{"id":1395,"date":"2016-07-01T09:17:33","date_gmt":"2016-07-01T02:17:33","guid":{"rendered":"https:\/\/dpb-lppm-unipa.com\/?p=1395"},"modified":"2024-07-25T12:45:16","modified_gmt":"2024-07-25T05:45:16","slug":"monitoring-terumbu-karang-di-kkpd-kawe-selat-dampier-teluk-mayalibit-dan-di-luar-kkpd-raja-ampat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/science4conservation.com\/en\/monitoring-terumbu-karang-di-kkpd-kawe-selat-dampier-teluk-mayalibit-dan-di-luar-kkpd-raja-ampat\/","title":{"rendered":"Monitoring Terumbu Karang di KKPD Kawe, Selat Dampier, Teluk Mayalibit  dan di Luar KKPD Raja Ampat"},"content":{"rendered":"<section class=\"wpb-content-wrapper\"><div class=\"vc_row wpb_row vc_row-fluid vc_custom_1634272700944\"><div class=\"wpb_column vc_column_container vc_col-sm-12\"><div class=\"vc_column-inner\"><div class=\"wpb_wrapper\"><div class=\"vc_row wpb_row vc_inner vc_row-fluid vc_custom_1634272790781\"><div class=\"wpb_column vc_column_container vc_col-sm-12\"><div class=\"vc_column-inner\"><div class=\"wpb_wrapper\">\n\t<div class=\"wpb_text_column wpb_content_element\" >\n\t\t<div class=\"wpb_wrapper\">\n\t\t\t<p style=\"text-align: justify; font-size: 16px; font-family: 'Bahnschrift Light';\">Kawasan Konservasi Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (KKP3K) Raja Am pat dibentuk berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Raja Ampat No. 27 Tahun 2008 tentang Kawasan Konservasi Laut Daerah Kabu paten Raja Am pat dan dijabarkan melalui Peraturan Bupati Raja Ampat No. 5 Tahun 2009 tentang Kawasan Konservasi Laut Daerah Kabupaten Raja Ampat. Dalam peraturan 1n1 disebutkan kawasan konservasi tersebut meliputi Kepulauan Ayau-Asia, Kawe, Selat Dampier, Teluk Mayalibit, Kepulauan Kofiau-Boo dan Misool Timur Selatan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify; font-size: 16px; font-family: 'Bahnschrift Light';\">Raja Am pat menjadi rumah bagi 69,21 % spesies karang dunia, dimana ditemukan 553 jenis karang (Veron et al., 2009) dan dua diantaranya merupakan jenis endemik Raja Ampat dari keluarga Acroporidae yaitu Montipora delacatula dan Montipora verruculosus (DeVantier et al., 2009). Sela in itu ditemukan setidaknya 41 jenis dari 90 genus karang lunak Alcyonacean dari 14 Fam iii (Donnelly et al., 2002). Di wilayah ini juga ditemukan 699 jenis moluska dan menjadi rumah bagi 5 jenis penyu (McKenna et al., 2002), setidaknya 1.505 jenis ikan karang (Allen dan Erdmann, 2012; update Erdmann, 2013) dan rumah bagi 15 jenis mamalia laut yang terdiri dari 14 jenis cetacean (13 jenis paus dan lumba-lumba) dan 1 jenis duyung (Dugong dugon) (Kahn, 2007). Salah satu pemicu keanekaragaman yang luar biasa ini adalah tingginya keragaman habitat mulai dari lamun, mangove, terumbu karang di perairan dangkal (termasuk terumbu karang tepi, penghalang, patch dan atoll) hingga celah dalam antar pulau-pulau kecil utama. Dengan tingkat keragaman hayati yang begitu tinggi, para ilmuwan menyebut Kepulauan Raja Ampat yang terletak di wilayah bentang laut kepala bu rung (Bird&#8217;s Head Seascape) ini sebagai jantung Segitiga Ka rang Dunia.<\/p>\n\n\t\t<\/div>\n\t<\/div>\n\n\t<div class=\"wpb_text_column wpb_content_element  vc_custom_1561462871854\" >\n\t\t<div class=\"wpb_wrapper\">\n\t\t\t\n\t\t<\/div>\n\t<\/div>\n<\/div><\/div><\/div><\/div><div class=\"vc_row wpb_row vc_inner vc_row-fluid vc_custom_1634272831778\"><div class=\"wpb_column vc_column_container vc_col-sm-6\"><div class=\"vc_column-inner\"><div class=\"wpb_wrapper\">\n\t<div  class=\"wpb_single_image wpb_content_element vc_align_center\">\n\t\t\n\t\t<figure class=\"wpb_wrapper vc_figure\">\n\t\t\t<div class=\"vc_single_image-wrapper   vc_box_border_grey\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"vc_single_image-img\" src=\"https:\/\/science4conservation.com\/wp-content\/uploads\/2019\/07\/5-500x300.jpg\" width=\"500\" height=\"300\" alt=\"Monitoring Terumbu Karang di KKPD Kawe, Selat Dampier, Teluk Mayalibit  dan di Luar KKPD Raja Ampat\" title=\"Monitoring Terumbu Karang di KKPD Kawe, Selat Dampier, Teluk Mayalibit  dan di Luar KKPD Raja Ampat\" \/><\/div>\n\t\t<\/figure>\n\t<\/div>\n\n\t<div class=\"wpb_text_column wpb_content_element\" >\n\t\t<div class=\"wpb_wrapper\">\n\t\t\t<p style=\"text-align: center; font-size: 16px; font-family: 'Bahnschrift Light';\">Foto : Tim BHS Monitoring Ekologi Unipa<\/p>\n\n\t\t<\/div>\n\t<\/div>\n<\/div><\/div><\/div><div class=\"wpb_column vc_column_container vc_col-sm-6\"><div class=\"vc_column-inner\"><div class=\"wpb_wrapper\">\n\t<div class=\"wpb_text_column wpb_content_element\" >\n\t\t<div class=\"wpb_wrapper\">\n\t\t\t<p style=\"text-align: justify; font-size: 16px; font-family: 'Bahnschrift Light';\">Serangkaian kegiatan monitoring ekosistem terumbu karang telah dilaksanakan sejak tahun 2009 di Kabupaten Raja Ampat kemudian dilakukan setiap 2-4 tahun sekali. Monitoring ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengumpulkan data ilmiah dalam rangka mengevaluasi keberhasilan program pengelolaan Kawasan Konservasi perairan Daerah di Raja Ampat. Maret 2016, UNIPA melalui Divisi Center of Excellence (CoE) bekerjasama dengan beberapa Lembaga Sosial Masyarakat di wilayah bentang laut kepala burung (CI, TNC dan WWF-ID) melakukan monitoring bersama di beberapa Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKPD) Raja Ampat yang meliputi KKPD Kawe, Selat Dampier, Teluk Mayalibit dan di Luar KKPD Raja Ampat untuk mengetahui pola perubahan dari kondisi ekosistem terumbu karang di dalam dan di luar Kawasan Konservasi, potensi invertebrata ekonomis penting (biota sasi) dan kondisi oseanografi fisik perairan.<\/p>\n\n\t\t<\/div>\n\t<\/div>\n<\/div><\/div><\/div><\/div>\n\t<div class=\"wpb_text_column wpb_content_element  vc_custom_1637907741170\" >\n\t\t<div class=\"wpb_wrapper\">\n\t\t\t<p style=\"text-align: justify; font-size: 16px; font-family: 'Bahnschrift Light';\">Selain itu, kegiatan ini juqa menjadi sarana peningkatan pengetahuan serta pemahaman bagi para pemangku kepentingan tentang kondisi lingkungan ekosistem terumbu karang dan pentingnya melaksanakan monitoring lingkungan secara berkala. Pada kesempatan ini, perwakilan dari beberapa intansi terkait meliputi UPTD BLUD Raja Ampat, KSDA Raja Am pat dan KKPN Raja Ampat terlibat dalam kegiatan monitoring ini. Metode pengambilan data menggunakan Reef Health Monitoring Protocol (Green and Wilson, 2009) dengan melakukan penyelaman di 93 titik pengamatan yang tersebar dalam wilayah KKPD Kawe, Selat Dampier, Teluk Mayalibit dan di Luar KKPD Raja Ampat. Beberapa kebutuhan data yang diamati meliputi substrat dasar terumbu karang, komunitas ikan karang, biota sasi dan data oseanografi serta deskripsi lingkungan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify; font-size: 16px; font-family: 'Bahnschrift Light';\">Hasil kegiatan monitoring ini akan di disseminasikan melalui lokakarya ke seluruh stakeholders terkait. Disseminasi ini utamanya dilakukan ke pemerintah daerah melalui instansi terkait dan Lembaga Sosial Masyarakt (LSM) di bidang konservasi yang merupakan stakholders primer. Hal ini dilakukan untuk memberikan gambaran umum tentang status dan kondisi terkini potensi sumberdaya yang terdapat di wilayah bentang laut kepala burung. Selain sebagai sarana untuk berkoordinasi dengan instansi dan lembaga penyedia data dan informasi, wadah ini juga dapat dijadikan sebagai sarana untuk mengevaluasi dan mensinergikan program-program yang akan dilaksanakan, utamanya kegiatan monitoring kondisi ekologi terumbu karang dan ekosistem lainnya serta kondisi sosial masyarakat di wilayah cakupan pengelolaan kawasan konservasi perairan bentang laut kepala burung.<\/p>\n\n\t\t<\/div>\n\t<\/div>\n<\/div><\/div><\/div><\/div><div class=\"vc_row wpb_row vc_row-fluid vc_custom_1637907066171\"><div class=\"wpb_column vc_column_container vc_col-sm-12\"><div class=\"vc_column-inner\"><div class=\"wpb_wrapper\"><div class=\"vc_row wpb_row vc_inner vc_row-fluid vc_custom_1637907084215\"><div class=\"wpb_column vc_column_container vc_col-sm-3\"><div class=\"vc_column-inner\"><div class=\"wpb_wrapper\">\n\t<div class=\"wpb_text_column wpb_content_element\" >\n\t\t<div class=\"wpb_wrapper\">\n\t\t\t<p style=\"font-size: 30px; font-family: 'Goudy Old Style'; text-align: left;\"><strong>Berita Lainnya<\/strong><\/p>\n\n\t\t<\/div>\n\t<\/div>\n<\/div><\/div><\/div><div class=\"wpb_column vc_column_container vc_col-sm-9\"><div class=\"vc_column-inner\"><div class=\"wpb_wrapper\"><div class=\"vc_separator wpb_content_element vc_separator_align_center vc_sep_width_100 vc_sep_pos_align_center vc_separator_no_text vc_sep_color_#000000\" ><span class=\"vc_sep_holder vc_sep_holder_l\"><span class=\"vc_sep_line\"><\/span><\/span><span class=\"vc_sep_holder vc_sep_holder_r\"><span class=\"vc_sep_line\"><\/span><\/span>\n<\/div><\/div><\/div><\/div><\/div><div class=\"vc_row wpb_row vc_inner vc_row-fluid vc_custom_1637907376858\"><div class=\"wpb_column vc_column_container vc_col-sm-4\"><div class=\"vc_column-inner\"><div class=\"wpb_wrapper\">\n\t<div  class=\"wpb_single_image wpb_content_element vc_align_center\">\n\t\t\n\t\t<figure class=\"wpb_wrapper vc_figure\">\n\t\t\t<div class=\"vc_single_image-wrapper   vc_box_border_grey\"><img decoding=\"async\" class=\"vc_single_image-img\" src=\"https:\/\/science4conservation.com\/wp-content\/uploads\/2016\/10\/no-image-found-360x250-1-360x210.png\" width=\"360\" height=\"210\" alt=\"no-image-found-360x250\" title=\"no-image-found-360x250\" \/><\/div>\n\t\t<\/figure>\n\t<\/div>\n<div class=\"vc_empty_space\"   style=\"height: 5px\"><span class=\"vc_empty_space_inner\"><\/span><\/div>\n\t<div class=\"wpb_text_column wpb_content_element\" >\n\t\t<div class=\"wpb_wrapper\">\n\t\t\t<p style=\"font-size: 16px; font-family: 'Bahnschrift Light'; text-align: left;\"><a class=\"_self\" href=\"https:\/\/science4conservation.com\/monitoring-terumbu-karang-di-kawasan-konservasi-perairan-daerah-kkpd-ayau-asia-raja-ampat\/\" target=\"_self\" rel=\"noopener\">Monitoring Terumbu Karang di Kawasan Konservasi Perairan Daerah (KKPD) Ayau-Asia, Raja Ampat<\/a><\/p>\n\n\t\t<\/div>\n\t<\/div>\n<div class=\"vc_empty_space\"   style=\"height: 20px\"><span class=\"vc_empty_space_inner\"><\/span><\/div>\n\t<div class=\"wpb_text_column wpb_content_element\" >\n\t\t<div class=\"wpb_wrapper\">\n\t\t\t<p style=\"font-size: 10px; font-family: 'Bahnschrift Light'; text-align: left;\"><span style=\"color: #999999;\">\u2013 Juli 1, 2019<\/span><\/p>\n\n\t\t<\/div>\n\t<\/div>\n<\/div><\/div><\/div><div class=\"wpb_column vc_column_container vc_col-sm-4\"><div class=\"vc_column-inner\"><div class=\"wpb_wrapper\">\n\t<div  class=\"wpb_single_image wpb_content_element vc_align_center\">\n\t\t\n\t\t<figure class=\"wpb_wrapper vc_figure\">\n\t\t\t<div class=\"vc_single_image-wrapper   vc_box_border_grey\"><img decoding=\"async\" class=\"vc_single_image-img\" src=\"https:\/\/science4conservation.com\/wp-content\/uploads\/2016\/10\/no-image-found-360x250-1-360x210.png\" width=\"360\" height=\"210\" alt=\"no-image-found-360x250\" title=\"no-image-found-360x250\" \/><\/div>\n\t\t<\/figure>\n\t<\/div>\n<div class=\"vc_empty_space\"   style=\"height: 5px\"><span class=\"vc_empty_space_inner\"><\/span><\/div>\n\t<div class=\"wpb_text_column wpb_content_element\" >\n\t\t<div class=\"wpb_wrapper\">\n\t\t\t<p style=\"font-size: 16px; font-family: 'Bahnschrift Light'; text-align: left;\"><a class=\"_self\" href=\"https:\/\/science4conservation.com\/pemantauan-kesehatan-terumbu-karang-di-dalam-dan-luar-kawasan-taman-nasional-teluk-cendrawasih\/\" target=\"_self\" rel=\"noopener\">Pemantauan Kesehatan Terumbu Karang di Dalam dan Luar Kawasan Taman Nasional Teluk Cendrawasih<\/a><\/p>\n\n\t\t<\/div>\n\t<\/div>\n<div class=\"vc_empty_space\"   style=\"height: 20px\"><span class=\"vc_empty_space_inner\"><\/span><\/div>\n\t<div class=\"wpb_text_column wpb_content_element\" >\n\t\t<div class=\"wpb_wrapper\">\n\t\t\t<p style=\"font-size: 10px; font-family: 'Bahnschrift Light'; text-align: left;\"><span style=\"color: #999999;\">\u2013 Juli 1, 2019<\/span><\/p>\n\n\t\t<\/div>\n\t<\/div>\n<\/div><\/div><\/div><div class=\"wpb_column vc_column_container vc_col-sm-4\"><div class=\"vc_column-inner\"><div class=\"wpb_wrapper\">\n\t<div  class=\"wpb_single_image wpb_content_element vc_align_center\">\n\t\t\n\t\t<figure class=\"wpb_wrapper vc_figure\">\n\t\t\t<div class=\"vc_single_image-wrapper   vc_box_border_grey\"><img decoding=\"async\" class=\"vc_single_image-img\" src=\"https:\/\/science4conservation.com\/wp-content\/uploads\/2021\/08\/4-500x290.png\" width=\"500\" height=\"290\" alt=\"Perjalanan 18 Hari Mengelilingi Kawasan Konservasi Perairan di Raja Ampat\" title=\"Perjalanan 18 Hari Mengelilingi Kawasan Konservasi Perairan di Raja Ampat\" \/><\/div>\n\t\t<\/figure>\n\t<\/div>\n<div class=\"vc_empty_space\"   style=\"height: 5px\"><span class=\"vc_empty_space_inner\"><\/span><\/div>\n\t<div class=\"wpb_text_column wpb_content_element\" >\n\t\t<div class=\"wpb_wrapper\">\n\t\t\t<p style=\"font-size: 16px; font-family: 'Bahnschrift Light'; text-align: left;\"><a class=\"_self\" href=\"https:\/\/science4conservation.com\/perjalanan-18-hari-mengelilingi-kawasan-konservasi-perairan-di-raja-ampat\/\" target=\"_self\" rel=\"noopener\">Perjalanan 18 Hari Mengelilingi Kawasan Konservasi Perairan di Raja Ampat<\/a><\/p>\n\n\t\t<\/div>\n\t<\/div>\n<div class=\"vc_empty_space\"   style=\"height: 20px\"><span class=\"vc_empty_space_inner\"><\/span><\/div><div class=\"vc_empty_space\"   style=\"height: 20px\"><span class=\"vc_empty_space_inner\"><\/span><\/div>\n\t<div class=\"wpb_text_column wpb_content_element\" >\n\t\t<div class=\"wpb_wrapper\">\n\t\t\t<p style=\"font-size: 10px; font-family: 'Bahnschrift Light'; text-align: left;\"><span style=\"color: #999999;\">\u2013 Agustus 21, 2021<\/span><\/p>\n\n\t\t<\/div>\n\t<\/div>\n<\/div><\/div><\/div><\/div><\/div><\/div><\/div><\/div>\n<\/section>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"Kawasan Konservasi Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (KKP3K) Raja Am pat dibentuk berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Raja Ampat No. 27 Tahun 2008 tentang Kawasan Konservasi Laut Daerah Kabu paten Raja Am pat dan dijabarkan melalui Peraturan Bupati Raja Ampat No. 5 Tahun 2009 tentang Kawasan Konservasi Laut Daerah Kabupaten Raja Ampat. Dalam peraturan 1n1 disebutkan kawasan [...]","protected":false},"author":2,"featured_media":1396,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_themeisle_gutenberg_block_has_review":false,"footnotes":""},"categories":[70],"tags":[],"class_list":["post-1395","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-monitoring-ekologi-reef-health-monitoring"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/science4conservation.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1395","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/science4conservation.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/science4conservation.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/science4conservation.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/science4conservation.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1395"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/science4conservation.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1395\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":5852,"href":"https:\/\/science4conservation.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1395\/revisions\/5852"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/science4conservation.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1396"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/science4conservation.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1395"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/science4conservation.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1395"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/science4conservation.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1395"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}