat dilihat berdasarkan variabilitas genetiknya, yaitu suatu sifat menggambarkan seberapa  banyak sifat tersebut cenderung untuk beragam sebagai akibat dari respon terhadap lingkungan  dan pengaruh genetik. Perbincangan semakin  menarik ketika  Prof. Andoyo menjelaskan peranan dari Pemuliaan Ternak Lokal. Pemuliaan Ternak Lokal merupakan bagian dari bidang ilmu  Peternakan  yang berhubungan  dengan  produktivitas ternak

Jpeg

Foto : Tim Abun Humas

Produktivitas ternak biasanya digambarkan dengan segitiga peternakan yaitu: pembibitan, pakan dan manajemen. Pemuliaan Ternak merupakan bagian dari pembibitan untuk melakukan seleksi dan perkawinan ternak dalam satu populasi. Apabila suatu papulasi cenderung seragam maka Pemuliaan Ternak berperan untuk melakukan introduksi individu baru ke papulasi tersebut untuk melakukan perkawinan sehingga dapat meningkatkan mutu genetik ternak. Selain itu, pembicara juga mengulas tentang hubungan praduktivitas/fenatip merupakan gabungan antara genetik dan lingkungan yang akan berpengaruh terhadap mutu ternak. Apabila lingkungan tidak mendukung maka perkembangan suatu ternak tidak dapat mengekspresikan dengan maksimum fenatipnya. Perbincangan ini juga membahas tentang faktar-faktar yang menyebabkan menurunnya papulasi ternak di Manakwari. Prof. Andaya menjelaskan faktor-faktor yang menyebabkan menurunnya papulasi ternak yang juga akan berdampak pada menurunnya Diversitas Genetik adalah kurangnya apresiasi kita terhadap keberadaannya ternak lakal, perubahan teknalagi dan pola pertanian misalnya pada mekanisasi pertanian yang biasanya menggunakan tenaga ternak diganti oleh mesin dan kejadian yang tak terduga seperti bencana alam.

Cerita Siaran di Bulan Juli 2017

Pada bulan Juli tahun 2017, Divisi Pembangunan Berkelanjutan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UNIPA kembali menghadirkan pembicara dari Fakultas Teknologi Pertanian (Fateta) UNIPA untuk berdialog interaktif pada program RRI “Manokwari Menyapa” edisi konservasi ke-XVI. Dialog interaktif tersebut berlangsung selama 1 jam yang dimulai dari jam 08.00 – 09 .00 WIB pada tanggal 27 Juli 2017 tepatnya. Program tersebut merupakan kerjasama antara Divisi Pembangunan berkelanjutan LPPM UNIPA dan RRI Manokwari. Selain itu dengan adanya dukungan dari Sekretariat Bersama Bentang Laut Kepala Bu rung ( BLKB) sehingga program ini menjadi semakin berjalan la ncar. Edisi kali ini berjudul tentang “Potensi Pemanfaatan Pokem sebagai Bahan Baku Pangan Baru”. Pembicara pada edisi ini adalah Isak Silamba, S.TP., M.Si juga merupakan Dosen dari Fateta UNIPA. Dialog kali ini mengulas tentang Pokem ( Setaria italica L. Beauv) merupakan tanaman serealia penghasil karbohidrat yang telah lama dibudidayakan oleh masyarakat di Kabupaten Biak Numfor Papua. Pak Isak (Sapaan dari Penyiar RRI Manokwari Menyapa) menjelaskan masyarakat Papua sering menyebut tanaman pokem sebagai gandum Papua. Lebih lanjut pak Isak mengatakan pokem juga tumbuh di daerah luar Papua namun dikenal dengan nama yang berbeda, di Maluku masyarakat mengenal pokem dengan nama hotong dan di Jawa diikenal dengan nama juwawut. Menurut pak Isak berdasarkan beberapa literature yang diketahuinya dan informasi dari masyarakat setempat di Pulau Numfor, terdapat lima jenis pokem yang dibudidayakan dan diberi nama dengan Bahasa daerah setempat. Perbedaan dari kelima jenis pokem ini dapat dilihat dari warna pada bijinya. Nama-nama pokem tersebut adalah Pokem coklat ( resyek), pokem merah (verik), pokem putih ( vepyoper), pokem hitam ( vepaisem) dan pokem kuning ( venanyar). Dialog semakin menarik lagi setelah pak Isak menjelaskan pemanfaatan pokem oleh masyarakat yang bermukim di daerah Papua. Beberapa pemanfaatnya yaitu sebagai makanan kesehatan, khususnya untuk ibu hamil dan makanan tambahan bagi anak balita.

 

Di Numfor pokem telah dibuat produk seperti bubur pokem dan waji. Kandungan nutrisi pada biji pokem tergolong tinggi, kandungan protein biji pokem lebih tinggi dibandingkan dengan tanaman serealia lain seperti beras, gandum dan jagung. Dialog ini lebih dalam lagi mengulas tentang kandungan gizi makro dan mikro biji pokem yang cukup tinggi dibandingkan tanaman serealia lainnya. Berdasarkan hasil rise! yang telah dilakukan dan dari beberapa referensi penelitian yang pak isak ketahui energi yang dihasilkan dari 100 gram biji pokem yaitu 359 kkal. Selain kandungan nutrisi yang tinggi, pak Isak menjelaskan dari aspek budidaya pokem juga memiliki kemampuan beradaptasi terhadap kondisi lingkungan yang kurang mendukung, seperti kemampuan beradaptasi yang baik terhadap lingkungan yang kering, serta tidak memerlukan perawatan khusus seperti tanaman serealia lainnya. Diakhir dialog interaktif pak Isak mengatakan bahwa dari tiga genotipe pokem yang paling banyak dibudidayakan oleh masyarakat setempat tidak terdapat perbedaan nyata sifat fisiko-kimia ketiga genotipe pokem tersebut. Penjelasan pak Isak ini telah dibuktikan dari penelitian yang telah dilakukannya bersama beberapa Dosen FATETA UNIPA yaitu dari hasil penelitian Isak Silamba dkk., (2016). Menurut pak Isak hal ini sangat berpotensi sebagai alternative pangan dimasa mendatang dan dapat berkelanjutan. Namun tutur pak Isak, perlu dilakukan inovasi diversifikasi produk pangan baru menggunakan pokem sebagai bahan baku utama sehingga meningkatkan meningkatkan nilai tambah dan daya saing serta tingkat penerimaan pokem.

Cerita Siaran di Bulan Agustus 2019

Program Manokwari Menyapa di buIan Agustus 2017 kembali mengudara dengan menyajikan dua edisi. Manokwari Menyapa edisi ke-XVII dibawakan oleh Jimmy F. Wanma, S.hut., M.App.Sc dengan mengangkat judul yang sangat menarik yaitu “Peranan Hutan Gunung Meja sebagai Hutan Kota Manokwari”, Selain itu di edisi ke-XVIII pada tanggal 10 Agustus 2017 Manokwari Menyapa menyajikan sebuah judul “Konservasi Keanekaragman Jenis Burung Endemik Papua” dengan pembicara Ir. Agust Kilmaskossu, M.Si yang membuat pendengar setianya bernolstagia dan mengingat kembali suara burung yang indah di masa lalu di Kota Manokwari. Edisi ke-XVII pada tanggal 3 Agustus 2017 dengan pembicara Jimmy F. Wanma, S.hut., M.App.Sc berlangsung sangat menarik karena judul yang dibawakan dalam dialog interaktif RRI Manokwari kali ini berhubungan dengan hutan Gunung Meja yang dikenal masyarakat kota Manokwari merupakan Taman Wisata Alam. Pak Jimmy (Sapaan dari Penyiar RRI Manokwari Menyapa) merupakan Dosen dari Fakultas Kehutanan UNIPA yang telah melakukan beberapa penelitian yang berhubungan dengan hutan Gunung Meja sehingga edisi ini sangat memikat pendengar setia Manokwari Menyapa karena dialog yang dibawakan pemateri memberikan banyak informasi penting yang belum diketahui mengenai hutan Gunung Meja. Pak Jimmy memulai dialog dengan menjelaskan kawasan Gunung Meja. Gunung meja merupakan suatu kawasan hutan hujan tropis dataran rendah yang menyusun formasi hutan pantai Utara Papua dan merupakan salah satu kawasan konservasi pada daerah Vogel kop (kepala Burung) Papua. Lebih lanjut pak Jimmy menjelaskan Gunung Meja sebagai Hutan Kota yang memiliki peranan penting dalam menjaga stabilitas. lingkungan di Kota Manokwari, sehingga kota Manokwari akan tetap tetap menjadi kota yang nyaman untuk dihuni oleh seluruh warga masyarakat Manokwari. Berdasarkan Departemen Kehutanan RI, ada 24 Fungsi hutan kota yang sangat berguna bagi warga masyarakat yang hidup di daerah perkotaan. Dari sekian banyak fungsi tersebut ada sekitar 5 fungsi yang diperankan oleh Hutan Gunung Meja bagi kota Manokwari. Pak Jimmy mengulas ke-5 fungsi tersebut secara singkat padat dan jelas kepada pendengar Manokwari Menyapa. Fungsi ke-1 sebagai pelestarian Plasma Nutfah yang berperan sebagai perlindungan terhadap hutan Gunung Meja secara tidak langsung akan melindungi Tumbuhan dan Stawa yang berada pada hutan tersebut, fungsi ke-2 sebagai penyerap karbon-dioksida/mono oksida dan penghasil oksigen, fungsi ke-3 sebagai Pelestarian Air Tanah, fungsi ke-4 sebagai Habitat Satwa dan fungsi ke-5 dapat mengurangi stress dengan cara menikmati keindahan alam dan berekreasi. Perlu diketahui merupakan hak setiap warga kota Manokwari untuk menerima manfaat yang disediakan oleh hutan gunung meja seperti ketersediaan air bersih dan udara yang segar. Agar supaya manfaat itu dapat terus dinikmati oleh kita maupun generasi sesudah kita yang hidup di kota Manokwari maka sebagai warga kota Manokwari kita wajib untuk ikut menjaga dan bertanggung jawab terhadap terhadap kelestarian hutan Gunung meja. Diakhir dialog pak Jimmy mengatakan “Semoga dengan usaha bersama warga kota Manokwari dan semua stakeholder yang berperan dalam pengelolaan hutan Gunung Meja maka diharapkan peranan Gunung Meja sebagai Hutan Kota akan terus dirasakan oleh generasi-generasi yang akan datang”.

 

Edisi ke-XVIII pada tanggal 3 Agustus 2017 diisi oleh pembicara dari Dosen Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan llmu Pengetahuan Alam UNPA yaitu Ir. Agust Kilmaskossu, M.Si. Materi yang dibawakan kali ini juga menarik pendengar setia Manokwari Menyapa. Mengingat tahun-tahun sebelumnya ketika kota Manokwari yang dihibur dengan nyanyian kicauan burung dipagi hari, namun sungguh ironi dengan adanya pembangunan yang cukup meningkatkan sehingga pembukaan lahan di beberapa titik yang menjadi tempat pesinggahan burung-burung menyebabkan rumah hewan tersebut rusak, jelas pak Agust pada dialog interaktif kali ini. Lebih dalam lagi, pak Agust mengulas mengenai burung endemic Papua. Dalam Buku Ekologi Papua ( 2012) jumlah jenis burung di kawasan Nugini ( Pulau New Guinea) dinyatakan ada sebanyak 831 jenis, dimana 657 diantaranya terdapat di Papua ( NKRI). Dengan kata lain hampir separuh atau sekitar 41% dari jumlah burung di Indonesia tinggal di Papua, suatu jumlah yang cukup signifikan. Papua tidak hanya memiliki kekayaan jenis ( species richness) yang tinggi, tetapi juga memiliki tingkat endemisitas jenis yang tinggi pula. Endemisitas burung Papua merupakan yang tertinggi dibandingkan dengan pulau-pulau lain di Indonesia. Dari sekitar 426 spesies bu rung endemik Indonesia, lebih dari 50 jenis tersebar terbatas (endemik) di pulau Papua. Pak Agust juga menjelaskan apa itu burung endemik. Berdasarkan referensi yang ada, burung endemik adalah burung dengan sebaran terbatas yang secara alami hanya mendiami wilayah tertentu. Burung endemik tidak ditemukan di daerah lain. Burung endemik Indonesia adalah burung yang daerah sebarannya terbatas hanya di Indonesia dan tidak ditemukan di negara lain. Burung endemik Papua, berarti jenis burung tersebut hanya hidup di Papua saja. Demikian pula burung endemik Pegunungan Arfak hanya tercatat keberadaannya di Pegunungan Arfak atau burung endemik Pulau Biak artinya jenis burung tersebut hanya bisa ditemukan di pulau Biak. Diakhir dialog pak Agust menjelaskan mengenai upaya penanggulangan terhadap ancaman-ancaman burung endemik di Papua. “Upaya penanggulangannya adalah mereduksi atau mengurangi Pemanfaatan burung secara tradisional dan subsisten, Pembalakan hutan untuk industry, Konservasi lahan untuk pertanian, Perdagangan burung dan lntroduksi atau mencegah jenis spesies dari burung asing masuk.

 

Edisi Senin, 21 Agustus 2017, mengundang Jonni Marwa, S.Hut, M.Sc yang merupakan staf dosen di Fakultas Kehutanan menjadi narasumber dalam Program Manokwari Menyapa yang diselenggarakan oleh Radio Republik Indonesia ( RRI) dengan topik Hutan Adat Akses Kelola Masyarakat di Papua yang “Terabaikan”. Perbincangan berlangsung dengan menarik dan interaktif. Pak Jonni berbagi banyak informasi tentang hutan adat di Papua yang telah dikonsesikan dengan berbagai bentuk pemanfaatan tanpa memberikan manfaat yang “adil dan aman” bagi masyarakat adat. Fakta ini menyebabkan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) mengajukan gugatan ke pemerintah sehingga lahirlah keputusan MK No. 35/PUU-X/2012. Sebelum dibacanya putusan tersebut, hutan adat termasuk dalam kategori hutan negara. Artinya segala pengurusan pengelolaan hutan, termasuk berada di tangan pemerintah, bukan masyarakat adat. Diskusi yang berlangsung sekitar 1 jam ini memberikan informasi berharga tentang adanya target 12,7 juta hektar kawasan hutan yang akan diberikan presiden sebagai akses kelola kepada masyarakat dimana sampai dengan bu Ian April 2017 baru mencapai 13,17% (Dirjen Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan, 2017). Dari jumlah tersebut akses kelola untuk hutan adat di Papua berkontribusi hanya 0,10% terhadap keselurahan akses, dan wilayah Papua belum ada satupun hutan adat yang ikut bersaing dalam kompetisi akses kelola ini. Padahal, jangka waktu kebijakan ini hanya sampai tahun 2019. Mengapa belum ada masyarakat adat di wilayah Papua yang mengajukan skema hutan adat untuk memperoleh akses kelola dari pemerintah? Mungkinkah ada perwakilan masyarakat adat Papua yang akan mendaftar akan berproses untuk mengikut skema hutan adat dalam jangka waktu dua tahun sisa?. Dalam perbincangan ini juga membahas apa manfaat penetapan hutan adat bagi masyarakat adat. Lebih jelas Pak Jonni menyampaikan bahwa manfaat yang utama ialah adanya pengakuan terhadap keberadaan masyarakat adat, dan pengakuan wilayah adat. Terkait hal ini, Jonni Marwa juga memberikan saran terhadap pembangunan hutan adat di Papua akan berhasil bila beberapa hal berikut ini diperhatikan, yang pertama adalah penyamaan visi pembangunan masyarakat adat diantara para pemangku kepentingan. Kemudian berikut adalah komitmen pemerintah daerah yang kuat sebagai “ujung tombak” dengan didukung para pihak. Selanjutnya yaitu, dengan membentuk SKPD dan/atau bidang dan seksi yang bertanggung jawab terhadap masyarakat adat dan hutan adat. Pengakuan tersebut secara langsung juga mengakomodir pengakuan hak-hak tradisional dan pengetahuan tradisional yang dimiliki masyarakat adat. Disamping itu, setiap orang atau kelompok marga yang memiliki hak kelola hutan hak berdasarkan Permen-LHK nomor P.32/Men-LHK/2015 mendapat kompensasi dan insentif.

 

Kemudian bagi kabupaten kota yang sementara menyusun revisi RTRWK dapat memperhitungkan untuk memasukan peta indikasi hutan adat. Terdapat tiga orang penelpon yang memberikan tanggapannya mengenai topik tersebut. Di akhir perbincangan, Pak Jonni memberikan pesan penutup yaitu pembangunan hutan adat di Papua sampai saat ini masih terabaikan dalam tugas-tugas pemerintahan daerah. Hal ini berkaitan dengan kompleksitas persoalan hutan adat dan ketersediaan regulasi. Namun demikian pemerintah daerah harus berusaha untuk memulai membangun sejumlah pilot projek di Papua dan Papua Barat.

 

Pada bulan Agustus terdapat 5 narasumber yang berbagi di Manokwari Menyapa (cerita 3 narasumber telah dimuat pada newsletter edisi sebelumnya). Program Manokwari Menyapa pada edisi Kamis, 24 Agustus 2017 mengundang Lukas Sonbait, dari Fakultas Peternakan untuk berbagi tentang informasi Keanekaragaman Satwa Endemik Sebagai Model Pengembangan Ekowisata Berbasis Kearifan Lokal Pendukung Ekonomi Masyarakat di Kawasan Cagar Alam Pegunungan Arfak. Perbincangan yang berlangsung selama ±60 menit ini membahas tentang potensi Cagar Alam Pegunungan Arfak sebagai salah satu kawasan konservasi di Kabupaten Pegunungan Arfak Provinsi Papua Barat untuk dijadikan sebagai daerah ekowisata karena memiliki potensi ekosistem hutan, perbukitan, dan pegunungan serta memiliki keanekaragaman flora dan fauna. Dengan melihat potensi yang ada, Lukas Sonbait mengatakan perlu adanya pengelolaan kawasan di daerah ini dan inventarisasi data tentang potensi-masalah dan peluang serta tantangan yang akan dihadapi di masa mendatang, selain itu kajian dasar kearifan lokal masyarakat yang mempunyai potensi terhadap peningkatan ekonomi masyarakat akan tercapai apabila adanya pemahaman dari masyarakat sekitar cagar alam dan pemetaan kawasan. Masih dalam bulan yang sama pada edisi Kamis, 30 Agustus 2017. Henny Lesnussa dari Fakultas Teknik berbagi tentang Renewable Energi. Ada beragam jenis energi terbarukan namun tidak semuanya bisa digunakan di daerah-daerah terpencil dan pedesaan. Tenaga surya, tenaga angin, tenaga air dan biomassa adalah teknologi yang paling sesuai untuk menyediakan energi di daerah-daerah terpencil dan pedesaan. Energi terbarukan lainnya termasuk panas bumi dan energi pasang surut adalah teknologi yang tidak bisa dilakukan di semua tempat. Indonesia memiliki sumber energi panas bumi yang melimpah yakni sekitar 40% dari sumber total dunia. Akan tetapi sumber-sumber ini berada di tempat-tempat yang spesifik dan tidak tersebar luas. Teknologi energi terbarukan lainnya adalah tenaga ombak, yang masih dalam tahap pengembangan. Sumber energi terbarukan atau renewable energy ini merupakan sumber energi yang ramah lingkungan, mampu meminimalisir dampak sosial, lebih murah dan merupakan sumber terbarukan sehingga dapat dimanfaatkan dalam jangka waktu yang lama

Cerita Siaran di Bulan September 2017

Edisi September 2017, Manokwari Menyapa juga menghadirkan 5 pembicara dengan beragam topik. Pada Kamis, 7 September 2017 Wilson Palelingan dari Fakultas Teknologi Pertanian berbagi tentang Potensi dan Permasalahan Bioenergi di Papua Barat. Diedisi berikutnya Kamis, 14 September 2017, Purwanto dan Awaludinnoer berbagi tentang Status Terkini Kondisi Ekosistem Terumbu Karang dan Tantangan Pengelolaannya di Bentang Laut Kepala Burung. Kedua pembicara merupakan tim monitoring untuk ekosistem laut di Bentang Laut Kepala Burung. Wilayah BLKB saat ini memiliki lebih dari 12 kawasan konservasi perairan dengan total luas lebih dari 3,5 juta hektar dan memberikan kontribusi lebih dari 25% luasan kawasan konservasi secara umum di Indonesia saat ini. Di satu sisi jumlah dan luasan kawasan konservasi laut penting untuk mendukung komitmen pemerintah Indonesia membentuk 20 juta hektar kawasan konservasi laut pada tahun 2020. Tetapi disisi lain peningkatan efektifitas pengelolaan kawasan konservasi juga menjadi hal yang sangat penting dilakukan. Karena efektivitas pengelolaan kawasan konservasi akan memberikan dampak terhadap kelestarian sumber daya hayati dan juga dampak positif bagi masyarakat di sekitarnya. Dari berbagai data saat ini sangat sedikit kawasan konservasi laut di Indonesia yang dikelola secara efektif. Namun sumber daya alam perairan yang sangat penting tersebut juga menghadapi banyak ancaman dan tantangan. Praktik-praktik perikanan yang merusak dan tangkap-lebih, pembangunan pesisir yang tidak ramah lingkungan, praktik wisata perairan yang tidak didukung tata cara pelaksa- naan yang baik adalah beberapa hal yang dapat mengancam kelestarian ekosistem terumbu karang. Pembicara pada tiga edisi berikut berasal dari Fakultas Pertanian. Edisi 15 September 2017, Dr. Dwiana berbagi tentang Pembudidayaan dan Pemanfaatan Pokem (gandum papua) sebagai Ba- han Pangan Alternatif di Papua. Beberapa permasalahan dalam pengembangan gandum papua adalah secara umum masih ditanam sebagai tanaman sampingan dalam bentuk pertanaman campuran, sehingga sentuhan teknologi budidaya masih sangat rendah, produktivitas masih rendah ditingkat petani berkisar 500-700 kwintal/hektar, kemudian sumber benih sulit di dapat karena belum menguasai teknik perbenihan, serta teknologi pemanfaatan yang belum banyak diketahui dan dikuasai masyarakat. Dalam upaya tindak lanjut direncanakan melakukan beberapa hal seperti perluasan areal penanaman pokem dengan memanfaatkan lahan pertanian yang ada melalui pola tanam dan bentuk pertanaman, membuat buku panduan budidaya pokem sesuai dengan kondisi di Tanah Papua, Melakukan penelitian lanjutan yang terkait dengan pengembangan teknologi budidaya dan pengolahan serta melakukan sinergitas antara penghasil teknologi dan pengguna (stakeholders) agar inovasi teknologi dapat dimanfaatkan masyarakat.

Cerita Manokwari Menyapa di Bulan Agustus - September 2017
Tim Abun Humas

Foto : Tim Abun Humas

Dr. Ludia Wambrauw berbagi pada edisi selanjutnya, Kamis, 20 September 2017 dengan topik Pengembangan Ekonomi Masyarakat Lokal yang Berkelanjutan. Di Papua Barat pengembangan ekonomi lokal ditunjang dengan adanya Otonomi Khusus (Otsus) bagi Provinsi Papua dan Papua Barat berdasarkan Undang-Undang No 21 Tahun 2001. Otsus ditujukan untuk mengurangi gap pembangunan antara Papua dan daerah lain di Indonesia, meningkatkan standar hidup masyarakat dan membuka lebih banyak peluang untuk masyarakat asli Papua untuk berpartisipasi dalam proses pembangunan. Lebih jauh lagi OTSUS, mensyaratkan pemberdayaan masyarakat dalam berbagai aspek pembangunan. Otsus di Papua mengutamakan pembangunan dalam empat aspek antara lain pendidikan, infrastruktur, kesehatan dan ekonomi. Pasal 42 dalam UU Otsus menyatakan bahwa “Pembangunan perekonomian berbasis kerakyatan dilaksanakan dengan memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada masyarakat adat dan/atau masyarakat setempat”.

 

Edisi terakhir di bulan September, 27 September menghadirkan Soleman Imbiri, yang berbagi tentang Pentingnya Penerapan Prinsip Pembangunan Berkelanjutan dalam Implementasi Program Pembangunan di Provinsi Papua Barat. Soleman Imbiri menyampaikan bahwa saat ini mutlak untuk menerapkan prinsip pembangunan berkelanjutan berwawasan lingkungan dalam pelaksanaan pembangunan di Provinsi Papua Barat. Hal ini terkait dengan permasalahan yang dihadapi dimana tidak adanya keseimbangan antara aspek ekonomi, aspek sosial-budaya dan aspek lingkungan hidup. Yang terjadi selama ini adalah implementasi program pembangunan lebih mementingkan aspek ekonomi dalam hal ini mengejar pertumbuhan ekonomi. Sedangkan perubahan-perubahan yang terjadi pada aspek sosial-budaya dan aspek lingkungan hidup (fisik dan biologis) relative kurang mendapat perhatian.

Cerita Siaran di Bulan Oktober 2017

Pada Program Manokwari Menyapa edisi Oktober 2017, menghadirkan empat pembicara. Dr. Nouke Mawikere dari Fakultas Pertanian berbagi tentang Perakitan Jagung Ketan Lokal Papua Barat melalui Hibridisasi untuk menunjang ketahanan pangan daerah pada edisi Kamis, 5 Oktober 2017. Salah satu kendala dalam pemanfaatan dan pengembangan jagung lokal adalah produktivitas dan kualitasnya masih sangat rendah dibandingkan dengan varietas-varietas jagung nasional. Kondisi ini disebabkan karena penggunaan benih jagung yang bermutu tinggi masih sangat terbatas. Benih bermutu tinggi yang tersedia biasanya tidak terjangkau oleh petani karena harganya cukup mahal. Usaha untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas jagung lokal antara lain dapat dilakukan melalui teknik persilangan (hibridisasi) dengan jenis jagung lain yang memiliki sifat unggul.

 

Pada edisi berikutnya, Kamis 12 Oktober 2017 Emmanuel Manangkalangi dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan berbagi tentang Ikan Pelangi Arfak Melanotaenia arfakenis Allen, 1990: Keterancaman dan Konservasinya. Ikan pelangi arfak, Melanotaenia arfakensis adalah salah satu sumber daya hayati yang endemik di perairan tawar Papua, khususnya pada beberapa sungai di Manokwari. Ikan ini merupakan komponen penting dalam jaring makanan di sistem sungai. Walaupun belum populer seperti ikan pelangi lainnya, Glossolepis incisus, Iriatherina werneri, dan Melanotaenia boesemani, namun jenis ini juga memiliki potensi sebagai ikan hias karena warna tubuhnya yang cemerlang dan ukuran yang relatif kecil, serta sebagai biokontrol terhadap larva nyamuk. Namun keberadaan jenis ikan pelangi arfak saat ini cukup banyak mengalami tekanan, dan statusnya sudah berada dalam kategori rentan (vulnerable) dengan kriteria A2ce (IUCN 2016) sehingga perlu dilakukan langkah- langkah konservasi.

 

Selanjutnya di edisi Kamis, 18 Oktober 2017 , Sarman Gultom dari Fakultas Teknologi Pertanian menyampaikan informasi tentang Pemanfaatan Limbah Pengolahan Hasil Pertanian dalam Meminimalkan Pencemaran Lingkungan. Penanganan limbah pengolahan hasil pertanian yang tepat akan sangat mendukung upaya konservasi lingkungan terlebih khusus di Papua Barat sebagai misi konservasi. Pencemaran lingkungan akibat pembuangan limbah pertanian akan terjadi jika dilakukan secara terus menerus dalam kapasitas besar. Salah satu upaya dalam mengurangi pencemaran lingkungan tersebut adalah dengan cara memanfaatkan limbah pengolahan hasil pertanian sebagai bahan dasar pembuatan produk baru yang dapat digunakan kembali ataupun produk yang memiliki nilai komersil.

Tim Abun Humas (oktober)

Foto : Tim Abun Humas

Pada akhir Oktober, Edisi Jumat, 27 Oktober 2017, Thomas Pattiasina dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan berbagi tentang Resiliensi Ekosistem Terumbu Karang di Kawasan Teluk Doreri Manokwari terhadap Dampak Aktivitas Manusia dan Perubahan Iklim. Hasil kajian resiliensi ekosistem terumbu karang telah mengindi-kasikan secara jelas kemampuan ekosistem terumbu karang di kawasan Teluk Doreri dalam menghadapi gangguan akibat aktivitas manusia dan perubahan iklim. Kajian ini masih berlanjut ke tahap berikut yaitu menentukan strategi-strategi pengelolaan yang tepat. Diharapkan hasil kajian ini bisa mendukung kebijakan pemerintah daerah dalam upaya melestarikan ekosistem terumbu karang sehingga manfaatnya bisa dinikmati hingga generasi-generasi mendatang.

PROGRAM RRI

-MANOKWARI MENYAPA-

Cerita Siaran di Bulan November 2017

Edisi Manokwari Menyapa pada bulan November menghadirkan 6 edisi diskusi Manokwari Menyapa. Pada bulan November ini juga bertepatan dengan penyelenggaraan kegiatan Pekan Penyu Manokwari, empat diskusi diantaranya tentang penyebaran informasi terkait penyelenggaraan Pekan serta panel diskusi tentang usaha konservasi penyu di Papua Barat. Awal November, Edisi 2 November 2017 mengundang Heru Joko Budirianto sebagai narasumber Manokwari Menyapa yang berasal dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Heru berbagi tentang Peran Penting Hutan Lin- dung Maruni sebagai daerah Hidrologi. Kawasan Hutan Lindung Manokwari (HLM) memiliki potensi yang sangat potensial dalam meresapkan air hujan, mengingat tingginya curah hujan/tahun di Manokwari. Keberadaan kawasan hutan menjadi faktor penting bagi peningkatan kelembaban udara guna menunjang terjadinya hujan. Potensi kawasan HLM memiliki nilai besar terhadap bahan baku semen. Meskipun potensi ini secara ekonomi sangat menguntungkan, namun perlu dipertimbangkan faktor keberlangsungan lingkungan yaitu siklus hidrologi yang memberikan potensi lebih besar bagi keberlangsungan kehidupan masyarakat Manokwari. Olehnya apapun alasannya, wilayah tersebut tidak seharusnya dialihfungsikan hanya karena alasan potensi ekonomi

Empat edisi berikut berturut – turut edisi 3 November, 6 November, 9 November, dan 16 November berdiskusi tentang pekan penyu manokwari, dari persiapan hingga penyelanggaran serta pasca kegiatan. Edisi Jumat, 3 November 2017, Tim Penyelengara Pekan Penyu Manokwari berbagi tentang persiapan dan tujuan serta pelaksanaan kegiatan yang akan dilaksanakan selama sepekan terhitung dari 31 Oktober hingga acara puncak pada 7 November 2017. Selanjutnya pada edisi 6 November 2017 menyorot upaya konservasi penyu di Papua Barat. Pada edisi ini moderator, Bung Herman Lengam, berdiskusi dengan panel penggiat konservasi penyu di Papua Barat yang terdiri dari: Bastian Wanma dari Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Papua Barat, Ottobaja Tarami dari organisasi Manduni Putra, Bapak Ferdiel Ballamu dari Yayasan Penyu Papua (YPP), Hadi Ferdinandus dari WWF Indonesia, William Iwanggin dan Deasy Lontoh dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Papua (LPPM UNI- PA). Bung Herman dan narasumber berdiskusi mengenai keragaman penyu di Papua, ancaman-ancaman yang dihadapi penyu baik antropogenik maupun alami, upaya-upaya perlindungan penyu yang dilakukan di Papua Barat, dan pentingnya peran serta masyarakat lokal, pemerintah, LSM, dan institusi pendidikan dalam menjaga agar penyu tetap lestari.

Cerita Manokwari Menyapa di Bulan November 2017

Foto : Tim Abun Humas

Pada Edisi Kamis, 9 November, diskusi berfokus pada follow-up dari rangkaian kegiatan pekan penyu manokwari. Edisi Kamis, 16 November Manokwari Menyapa mengundang para pemenang perlombaan untuk berdiskusi tentang ide dalam pengerjaan poster, postcard, video, dan stiker yang diperlombakan. Diakhir bulan November, Edisi 30 November Manokwari Menyapa menghadirkan Dr. Sangle John Randa yang berbagi mengenai Teknologi Pengolahan Daging Trenak Berbasis Sumberdaya Lokal untuk Meningkatkan Ketahanan Pangan dan Menggalakkan pembangunan Pariwisata.

Cerita Siaran di Bulan Desember 2017

Manokwari Menyapa merupakan program siaran radio yang rutin disiarkan setiap hari kamis, dengan tema umum Pembangunan Berkelanjutan. Program ini terselenggara atas kerjasama Radio Republik Indonesia Manokwari dan Divisi Pembangunan Berkelanjutan, LPPM-UNIPA serta dengan dukungan dari The Nature Conservancy Indonesia. Pada Desember 2017, program ini menghadirkan 3 pembicara. Sekaligus kaleidoskop 2017 untuk program yang telah terlaksana kurang lebih 40 edisi, sejak 5 Januari 2017. Narasumber Francina F. Kesaulija. M.En.Sc berdiskusi tentang Reboisasi di Papua Barat. Diskusi ini terjadi pada Kamis, 7 Desember 2017. Narasumber berasal dari Fakultas Kehutanan UNIPA. Kerusakan hutan tropis Indonesia meningkat dari tahun ke tahun akibat dari aktivitas penebangan, kebakaran, alih fungsi kawasan hutan, eksploitasi kawasan hutan yang berlebih dan lain-lain. Kerusakan hutan dan lahan yang berdampak pada penurunan daya resap air dan peningkatan limpasan air permukaan terus terjadi sehingga menimbulkan berbagai bencana banjir, tanah longsor dan kekeringan. Selain itu kerusakan kawasan hutan juga akan menurunkan keanekaragaman hayati dan berkontribusi kepada pemanasan global. Kerusakan hutan dan lahan disebabkan oleh berbagai aktivitas, karenanya pemulihan dan peningkatan fungsi hutan dan lahan kritis menjadi tanggung jawab semua pihak. Pemulihan dan peningkatan fungsi hutan dan lahan kritis harus segera dilakukan melalui kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan dengan mendayagunakan masyarakat. Kegiatan reboisasi merupakan kegiatan penanaman di dalam kawasan hutan, sedangkan kegiatan penghijauan merupakan kegiatan penanaman di luar kawasan hutan seperti hutan rakyat dan penghijauan lingkungan (pada areal umum, rumah ibadah, sekotah, dll) menjadi tiga kelompok besar yaitu binatang penggerek laut, serangga perusak kayu, dan cendawan perusak kayu. Terdapat 5 (lima) cara untuk mencegah kerusakan pada kayu, yaitu: (1) Memilih dan menggunakan jenis-jenis kayu kelas awet tinggi, sehingga tidak sering terjadi penggantian bahan bangunan akibatnya sumberdaya hutan dapat terpelihara kelestariannya, (2) Penggunaan bahan pengawet tertentu yang mampu menahan serangan perusak biologis, sehingga kayu dapat digunakan lebih lama, cara sederhana adalah dengan melindungi kayu dengan dicat, (3) Sanitasi ling- kungan (jenis-jenis rayap memerlukan syarat hidup tertentu, ada makanan, air (kelembaban tertentu), (4) Dengan menggunakan teknik biting, yaitu merangkap dengan menggunakan makanan kesukaannya sekaligus menjadi perangkap terhadap serangga tertentu, (5) Dengan menggunakan teknik mekanik tertentu, seperti disekitar rumah diberi batu kali atau kerikil berpasir, sehingga rayap akan terhambat dalam membuat terowongan/jalur untuk menuju kayu yang menjadi sasarannya.

Tim Abun Humas (desember)

Foto : Tim Abun Humas

Edisi terakhir di Tahun 2017, ditutup oleh narasumber Dr. Fitry Pakiding, sebagai Ketua Divisi Pembangunan Berkelanjutan, edisi ini mengulas terkait pelaksanaan Manokwari Menyapa selama tahun 2017. Telah terlaksana 41 edisi yang menghadirkan 50 pembicara yang berasal dari berbagai latar belakang keilmuan. Tentunya ini menjadi sumber informasi yang berharga bagi penduduk di Manokwari, mereka memperoleh informasi-informasi ilmiah yang dapat menjadi pengetahuan dalam pengelolaan ataupun pemanfaatan sumberdaya alam yang berada di sekitar mereka.

Cerita Siaran di Bulan Januari 2018

Program Manokwari Menyapa di Tahun 2018, mulai dengan Edisi Kamis, 18 Januari. Pada edisi ini, Manokwari Menyapa menghadirkan narasumber yang berasal dari Fakultas Pertanian, Dr. Ir. Saraswati Prabawardani, M.Sc. berbagi tentang Pemanfaatan Gedi sebagai tanaman sayuran daun bernutrisi tinggi. Tanaman gedi dimanfaatkan sebagai obat tradisional baik di Papua maupun di beberapa negara lain seperti China, India, Nepal. Kandungan senyawa metabolit sekunder antara lain flavonoid berfungsi penting untuk kesehatan, terutama dalam menurunkan risiko serangan penyakit kardiovaskuler, tekanan darah, aterosklerosis, dan sebagai antioksidan (Hodgson et al., 2006). Masyarakat lokal Papua memanfaatkan daun gedi sebagai obat tradisional, antara lain untuk sakit ginjal, maag, kolesterol tinggi serta memperlancar persalinan pada ibu hamil. Gedi digunakan sebagai pengobatan alternatif untuk menurunkan kadar kolesterol, hipertensi dan antidiabetes (Suoth, et al., 2013). Hasil analisis fitokimia pada daun gedi menunjukkan adanya senyawa steroid, terpenoid dan flavonoid berkaitan dengan fungsi analgesik atau mengatasi rasa sakit dan peradangan, aktivitas antioksidan untuk melawan radikal bebas (Todarwal, Jain dan Bari, 2011; Mandey et al., 2014). Kandungan total polifenol ekstrak gedi merah sangat tinggi yang dihitung berdasarkan kandungan total fenol (1003,5 mg/Kg), kandungan total flavonoid (722,5 mg/Kg) dan kandungan total tannin (1029 mg/Kg). Ekstrak gedi merah mengandung flavonoid golongan flavanon dan flavanonol (Suoth et al., 2013).

 

Setelah berbagi informasi terkait Gedi, Dr. Prabawardani menutup diskusi dengan beberapa saran yaitu: (1) Perlu kajian lebih komprehensif terhadap berbagai aspek yang berkaitan dengan keragaman, konservasi, teknik budidaya, nutrisi dan analisis senyawa antioksidan pada tanaman gedi, (2) Kelompok tanaman pangan lokal harus ditempatkan dalam posisi penting dalam kebijakan program pertanian, (3) Meningkatkan apresiasi tanaman pangan lokal dengan cara meningkatkan nilai tambah melalui teknologi pengolahannya. Edisi Kamis, 25 Januari 2018 Divisi Pembangunan Berkelanjutan, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UNIPA mengundang Dr. Yusuf Sawaki yang merupakan staf dosen di Fakultas Sastra dan Budaya UNIPA menjadi narasumber dalam Program Manokwari Menyapa yang diselenggarakan oleh Radio Republik Indonesia (RRI) dengan topik “Konservasi dan Dokumentasi Bahasa di Papua – Mengapa Penting?”. Di awal perbincangan, Dr. Yusuf Sawaki berbagi informasi bahwa isu-isu lingkungan alam dan kepunahan bahasa menjadi krusial kurang lebih 20 tahun terakhir ini di dalam politik global. Adalah satu kenyataan yang tidak dapat pungkiri bahwa banyak wilayah di bumi ini yang memiliki tingkat keragaman hayati (biodiversity) dan lingkungan alamnya dihuni oleh penduduk pribumi dan masyarakat lokal. Di Pulau New Guinea (Papua) – Provinsi Papua, Provinsi Papua Barat dan Negara Papua New Guinea yang memiliki kurang lebih 7 wilayah ekosistem, memiliki kurang lebih 1.500 kelompok bahasa (10% dari total 7000 bahasa di muka bumi ini). Papua dan Papua Barat sendiri memiliki kurang lebih 270 bahasa daerah. Perbincangan selanjutnya berlangsung menarik dan interaktif. Lebih lanjut Dr. Yusuf menyampaikan bahwa terkadang kita sebagai masyarakat mulai melupakan bahasa dan budaya yang sesungguhnya kedua unsur tersebut merupakan identitas atau jati diri dari masyarakat itu sendiri. Terkait hal tersebut, Dr.Yusuf juga menyampaikan bahwa dengan pembangunan yang terjadi saat ini akan dikenal istilah “lost generation” dimana bahasa atau budaya tersebut akan punah sehingga masyarakat akan lupa pada identitas mereka. Lebih lanjut Dr.Yusuf Sawaki mengatakan bahwa satu-satunya cara untuk menjaga atau merawat bahasa daerah adalah dengan terus memakai bahasa tersebut dalam keluarga atau rumah tangga. Menjaga dan melestarikan bahasa daerah ataupun mendokumentasikannya merupakan hal yang harus dilakukan bersama melalui kegiatan-kegiatan kotaboratif yang strategis untuk mengantisipasi hilangnya sistem pengetahuan lokal yang berisi tentang masyarakat pribumi dan pengetahuan tentang dunia mereka. Dalam perbincangan tersebut, Dr.Yusuf Sawaki menyampaikan juga bahwa beberapa faktor lain yang menjadi penyebab punah nya bahasa daerah di dalam masyarakat adalah migrasi yang terjadi di Papua dan penggunaan sistem EYD dalam bidang pendidikan. Terdapat satu orang penelepon yang memberikan pendapat atau pandangannya mengenai topik dalam edisi kali ini. Diskusi yang berlangsung selama 1 jam ini diakhiri dengan pesan terakhir dari Dr. Yusuf Sawaki yaitu mari melihat pembangunan di Papua Barat sebagai sebuah kesatuan mulai dari alam, manusia, bahasa dan budaya.

Cerita Siaran di Bulan Februari 2018

Program Manokwari Menyapa di awal bulan pada tanggal 1 Februari 2018 kembali mengudara dengan menyajikan edisi yang bertemakan mengenai “Lahan Basah”. Manokwari Menyapa edisi kali ini dibawakan oleh Dr. Syafrudin Raharjo yang berjudul “Peran dan Fungsi Lahan Basah dalam Mengawal Pembangunan Berkelanjutan (Kemampuan Lahan Basah Buatan da- lam Mengendalikan Pencemaran Perairan)”. Beliau merupakan staf pengajar dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan-UNIPA juga tergabung dalam anggota Perhimpunan Cendekiawan Lingkungan Indonesia (PERWAKU). Pada siaran kali ini Dr. Syafrudin Raharjo menjelaskan mengenai lahan basah beserta fungsi kepada pendengar. Lebih lanjut pada dialog ini beliau memberikan pemahaman kepada pendengar yang merupakan masyarakat kota Manokwari, “Lahan basah merupakan komponen penting beraneka ekosistem karena berfungsi untuk menyimpan air banjir, menyediakan habitat bagi satwa tertentu, tempat mencari makan satwa, tempat mengasuh anak satwa, tempat berkembangbiak satwa, perangkap sedimen, cadangan air dan yang tak kalah penting adalah mampu memperbaiki kualitas air”. Dr. Syafrudin juga menjelaskan bahwa aplikasi dari lahan basah buatan merupakan teknologi inovatif. Teknologi ini adalah ‘teknologi hijau’ dan ramah lingkungan dalam pengolahan air limbah serta merupakan metode daur ulang yang alami. Produk akhir memiliki beberapa penggunaan termasuk pakan hewan dan bahan untuk pertanian organik. Harapan beliau yaitu penerapan lahan basah seperti ini di Provinsi Papua Barat khususnya kota Manokwari dapat dilakukan sehingga menghasilkan dampak positif bagi ekosistem alam terutama masyarakat yang berdomisili disekitar lahan basah. Beliau juga meyakinkan bahwa lahan basah memiliki kemampuan penghilangan pencemar dan merupakan upaya mitigasi lingkungan yang mudah, murah dan efisien serta mampu menjaga kelang­sungan pembangunan yang berkelanjutan baik secara ekologi maupun ekonomi.

 

Diakhir dialog, Dr. Syafrudin menekankan kepada pendengar siaran Manokwari Menyapa penerapan teknologi ini mempunyai kelebihan, yakni merupakan teknologi hijau dan ramah lingkungan dalam pengolahan air limbah serta merupakan metode daur ulang yang alami. Disamping itu produk akhirnya dapat dimanfaatkan, misalnya sebagai pakan ternak dan bahan untuk pertanian organik (mulsa dan kompos). Program Manokwari Menyapa pada tanggal 8 Februari 2018 kembali mengudara dengan menyajikan edisi yang berjudul mengenai “Hasil Hutan Bukan Kayu, Bahan Baku Potensial yang Terlupakan”. Manokwari Menyapa edisi kali ini dibawakan oleh Narasumber yang merupakan staf Dosen pengajar dari Fakultas Kehutanan Dr. Cicilia Maria Erna Susanti, S.Hut, M.Si. Erna (Sapaan dari presenter RRI) juga adalah anggota masyarakat peneliti kayu Indonesia (MAPEKI) sehingga pada dialog interaktif kali ini memberikan banyak informasi kepada pendengar mengenai hasil hutan bukan kayu. Diawal dialog interaktif pada edisi kali ini, Erna menjelaskan mengenai Paradigma pengelolaan hutan telah bergeser dari hutan sebagai penghasil kayu menjadi hutan sebagai penghasil bahan-bahan non kayu yang biasa dikenal dengan HHBK (Hasil Hutan Bukan Kayu) atau Non Timber Forest Product (NTFPs). Menurutnya, HHBK penting untuk konservasi (karena proses untuk mengeluarkan HHBK dapat dilakukan dengan kerusakan minimal terhadap lingkungan hutan), kelestarian hutan (proses panennya dapat dilakukan secara lestari) dan ekonomi. Pada beberapa keadaan, pendapatan dari HHBK dapat lebih banyak jika dibandingkan pendapatan dari semua alternatif lainnya. Memanfaatkan HHBK dapat mengembangkan antara pengawetan dan pengembangan kawasan hutan, karena sumber penerimaan tunai masyarakat dari lahan hutan tidak bergantung pada kayu. Lebih spesifik lagi, Erna menjelaskan HHBK dalam kehidupan masyarakat Papua. Sebenarnya sejak jaman dulu sudah sangat bergantung pada HHBK. Bahan pangan, sandang, bangunan, obat-obatan, handycraft hingga keperluan untuk ritual masyarakat menggunakan HHBK. Sagu, umbi-umbian dari hutan, daun beberapa jenis tumbuhan (genemo dan paku-pakuan), rebung, pala, sukun, dsb digunakan sebagai bahan makanan. Salah satu hal yang paling penting dan tidak disadari oleh masyarakat Papua adalah tanpa disadari masyarakat Papua telah melakukan upaya “Konservasi”. Hal tersebut tercermin dengan cara mengenalkan jenis-jenis tumbuhan kepada generasi berikutnya, baik secara langsung maupun tidak langsung melalui ‘proses pembelajaran’ menurut tradisi masing-masing suku. Pembelajaran yang dilakukan antara lain dengan mendekatkan jenis-jenis tumbuhan yang digunakan dekat dengan tempat tinggal maupun tempat yang mudah diakses masyarakat (pekarangan, kebun dan jalan). Sebagai contoh: buah merah telah banyak ditumbuh kembangkan (budidaya) di pekarangan rumah, kebun, dan areal yang mudah diakses oleh masyarakat agar lebih memudahkan dalam pemanenan. Contoh lain adalah pohon masohi (Cryptocarya massoia) yang menghasilkan minyak masohi (masyarakat menjualnya dalam bentuk kulit masohi) telah mulai dibudidayakan oleh masyarakat.

 

Manokwari menyapa edisi 15 Februari 2018 menghadirkan narasumber Dr. Atdji Taberima dengan topik Tailling dan pengendapannya di wilayah Timika. Informasi yang dibagikan oleh salah satu dosen Fakultas Pertanian yang juga berperan sebagai seorang peneliti di PT Freeport Indonesia ini, menjadi warna yang baru dalam berita-berita di Manokwari Menyapa. Tailing merupakan sisa tambang yang dipisahkan dengan regent secara sentrifugasi, sehingga sisa hasil tambang ini dapat dikatakan cukup aman saat di buang. Hasil sisa tambang ini, kemudian akan di alirkan ke suatu kawasan tertentu yang cukup jauh dari pemukiman warga dan selanjutnya diendapkan. Hasil endapan tambang menyebabkan satu luasan tertentu tidak lagi terdapat ekosistem alami di dalamnya, sehingga Dr. Atdji Taberima dan rekan kerja lainnya yang bekerja di Environment PTFI berperan untuk mengusahakan kembali ekosistem yang telah hilang akibat proses penambangan, dapat dipulihkan dengan cara menanam sejumlah tanaman hutan dan pertanian. Beberapa tanaman hutan yang telah ditanam adalah Kasuarina yang saat ini memenuhi sepanjang jalan reklamasi. Selain itu tanaman pertanian yang turut dikembangkan oleh environment adalah tanaman musiman seperti cabe, terong, tomat, bayam, tanaman perkebunan seperti pisang, sawit, kelapa, padi, buah merah, matoa, buah naga, dll juga telah tumbuh subur di wilayah environment. Tidak hanya tanaman hutan dan pertanian, ekosistem perikanan pun dikembangkan di wilayah ini. Jenis ikan yang dikembangkan adalah ikan air tawar yang saat ini telah diekspor ke sejumlah wilayah di seputaran Timika bahkan ke luar Timika secara gratis sesuai dengan permintaan. Pemulihan membutuhkan waktu sehingga upaya ini telah berlangsung selama puluhan tahun namun memberikan sebuah dampak yang baik dengan telah menghijaunya sejumlah lahan serta dipenuhi dengan beberapa ekosistem hutan secara alami. Armand Edorway dalam interaksi secara langsung bersama narasumber dalam acara Manokwari menyapa ini menyampaikan pemikirannya bahwa perusahaan yang mengeksplor hasil tambang di Tanah Papua harus memperhatikan mekanisme pembuangan limbah, kerugian terhadap tanah adat masyarakat dan tentu saja perbaikan wilayah eksplorasi. Selanjutnya pernyataan hampir serupa ditambahkan oleh penelepon selanjutnya yaitu Andi yang menyatakan bahwa AMDAL dan komitmen kepada pemerintah terkait penelitian berkelanjutan perlu dilakukan agar pencemaran dapat dicegah sejak dini. Para penelepon juga mengkaitkan mengenai salah satu perusahaan semen yang berada di Wilayah Manokwari. Dr. Atdji Taberima dalam interaksi di Manokwari Menyapa menanggapi pernyataan dari beberapa orang penelepon. Beliau menegaskan bahwa pabrik semen yang berada di Wilayah Manokwari perlu memperhatikan AMDAL dan perlu memiliki environment yang nantinya akan bertugas untuk memperbaiki kerusakan dari kegiatan hasil tambang sehingga pasca penam-bangan, wilayah tersebut tidak menjadi seperti sebuah luka yang menganga. Pelestarian alam menjadi tugas dan tanggung jawab semua pihak dan menjadi salah satu hal yang perlu diutamakan dalam eksploitasi lahan tambang sehingga tidak berdampak bagi masyarakat yang hidup di masa sekarang maupun anak cucu yang akan lahir nantinya.

 

Program Manokwari Menyapa pada edisi Kamis, 22 Februari 2018 mengundang Prof. Dr. Ir. Budi Santoso M.P dari Fakultas Peternakan UNIPA untuk berbagi informasi tentang “Pengembangan Sapi Potong di Papua Barat : Potensi, Peluang, dan Tantangan”. Memulai perbincangan, Prof. Budi menjelaskan bahwa pembangunan peternakan terutama pengembangan sapi potong perlu dilakukan melalui pendekatan usaha yang berkelanjutan, modern, dan profesional dengan memanfaatkan inovasi teknologi untuk meningkatkan efisiensi usaha. Selain itu, pengembangan usaha sapi potong hendaknya didukung oleh industri pakan dengan mengoptimalkan pemanfaatan bahan pakan spesifik lokasi melalui pola yang terintegrasi. Untuk memenuhi kecukupan pangan, terutama protein hewani, pengembangan peternakan yang terintegrasi merupakan salah satu pilar pembangunan sosial ekonomi. Namun menurut Prof. Budi dalam kenyataannya masyarakat Indonesia sendiri masih kurang dalam mengkonsumsi protein hewani. Salah satu faktornya adalah pendapatan masyarakat itu sendiri. Menutup rangkaian perbincangan, Prof. Budi menyampaikan bahwa untuk membuat pembangunan peternakan khususnya pengembangan sapi potong yang berkelanjutan perlu adanya usaha dari pemerintah untuk melakukan pemetaan atau penetapan satu kawasan yang terfokus pada bidang peternakan.

Tetha Grant Mahasiswa

Sosialisasi Creusa “Tetha” Hitipeuw Grant bagi Penelitian Mahasiswa Tugas Akhir Universitas Papua, Manokwari

Pengelolaan Sumberdaya yang optimal umumnya dimulai dengan sistem perencanaan pengelolaan yang strategis. Proses perencanaan pengelolaan yang strategis ini dimungkinkan bila informasi pendukung yang dimiliki akurat dan dapat diandalkan. Namun, ketersediaan informasi yang mendalam mengenai berbagai sumberdaya alam di wilayah perairan Papua belum banyak tersedia. Untuk itu, diperlukan upaya untuk mengisi kekosongan informasi dengan melakukan penelitian ilmiah diberbagai sektor. Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat melalui Divisi Pembangunan berkelanjutan bekerjasama dengan dukungan dari Conservation International Indonesia (CII) menyalurkan grant penelitian untuk mahasiswa tingkat akhir melalui sosialisasi. Sosialisasi ini bertujuan untuk memberikan informasi kepada mahasiswa tugas akhir terkait pendanaan Creusa “Tetha”Hitipeuw Grant. Pada Angkatan I (Tahun 2015) terdapat 6 mahasiswa tingkat akhir yang berhasil memperoleh grant.

Grant bagi Mahasiswa Tingkat Akhir di UNIPA, Masihkah Dibutuhkan? – Sosialisasi Tetha Grant (2016)

Maret 2016, Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) melakukan sosialisasi Tetha Grant dana bantuan yang diperuntukan bagi mahasiswa tingkat akhir yang melakukan penelitian dengan tema Konservasi di Bentang Laut Kepala Burung (BLKB). Grant ini disalurkan oleh Conservation Internasional Indonesia (CII) melalui Divisi Pembangunan Berkelanjutan Center of Excellence (CoE). Grant ini disediakan dalam upaya memperkaya informasi ilmiah, khususnya dalam mendukung upaya konservasi sumberdaya alam di BLKB dan diberikan untuk mengenang karya seorang penggiat konservasi Creusa Tetha Hitipeuw yang banyak di lakukan di BLKB. Pada Tetha Grant angkatan kedua, CoE menjadwalkan untuk melakukan sosialisasi ditiga fakultas target yaitu Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK), dan Fakultas Kehutanan (FAHUTAN). Dari ketiga fakultas yang dijadwalkan, satu diantaranya tidak terlaksana karena padatnya aktivitas di fakultas tersebut. Sosialisasi yang dilakukan didua fakultas lainnya, kurang mendapat respon dari para mahasiswanya. Jumlah mahasiswa yang hadir pada dua kali sosialisasi yang dilakukan hanya delapan orang. Jumlah ini jauh dari yang diharapkan. Padahal tujuan sosialisasi adalah memberikan informasi dan kesempatan untuk berdiskusi terkait Tetha Grant. Sosialisasi yang telah dilakukan diharapkan dapat memberikan informasi yang dibutuhkan oleh para mahasiswa tingkat akhir. Pendaftaran proposal Tetha Grant akan dilakukan hingga minggu ketiga April. Meski jumlah mahasiswa tingkat akhir yang mengikuti sosialisasi tidak sebanyak yang diharapkan, CoE optimis untuk Tetha Grant angkatan kedua ini masih memiliki peminat yang tinggi.

Creusa Tetha Hitipeuw Grant, Dana Bantuan Penelitian bagi Mahasiswa Tingkat Akhir di Universitas Papua (2016)

Dalam usaha memperkaya informasi ilmiah, khususnya dalam mendukung upaya konservasi sumberdaya alam di wilayah Bentang Laut Kepala Burung (BLKB), Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, LPPM UNIPA dengan dukungan dari Conservation International Indonesia (CII) menyalurkan bantuan penelitian untuk mahasiswa tingkat akhir di lingkungan UNIPA. Grant penelitian ini diberikan untuk mengenang karya penggiat konservasi Creusa ‘Tetha” Hitipeuw yang banyak dilakukan di wilayah Bentang Laut Kepala Burung. Grant tersebut disalurkan melalui Divisi Center of Excellence (CoE) salah satu Divisi LPPM UNIPA. Terna grant yang diangkat pada tahun 2016 adalah Membangun Papua Berbasis Konservasi Sumberdaya Alam. Tahun 2016 merupakan tahun Angkatan ke-II Tetha Grant, tidak seperti pada angkatan ke-1 yang mendapat banyak pendaftar, angkatan ke-II lebih sedikit pendaftarnya. Jumlah peserta yang mendaftar sebanyak tiga orang, dua diantaranya dinyatakan lolos tahap seleksi dan mendapatkan grant. Dua mahasiswa tingkat akhir tersebut berasal dari Fakultas Teknologi Hasil Pertanian (Ramadhan Tri Atmaja) dan Fakultas Peternakan (lkram Karim). Kedua Mahasiswa ini memiliki judul penelitian dibidang konservasi. Ramadhan mendapat grant sebesar Rp 7.065.000 dengan judul penelitian Kajian Keanekaragaman Konsumsi Pangan di Wilayah Pesisir Kepala Burung Papua Barat, sedangkan lkram mendapat grant sebesar Rp 6.250.000 dengan judul Penelitian Status Konservasi Sarang Megapoda Arfak (Aepypodius arfakianus) sebagai Pendukung Budidaya Satwa di Kampung Sigim (agar Alam Pegunungan Arfak. Sebagai bentuk tanggungjawab, kedua penerima grant mempresentasikan hasil penelitian kepada reviewer, pihak Divisi CoE, dan LPPM. Selain, kedua peserta angkatan ke-11, terdapat satu peserta penerima grant pada angkatan ke-1, yang juga mempresentasikan hasil penelitian yaitu Marsia A. R. Rumatray Fakultas Kehutanan, dengan judul penelitian Pemanfaatan Tumbuhan Sarang Semut Family Rubiaceae di Kampung Sajabu dan Kampung Wailen Distrik Salawati Tengah Kabupaten Raja Ampat Provinsi Papua Barat. Marsia memperoleh grant sebesar Rp 5.300.000 untuk melakukan penelitian tersebut. Grant Tetha membiayai kegiatan penelitian hingga penyusunan dan distribusi skripsi untuk ketiga penerima grant

Camera 360
P_20160829_112959

Foto : Tim Abun Humas