{"id":1329,"date":"2017-06-01T04:28:32","date_gmt":"2017-05-31T21:28:32","guid":{"rendered":"https:\/\/dpb-lppm-unipa.com\/?p=1329"},"modified":"2024-04-16T10:22:04","modified_gmt":"2024-04-16T03:22:04","slug":"lokakarya-penilaian-efektivitas-pengelolaan-kawasan-konservasi-perairan-di-bentang-laut-kepala-burung-papua","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/science4conservation.com\/en\/lokakarya-penilaian-efektivitas-pengelolaan-kawasan-konservasi-perairan-di-bentang-laut-kepala-burung-papua\/","title":{"rendered":"Lokakarya Penilaian Efektivitas Pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan di Bentang Laut Kepala Burung Papua"},"content":{"rendered":"<section class=\"wpb-content-wrapper\"><div class=\"vc_row wpb_row vc_row-fluid vc_custom_1634535793814\"><div class=\"wpb_column vc_column_container vc_col-sm-12\"><div class=\"vc_column-inner\"><div class=\"wpb_wrapper\"><div class=\"vc_row wpb_row vc_inner vc_row-fluid vc_custom_1634535824013\"><div class=\"wpb_column vc_column_container vc_col-sm-12\"><div class=\"vc_column-inner\"><div class=\"wpb_wrapper\">\n\t<div class=\"wpb_text_column wpb_content_element\" >\n\t\t<div class=\"wpb_wrapper\">\n\t\t\t<p style=\"text-align: justify; font-size: 16px; font-family: 'Bahnschrift Light';\">Bentang Laut Kepala Burung (BLKB) diidentifikasi sebagai kawasan yang memiliki keanekaragamanhayati laut yang sangat tinggi dan menjadi prioritas pengembangan Kawasan Konservasi Perairan (KKP) di Indonesia dan dunia. Saat ini BLKB telah memiliki lebih dari 12 KKP dengan total luas lebih dari 3,5 juta hektar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify; font-size: 16px; font-family: 'Bahnschrift Light';\">Pembentukan KKP bertujuan untuk melindungi kelestarian keanekaragaman hayati sehingga memberikan manfaat secara berkelanjutan bagi masyarakat. Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan suatu penilaian terhadap keefektifan pengelolaan kawasan konservasi yang dilakukan secara terus-menerus. Khusus untuk penilaian efektifitas pengelolaan KKP, Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut (KKHL) Kementerian Kelautan dan Perikanan telah mengembangkan perangkat yang disebut Pedoman Teknis EvaluasiEfektivitas Pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (EKKP3K) yang telah resmi digunakan dengan SK Dirjen KP3K No. 44\/2012.<\/p>\n\n\t\t<\/div>\n\t<\/div>\n\n\t<div class=\"wpb_text_column wpb_content_element  vc_custom_1561462871854\" >\n\t\t<div class=\"wpb_wrapper\">\n\t\t\t\n\t\t<\/div>\n\t<\/div>\n<\/div><\/div><\/div><\/div><div class=\"vc_row wpb_row vc_inner vc_row-fluid vc_custom_1634535926558\"><div class=\"wpb_column vc_column_container vc_col-sm-6\"><div class=\"vc_column-inner\"><div class=\"wpb_wrapper\">\n\t<div  class=\"wpb_single_image wpb_content_element vc_align_center\">\n\t\t\n\t\t<figure class=\"wpb_wrapper vc_figure\">\n\t\t\t<div class=\"vc_single_image-wrapper   vc_box_border_grey\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"vc_single_image-img\" src=\"https:\/\/science4conservation.com\/wp-content\/uploads\/2019\/07\/foto-bersama-500x300.jpg\" width=\"500\" height=\"300\" alt=\"foto bersama\" title=\"foto bersama\" \/><\/div>\n\t\t<\/figure>\n\t<\/div>\n\n\t<div class=\"wpb_text_column wpb_content_element\" >\n\t\t<div class=\"wpb_wrapper\">\n\t\t\t<p style=\"text-align: center; font-size: 16px; font-family: 'Bahnschrift Light';\">Foto : Tim BHS Monitoring Sosial Unipa<\/p>\n\n\t\t<\/div>\n\t<\/div>\n<\/div><\/div><\/div><div class=\"wpb_column vc_column_container vc_col-sm-6\"><div class=\"vc_column-inner\"><div class=\"wpb_wrapper\">\n\t<div class=\"wpb_text_column wpb_content_element\" >\n\t\t<div class=\"wpb_wrapper\">\n\t\t\t<p style=\"text-align: justify; font-size: 16px; font-family: 'Bahnschrift Light';\">Selama ini pengelolaKKP di BLKB cukup beragam, Taman Nasional Teluk Cenderawasih (TNTC) dikelola oleh Balai Besar Taman Nasional di bawah Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup, kawasan Perairan Nasional Raja Am pat dikelola oleh Satuan Kerja di bawah KementerianKelautan dan Perikanan, Jejaring Taman PulauKecilRaja Ampat dikelola olehUnit Pelaksana Teknis Dinas di bawah Dinas Kelautan dan Perikanan KabupatenRajaAmpat, sedangkan KKP di Kabupaten Kaimana dan Tambrauw dikelola oleh masing-masing pemerintah kabupaten. Dengan ditetapkannya UU No 23 Tahun 2014, kewenangan pengelolaan wilayah laut selanjutnya akan berpindah ke tingkat provinsi Papua Barat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify; font-size: 16px; font-family: 'Bahnschrift Light';\">Sepertipada tahun-tahunsebelumnya,di Tahun 2017 ini,Direktorat KKHL Kementerian Kelautan dan Perikanan RI, Dinas Kelautan dan perikananProvinsi Papua Barat, Universitas Papua, The Nature Conservancy, ConservationI nternational dan WWF Indonesia menyelenggarakan Lokakarya.<\/p>\n\n\t\t<\/div>\n\t<\/div>\n<\/div><\/div><\/div><\/div>\n\t<div class=\"wpb_text_column wpb_content_element  vc_custom_1637816738525\" >\n\t\t<div class=\"wpb_wrapper\">\n\t\t\t<p style=\"text-align: justify; font-size: 16px; font-family: 'Bahnschrift Light';\">Penilaian EKKP3K dengan tujuan untuk melakukan evaluasi pengelolaanKKP di seluruh BLKB Papua. Kegiatanyang dilaksanakandi UniversitasPapua pada Tanggal 2 hingga 4 Mei 2017 ini diikuti oleh 32 peserta dengan 3 narasumber, yaitu Ervien Juliyanto, S.Pi (Staf Direktorat KKHL Kementerian Kelautan dan Perikanan RI), Sutraman dan Dheny Setyawan (TNC Program Kelautan Indonesia) dengan luaran lokakarya adalah dokumen status pengelolaan masing-masing kawasan konservasi perairan di BLKB Tahun 2017 dan rekomendasi keberlanjutan pengelolaan KKP di BLKB .<\/p>\n<p style=\"text-align: justify; font-size: 16px; font-family: 'Bahnschrift Light';\">Hasil penilaian peringkat efektivitas pengelolaan masing-masing KKP di BLKB menunjukkan bahwa terjadi peningkatan peringkat di hampir semua KKP, kecuali KKPD Raja Ampat yang masih sama dengan penilaian pada Tahun 2016. Status pengelolaan yang sudah mapan dan tidak terlalu mengalami peningkatan yang signifikan adalah KKP Raja Ampat dan TNTC. Kedua KKP ini telah masuk ke level &#8220;KKP dikeIola optimum&#8221;. Pada lokakarya tahun ini juga dilakukan penilaian terhadap KKP Kepulauan Fam yang masih dalam tahap inisiasi pembentukan. Rekomendasi yang dihasilkan, yaitu beberapa langkah teknis yang perlu dilakukan oleh masing-masing KKP untuk menaikan peringkat pengelolaan pada tahun berikutnya,hal-halpenting yang diperlukan selama proses penyerahan personel, pembiayaan dan perlengkapan (P3D) dari kabupaten ke provinsi, serta perlu diperhatikan acuan UU No 23 dalam proses pencadangan KKP yang belum ditetapkan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan RI.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify; font-size: 16px; font-family: 'Bahnschrift Light';\">Lokakaryaini juga diselingi dengan presentasi dan update survei dan rencana pengelolaan danau air asin di Raja Ampat serta presentasi dan sosialisasi tentang Fakultas Perikanan dan llmu\u00a0 Kelautan UNIPA.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify; font-size: 16px; font-family: 'Bahnschrift Light';\">(Oleh: Purwanto, Awaludinnoer, Nur Ismu Hidayat, Dheny Setyawan, Sutraman, Rahel Randa dan Dariani Matualage)<\/p>\n\n\t\t<\/div>\n\t<\/div>\n<\/div><\/div><\/div><\/div><div class=\"vc_row wpb_row vc_row-fluid vc_custom_1637816285950\"><div class=\"wpb_column vc_column_container vc_col-sm-12\"><div class=\"vc_column-inner\"><div class=\"wpb_wrapper\"><div class=\"vc_row wpb_row vc_inner vc_row-fluid vc_custom_1637816317161\"><div class=\"wpb_column vc_column_container vc_col-sm-3\"><div class=\"vc_column-inner\"><div class=\"wpb_wrapper\">\n\t<div class=\"wpb_text_column wpb_content_element\" >\n\t\t<div class=\"wpb_wrapper\">\n\t\t\t<p style=\"font-size: 30px; font-family: 'Goudy Old Style'; text-align: left;\"><strong>Berita Lainnya<\/strong><\/p>\n\n\t\t<\/div>\n\t<\/div>\n<\/div><\/div><\/div><div class=\"wpb_column vc_column_container vc_col-sm-9\"><div class=\"vc_column-inner\"><div class=\"wpb_wrapper\"><div class=\"vc_separator wpb_content_element vc_separator_align_center vc_sep_width_100 vc_sep_pos_align_center vc_separator_no_text vc_sep_color_#000000\" ><span class=\"vc_sep_holder vc_sep_holder_l\"><span class=\"vc_sep_line\"><\/span><\/span><span class=\"vc_sep_holder vc_sep_holder_r\"><span class=\"vc_sep_line\"><\/span><\/span>\n<\/div><\/div><\/div><\/div><\/div><div class=\"vc_row wpb_row vc_inner vc_row-fluid\"><div class=\"wpb_column vc_column_container vc_col-sm-4\"><div class=\"vc_column-inner\"><div class=\"wpb_wrapper\">\n\t<div  class=\"wpb_single_image wpb_content_element vc_align_left\">\n\t\t\n\t\t<figure class=\"wpb_wrapper vc_figure\">\n\t\t\t<div class=\"vc_single_image-wrapper   vc_box_border_grey\"><img decoding=\"async\" class=\"vc_single_image-img\" src=\"https:\/\/science4conservation.com\/wp-content\/uploads\/2019\/06\/WB-Scorecard-KKPD-Ayau-500x287.jpg\" width=\"500\" height=\"287\" alt=\"WB Scorecard KKPD Ayau\" title=\"WB Scorecard KKPD Ayau\" \/><\/div>\n\t\t<\/figure>\n\t<\/div>\n<div class=\"vc_empty_space\"   style=\"height: 5px\"><span class=\"vc_empty_space_inner\"><\/span><\/div>\n\t<div class=\"wpb_text_column wpb_content_element\" >\n\t\t<div class=\"wpb_wrapper\">\n\t\t\t<p style=\"font-size: 16px; font-family: 'Bahnschrift Light'; text-align: left;\"><a class=\"_self\" href=\"https:\/\/science4conservation.com\/penilaian-efektivitas-pengelolaan-kawasan-konservasi-perairan-di-bentang-laut-kepala-burung-papua-barat-dengan-world-bank-scorecard\/\" target=\"_self\" rel=\"noopener\">Penilaian Efektivitas Pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan di Bentang Laut Kepala Burung Papua Barat dengan World Bank Scorecard<\/a><\/p>\n\n\t\t<\/div>\n\t<\/div>\n<div class=\"vc_empty_space\"   style=\"height: 20px\"><span class=\"vc_empty_space_inner\"><\/span><\/div>\n\t<div class=\"wpb_text_column wpb_content_element\" >\n\t\t<div class=\"wpb_wrapper\">\n\t\t\t<p style=\"font-size: 10px; font-family: 'Bahnschrift Light'; text-align: left;\"><span style=\"color: #999999;\">Dariani Matualage, Purwanto, Irman Rumengan, Habema F. Monim &#8211; Februari 25, 2020<\/span><\/p>\n\n\t\t<\/div>\n\t<\/div>\n<\/div><\/div><\/div><div class=\"wpb_column vc_column_container vc_col-sm-4\"><div class=\"vc_column-inner\"><div class=\"wpb_wrapper\">\n\t<div  class=\"wpb_single_image wpb_content_element vc_align_left\">\n\t\t\n\t\t<figure class=\"wpb_wrapper vc_figure\">\n\t\t\t<div class=\"vc_single_image-wrapper   vc_box_border_grey\"><img decoding=\"async\" class=\"vc_single_image-img\" src=\"https:\/\/science4conservation.com\/wp-content\/uploads\/2016\/10\/no-image-found-360x250-1-360x210.png\" width=\"360\" height=\"210\" alt=\"no-image-found-360x250\" title=\"no-image-found-360x250\" \/><\/div>\n\t\t<\/figure>\n\t<\/div>\n<div class=\"vc_empty_space\"   style=\"height: 5px\"><span class=\"vc_empty_space_inner\"><\/span><\/div>\n\t<div class=\"wpb_text_column wpb_content_element\" >\n\t\t<div class=\"wpb_wrapper\">\n\t\t\t<p style=\"font-size: 16px; font-family: 'Bahnschrift Light'; text-align: left;\"><a class=\"_self\" href=\"https:\/\/science4conservation.com\/lokakarya-penilaian-efektivitas-pengelolaan-kawasan-konservasi-perairan-di-blkb-dengan-menggunakan-perangkat-e-kkp3k\/\" target=\"_self\" rel=\"noopener\">Lokakarya Penilaian Efektivitas Pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan di BLKB dengan Menggunakan Perangkat E-KKP3K<\/a><\/p>\n\n\t\t<\/div>\n\t<\/div>\n<div class=\"vc_empty_space\"   style=\"height: 20px\"><span class=\"vc_empty_space_inner\"><\/span><\/div><div class=\"vc_empty_space\"   style=\"height: 20px\"><span class=\"vc_empty_space_inner\"><\/span><\/div>\n\t<div class=\"wpb_text_column wpb_content_element\" >\n\t\t<div class=\"wpb_wrapper\">\n\t\t\t<p style=\"font-size: 10px; font-family: 'Bahnschrift Light'; text-align: left;\"><span style=\"color: #999999;\">&#8211; Juli 1, 2019<\/span><\/p>\n\n\t\t<\/div>\n\t<\/div>\n<\/div><\/div><\/div><div class=\"wpb_column vc_column_container vc_col-sm-4\"><div class=\"vc_column-inner\"><div class=\"wpb_wrapper\">\n\t<div  class=\"wpb_single_image wpb_content_element vc_align_left\">\n\t\t\n\t\t<figure class=\"wpb_wrapper vc_figure\">\n\t\t\t<div class=\"vc_single_image-wrapper   vc_box_border_grey\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"vc_single_image-img\" src=\"https:\/\/science4conservation.com\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/Foto-Bersama-Saat-Pembukaan-Lokakarya-500x290.jpg\" width=\"500\" height=\"290\" alt=\"Foto Bersama Saat Pembukaan Lokakarya\" title=\"Foto Bersama Saat Pembukaan Lokakarya\" \/><\/div>\n\t\t<\/figure>\n\t<\/div>\n<div class=\"vc_empty_space\"   style=\"height: 5px\"><span class=\"vc_empty_space_inner\"><\/span><\/div>\n\t<div class=\"wpb_text_column wpb_content_element\" >\n\t\t<div class=\"wpb_wrapper\">\n\t\t\t<p style=\"font-size: 16px; font-family: 'Bahnschrift Light'; text-align: left;\"><a class=\"_self\" href=\"https:\/\/science4conservation.com\/lokakarya-penilaian-efektivitas-pengelolaan-kawasan-konservasi-perairan-pesisir-dan-pulau-pulau-kecil-e-kkp3k-di-wilayah-perairan-bentang-laut-kepala-burung\/\" target=\"_self\" rel=\"noopener\">Lokakarya Penilaian Efektivitas Pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (e-KKP3K) di Wilayah Perairan Bentang Laut Kepala Burung<\/a><\/p>\n\n\t\t<\/div>\n\t<\/div>\n<div class=\"vc_empty_space\"   style=\"height: 20px\"><span class=\"vc_empty_space_inner\"><\/span><\/div>\n\t<div class=\"wpb_text_column wpb_content_element\" >\n\t\t<div class=\"wpb_wrapper\">\n\t\t\t<p style=\"font-size: 10px; font-family: 'Bahnschrift Light'; text-align: left;\"><span style=\"color: #999999;\">Irman Rumengan, Dariani Matualage, Habema Fanri Monim, Purwanto &#8211; Februari 25, 2019<\/span><\/p>\n\n\t\t<\/div>\n\t<\/div>\n<\/div><\/div><\/div><\/div><\/div><\/div><\/div><\/div>\n<\/section>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"Bentang Laut Kepala Burung (BLKB) diidentifikasi sebagai kawasan yang memiliki keanekaragamanhayati laut yang sangat tinggi dan menjadi prioritas pengembangan Kawasan Konservasi Perairan (KKP) di Indonesia dan dunia. Saat ini BLKB telah memiliki lebih dari 12 KKP dengan total luas lebih dari 3,5 juta hektar. Pembentukan KKP bertujuan untuk melindungi kelestarian keanekaragaman hayati sehingga memberikan manfaat [...]","protected":false},"author":2,"featured_media":1330,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_themeisle_gutenberg_block_has_review":false,"footnotes":""},"categories":[72,68],"tags":[],"class_list":["post-1329","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-monitoring-ekologi-ekkp3k","category-monitoring-sosial-ekkp3k"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/science4conservation.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1329","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/science4conservation.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/science4conservation.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/science4conservation.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/science4conservation.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1329"}],"version-history":[{"count":9,"href":"https:\/\/science4conservation.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1329\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":5811,"href":"https:\/\/science4conservation.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1329\/revisions\/5811"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/science4conservation.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1330"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/science4conservation.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1329"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/science4conservation.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1329"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/science4conservation.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1329"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}