Monitoring Sosial di BLKB Papua

Kawasan Konservasi Perairan (KKP) merupakan komponen integral dari strategi lokal, nasional, dan internasional untuk pengelolaan perikanan dan konservasi keanekaragaman hayati. Meskipun manfaat ekologis KKP telah dipelajari dengan baik dan diterima secara umum, kontribusi KKP untuk pengentasan kemiskinan dan pembangunan berkelanjutan tetap menjadi fokus perdebatan kebijakan yang sangat kontroversial. Para pendukung KKP berpendapat bahwa penetapan KKP adalah strategi yang baik untuk konservasi dan pengentasan kemiskinan, sementara pihak lain berpendapat bahwa KKP menempatkan kesejahteraan biota laut di atas kesejahteraan masyarakat di Kawasan Konservasi tersebut.

Untuk “memecahkan misteri kinerja KKP”, Dr. Michael Mascia dan Dr. Helen Fox dari World Wildlife Fund Amerika Serikat (WWF) mengusulkan gagasan mengenai monitoring dampak sosial masyarakat di KKP di Papua, khususnya di wilayah Bentang Laut Kepala Burung Papua. Pilot survey (monitoring sosial pertama) dilakukan pada tahun 2010 di Teluk Mayalibit dan Taman Nasional Teluk Cenderawasih. Pemahaman akan hubungan antara KKP dan kondisi sosial masyarakat sangat penting, karena masyarakat dan pemerintah sebagai pengambil keputusan dapat membangun suatu tatakelola untuk mencapai hasil kebijakan yang diinginkan.

Panduan Survei Lapangan dan Publikasi Hasil Kegiatan Monitoring Survei Sosial di BLKB

Kumpulan Publikasi dan Jurnal Ilmiah Hasil Kegiatan Pemantauan Penyu dan Perlindungan Sarang

Lokasi
0
Penetasan Sarang
0
Jumlah Sarang
0
Estimasi Tukik
0

*Berdasarkan Data Tahun 2024

Podcast - Potret Sosial Ekonomi Masyarakat

Pelestarian penyu belimbing di Taman Pesisir Jeen Womom yang kini semakin terancam oleh krisis iklim—yang mengacaukan rasio kelamin tukik—serta pencemaran sampah plastik di lautan. Lewat pemaparan Ibu Deasy Lontoh, tergambar jelas dedikasi kolaboratif antara tim UNIPA dan masyarakat adat setempat yang tak kenal lelah memagari dan merelokasi ribuan sarang dari predator maupun abrasi sebagai benteng pertahanan utama satwa purba ini. Karena ekosistem laut saling terhubung, perjuangan di garis pantai ini menuntut kontribusi nyata dari generasi muda di mana pun mereka berada, mulai dari langkah harian menghentikan penggunaan plastik sekali pakai hingga memanfaatkan kekuatan media sosial sebagai ruang kampanye virtual untuk memperluas kesadaran konservasi.

Peta Lokasi

Tim Pemantauan Penyu dan Perlindungan Sarang LPPM UNIPA bekerja di pantai Jeen Yessa dan Jeen Syuab. Pantai Jeen Yessa memiliki panjang 18 km dan terbagi menjadi tiga pantai: Wembrak, Batu Rumah, dan Warmamedi. Warna pasir di pantai Jeen Yessa bervariasi dari putih di Warmamedi hingga kehitaman di Wembrak. 

Ancaman utama bagi sarang penyu di pantai Jeen Yessa meliputi: predasi oleh babi, anjing dan biawak, suhu pasir tinggi, erosi pantai, dan sarang yang tergenang air pasang. Pantai Jeen Syuab terletak 30 km di sebelah timur Pantai Jeen Yessa dengan panjang 6 km. Pasirnya berwarna kehitaman. Ancaman utama bagi sarang penyu di pantai Jeen Syuab adalah: invasi akar Ipomoea sp. pada musim peneluran April – September dan erosi karena ombak pada musim peneluran Oktober-Maret.

Aktivitas

Jeen Yessa-Batu Rumah (Foto dari Jhon Mau)

Perlindungan Sarang Penyu & Pemantauan Aktivitas Peneluran

Pemulihan populasi penyu belimbing bertumpu pada produksi tukik yang cukup dari pantai peneluran dan tingkat mortalitas di laut. Oleh sebab itu tim pemantauan penyu dan perlindungan sarang LPPM UNIPA bersama anggota masyarakat lokal berupaya keras untuk meningkatkan jumlah tukik yang dihasilkan dengan melindungi sarang.
Pemantauan aktivitas peneluran yang dilakukan secara rutin agar tersedia data-data yang dapat digunakan untuk menyusun strategi-strategi yang mendukung pemulihan populasi penyu belimbing di wilayah ini.

Penelitian yang Menunjang Upaya Konservasi

Kajian ilmiah terus mendasari kegiatan pemantauan penyu dan perlindungan sarang di Taman Pesisir Jeen Womom. Tim pantai UNIPA melaksanakan tiga penelitian pada tahun 2022: (1) Penelitian tingkat predasi sarang di pantai Jeen Yessa sebelum dan sesudah sasi dibuka (2) Penelitian efektifitas perlindungan sarang menggunakan naungan cocomesh (anyaman serabut kelapa) (3) Pemantauan suhu pasir pada kedalaman sarang di pantai Jeen Yessa dan Jeen Syuab.

Pemasangan Logger Suhu
Anggota Tim Warmamedi belajar membaca jejak Penyu Belimbing (Foto : S4C_LPPM UNIPA)

Pelatihan atau Peningkatan Kapasitas

Untuk menjamin setiap aktivitas pemantauan penyu dan perlindungan sarang dilaksanakan dengan baik, setiap tenaga patroli dari masyarakat lokal atau penggiat konservasi penyu perlu dilatih. Peningkatan kapasitas masyarakat lokal sebagai tenaga patroli merupakan bagian penting dari program kami.